SKETSA | Orang Gila

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

MENURUT almarhum ayah saya, “semua orang itu gila, kecuali kita”. Bapak saya memang aneh, karena kalau semua orang gila, maka kita semua harusnya ikut gila. Termasuk saya dan dia. Jadi yang dikategorikan orang gila bagi ayah saya adalah di antaranya, orang berkata ‘ya’ dalam mulut tapi sebenarnya ‘tidak’ dalam hatinya, alias pendusta atau bermuka dua. Orang yang membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, orang yang bermental pengecut, tidak jantan dan tidak berani mengakui kesalahan, bahkan berusaha menghindar dari penyelidikan aparat hukum sehingga mencoba untuk kabur, orang yang gila tahta sehingga melakukan korupsi, berlaku zalim atau sewenang-wenang kepada orang lain, gila wanita sehingga berzina dianggap biasa, seks bebas, mabuk-mabukan, mengedarkan dan menghisap narkoba seakan-akan dianggap lumrah, menghina dan mencela orang lain dianggap menjadi ‘tontonan’ yang menghibur, melakukan kata-kata kasar dan tidak sopan seperti sudah menjadi ‘makanan’ sehari-hari, orang sombong dengan kekuasaan dan harta yang melimpah sehingga merendahkan orang lain, orang yang tergila-gila dengan agama, orang yang suka menyiksa binatang, zaman dulu Habibie dijuluki sebagai kegilaan pesawat, sekarang ada tokoh masyarakat yang suka memperlihatkan segala rupa acessories emas, cincin di sekujur jari, jam tangan emas, gelang emas, kalung emas untuk dipertontonkan ke khalayak dalam penampilannya di televisi, itu juga termasuk orang gila, menurut ayah saya, dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. Ayah saya juga mempunyai kegilaan tersendiri, yaitu gila catur. Jadi ia suka menilai orang berdasarkan kepandaiannya main catur. Lucu ya.

Dengan berkembangnya ilmu kesehatan, sekarang orang tidak boleh lagi menyebut orang lain sebagai gila, karena gila bukanlah penyakit. Sebagai gantinya sekarang disebut sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). ODGJ dibagi dua, yaitu gangguan mental emosional. Dan gangguan jiwa berat, yang konotasinya sama seperti Skizofrenia. Sampai sekarang, tidak sedikit orang yang menyebut ‘orang gila’ terhadap seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental. Padahal yang patut disebut adalah ukuran bagaimana mewujudkan keluarga yang sehat jiwa. Deddy Corbuzier pernah meminta maaf setelah ditegur karena salah menyebut orang gila (seharusnya ODGJ) dalam salah satu acaranya. Menurut Robin Nixon, dalam sebuah tulisannya, “Why We Are All Insane”, ODGJ menimpa 25 persen orang dewasa Amerika, menurut angka resmi. Tapi kenyataannya, kita semua – menurut Robin – ada sedikit ODGJ. Kita sendiri tanpa disadari suka memeriksa berulang-ulang apakah pintu sudah dikunci atau belum, sebentar-sebentar meraba kantong celana apakah dompet masih ada, atau sebentar-sebentar mengecek handphone, takut-takut ada miscall atau ditanyai oleh istri atau atasan, sedang berada di mana. Itu namanya Obsesif Kompulsif. Walau kadarnya sedikit, ternyata ada jejak ODGJ dalam diri kita.

Baca Juga :  MAUNG BANDUNG: 4 Gol Warnai Game Internal dan Teja Paku Alam Patah Tulang Hidung
Gambar 1 – Situasi Rumah Sakit Jiwa abad 18 yang dilukis William Hogarth (sumber: Getty Images).

Aristoteles mengatakan, “Tidak ada pikiran hebat yang pernah ada tanpa sentuhan kegilaan.” Sebagian manusia itu memiliki bakat ‘gila’ karena ada 4% gen Neanderthal (masalah ini saya pernah bahas panjang lebar dalam tulisan sebelumnya berjudul “Neanderthal”). Kalau tidak ada gen itu, mana mungkin Einstein punya pikiran bahwa jalur cahaya bisa bengkok karena gravitasi, Colombus berani mengarungi laut karena ia yakin bumi itu bulat sehingga benua Amerika ditemukan, bagaimana Stephen Hawking bisa berpikir alam semesta ini tercipta waktu terjadi ledakan besar atau big bang.

Menurut David C. Geary, dalam bukunya “The Origin of Mind”, orang menjadi gila karena tuntutan evolusi juga yang menginginkan menusia tidak biasa-biasa saja dalam upaya berkompetisi saat mencari nafkah. Dengan bertambahnya umur bumi, manusia menjadi semakin banyak sehingga persediaan makanan berkurang. Seleksi alam ingin sebagian dari kita menjadi gila. Kegilaan yang membuat lemah sebenarnya bukanlah niat alam, banyak masalah kesehatan mental mungkin merupakan produk sampingan dari otak manusia yang terlalu berfungsi. Ketika manusia meningkatkan teknik pengumpulan, perburuan, dan memasak mereka, ukuran populasi meningkat dan sumber daya menjadi lebih terbatas (sebagian karena kita berburu atau memakan beberapa spesies binatang hingga punah). Akibatnya, tidak semua orang bisa mendapatkan cukup makanan.

Karenanya, hubungan kooperatif sangat penting untuk memastikan akses ke makanan, baik melalui pertanian atau perburuan yang lebih strategis. Bagi mereka yang memiliki keterampilan sosial yang tumpul tidak mungkin bertahan. Dan dengan demikian, keragaman kemampuan mental baru, sekaligus kecacatan, terbentang. Tampaknya manusia modern seharusnya berevolusi menjadi bahagia dan harmonis. Tapi alam lebih peduli dengan keunggulan gen, bukan kebahagiaan, kata Geary. Akibatnya penyakit mental diidap oleh satu dari setiap empat orang dewasa di Amerika, menurut National Institute of Mental Health.

Baca Juga :  Soal Buka Masker, Ini Tanggapan Wali Kota Bandung

Untuk menjelaskan kerentanan kita terhadap kesehatan mental yang buruk, Randolph Nesse dalam “The Handbook of Evolutionary Psychology” membandingkan otak manusia dengan kuda pacuan: sama seperti pembiakan kuda memilih kaki kurus panjang yang meningkatkan kecepatan tetapi rentan patah. Kemajuan kognitif juga meningkatkan kebugaran dalam berkompetisi — sampai batas tertentu. Namun, mari kita lihat kondisi mental pada umumnya satu per satu. Orang dengan kepribadian agresif dan narsistik adalah yang paling mudah dikenali dan dipahami secara evolusioner, hal itu terjadi karena mereka ingin menjadi yang nomor satu.

Bahkan ada 16 juta pria saat ini yang gennya terlacak sampai ke Jenghis Khan. Hal ini menunjukkan definisi alam tentang kesuksesan yang luar biasa dapat diukur melalui ayah yang produktif. Sangat sedikit penguasa lalim yang potensial dapat mencapai ketinggian seperti Jenghis Khan. Untuk mengatasi dorongan-dorongan yang mementingkan diri sendiri, sebagai cara yang lebih memungkinkan untuk sukses secara biologis, manusia memunculkan pelumas sosial seperti empati. Berbarengan dengan itu – rasa bersalah dan kecemasan ringan muncul. Manusia unggul yang diinginkan alam, adalah manusia yang kuat seperti Jengis Khan tetapi mempunyai rasa empati kepada manusia lainnya.

Nenek moyang kita yang dapat berempati untuk pertama kali dan mampu membaca ekspresi wajah akan memiliki keunggulan yang mencolok untuk bertahan hidup. Mereka dapat mengkonfirmasi status sosial mereka sendiri dan meyakinkan orang lain untuk berbagi makanan dan tempat tinggal. Tetapi terlalu besar memiliki ketajaman emosional – ketika individu menganalisis secara berlebihan setiap seringai – dapat menyebabkan kegugupan. Motivasi untuk mempunyai nilai sosial pada seseorang dapat berubah menjadi kecemasan yang tanpa henti. Sama halnya dengan kasus kuda pacuan tadi, kaki kurus panjang yang dapat berlari cepat ternyata mudah patah.

Baca Juga :  DMI akan Gandeng Kemenag untuk Atur Pengeras Suara Masjid

Kecemasan akan masa depan

Inovasi kognitif memungkinkan manusia untuk membayangkan masa depan yang potensial. Kalau hewan hanya berfokus pada masa kini, sementara manusia bisa duduk dan khawatir tentang apa yang akan terjadi tiga tahun dari sekarang jika mereka melakukan ini atau itu. Kemampuan kita untuk memikirkan hal-hal berulang-ulang, dapat menjadi kontraproduktif dan mengarah pada kecenderungan obsesif. Jenis depresi tertentu, bagaimanapun, lanjut Geary, mungkin menguntungkan. Kelesuan dan kondisi mental yang terganggu dapat membantu kita melepaskan diri dari tujuan yang tidak dapat dicapai — apakah itu cinta yang tak terbalas atau posisi sosial yang ditinggikan. Evolusi cenderung menyukai individu yang berhenti sejenak dan menilai kembali ambisi, daripada membuang-buang energi untuk optimis secara membabi buta.

Seleksi alam juga memungkinkan orang mengalami gangguan seperti kurangnya (defisit) perhatian. Banyak pria yang segera meninggalkan keadaan yang kurang menarik, karena berstimulus rendah, dan merasa lebih bermanfaat berburu ke tempat lain yang lebih banyak benefitnya. Hal ini menjelaskan mengapa anak laki-laki lima kali lebih mungkin menjadi hiperaktif daripada anak perempuan. Demikian pula, ODGJ dalam bentuknya yang paling ringan, yaitu gangguan bipolar, sebenarnya dapat meningkatkan produktivitas dan kreativitas. Individu bipolar, menurut Geary, seringkali melakukan hubungan seks lebih banyak daripada orang biasa. Karena seks, dan kelangsungan hidup anak-anak, merupakan inti dalam bertahan melawan seleksi alam. Terkadang kondisi mental yang tidak menyenangkan mengarah pada keberhasilan reproduksi yang lebih besar, begitu kata Geary. Setelah berpanjang lebar membahas ODGJ, kok rasa-rasanya kita semua familiar dengan itu ya. Berarti benar bapak saya dong, bahwa kita semua sebenarnya telah mengidap ODGJ.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Pemerintah Izinkan Mudik, Ini Imbauan MUI Jawa Barat kepada Masyarakat

Ming Apr 24 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | KOTA BANDUNG – Pemerintah sudah mengizinkan warga masyarakat untuk melakukan mudik. Namun, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat mengimbau warga masyarakat agar berhati-hati dengan tetap menjaga protokol kesehatan sehingga tak terjadi wabah baru. “Umumnya penyebaran wabah baru atau varian baru karena adanya pergerakan massa dan kerumunan yang […]