SKETSA | Peaky Blinders

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

PERNAH pada suatu waktu saya bermusuhan dengan seseorang yang pangkatnya lebih tinggi dari saya. Penyebabnya begini, orang itu minta suatu fasilitas untuk sepupunya, tanpa melalui jalur yang benar, loncat prosedur. Dan walau bukan atasan saya langsung ia meminta dengan mengancam. Sehingga keinginannya itu saya tolak. Kami bermusuhan cukup lama, mungkin lebih dari 2 tahun. Sampai suatu hari ia diangkat menjadi ketua panitia golf yang bertema rekonsiliasi semua unsur di perusahaan. Maklum, ketika itu perusahaan kami baru melakukan merger dari 3 perusahaan menjadi 1. Istilah kerennya “merger vertikal ke atas”. Saya didaftarkan menjadi anggota panitia. Untuk itu saya diundang hadir pada rapat 9 September 2004, pukul 10.00, ke kantor Pusat yang letaknya di tengah kota.

Mulanya saya agak malas-malasan hadir ke rapat itu. Justru begitu saya tiba di kantor – Plaza Kuningan, tidak langsung bekerja, malah leyeh-leyeh di ruang tamu bersama 3 rekan saya lainnya. Saat jam 9 tiba, salah satu rekan saya mohon pamit karena harus meresmikan pembukaan galeri baru di Kelapa Gading (sebetulnya ini salah informasi, seharusnya besok, tetapi karena sekretarisnya eror maka teman saya diminta berangkat pagi itu). Akhirnya saya juga beranjak pergi ke kantor Pusat untuk rapat golf. Yah, anggap saja kehadiran dalam panitia menjadi jalan rekonsiliasi dengan si petinggi itu. Sementara 2 teman saya yang lain juga ikut-ikut ke luar kantor, entah pergi ke mana.

Ketika saya tiba di kantor Pusat, panitia golf justru sibuk menonton TV, ada ledakan bom di Kedutaan Australia. Kedutaan itu persis di sebelah kantor saya. Dan kamar saya di Plaza Kuningan bersebelahan dengan Kedutaan. Sehingga dari jendela saya bisa melongok Kedutaan secara langsung, yang jaraknya hanya 10 meter. Memang ledakan itu luar biasa besar, kamar saya sampai geroak temboknya, ceilling runtuh, lemari dan meja hancur, laptop saya belah dua. Bayangkan kalau saya ada di situ, kemungkinan besar tidak akan dapat menulis artikel ini sekarang. Begitu tahu saya selamat, teman-teman langsung mendesak saya untuk pergi Haji, berterima kasih kepada Tuhan, telah terselamatkan nyawa dari bencana teroris. Padahal waktu itu hari Raya Idul Adha kurang dari 2 bulan lagi, entah bagaimana, dengan bantuan teman-teman, saya akhirnya dapat ke Mekah dengan istri.

Baca Juga :  PRAKIRAAN CUACA: Kota/Kab. Bandung Hari Ini & Nomor-nomor Telepon Penting

Katanya orang yang sudah selamat dari kematian yang hampir menghampirinya, biasanya lebih bijaksana dalam hidup. Seperti Tommy Shelby pada serial TV Peaky Blinders. Peaky Blinders adalah serial televisi drama kriminal Inggris yang dibuat oleh Steven Knight. Bertempat di Birmingham, Inggris, film ini mengeksploitasi cerita geng kejahatan Peaky Blinders setelah Perang Dunia Pertama. Walau geng ini fiksi tetapi ceritanya terinspirasi pada geng pemuda perkotaan dengan nama sama yang aktif di kota itu dari tahun 1880-an hingga 1910-an. Tommy Shelby dibintangi oleh Cillian Murphy. Film ini ditayangkan pertama kali pada 12 September 2013, disiarkan di BBC Two hingga seri keempat, kemudian pindah ke BBC One untuk seri kelima dan keenam. Kemudian Netflix memperoleh hak untuk merilis film ini di Amerika Serikat dan selanjutnya beredar ke seluruh dunia. Pada Januari 2021, diumumkan bahwa seri keenam Peaky Blinders akan menjadi yang terakhir dan akan disiarkan pada tahun 2022.

Gambar  – Tommy Shelby bersama gengnya dalam Peaky Blinders (sumber: ledefigabon).

Peaky Blinders adalah epik yang berpusat pada keluarga kriminal Katolik Irlandia berbasis di Birmingham, Inggris. Dimulai pada tahun 1919, beberapa bulan setelah berakhirnya Perang Dunia Pertama pada November 1918. Cerita berpusat pada geng jalanan Peaky Blinders dan bos kejahatan mereka yang ambisius dan licik, Tommy Shelby (Cillian Murphy). Geng itu menjadi perhatian Mayor Chester Campbell (Sam Neill), seorang kepala detektif inspektur di Royal Irish Constabulary yang dikirim oleh Winston Churchill dari Belfast. Untuk membersihkan kota dari Tentara Republik Irlandia, Partai Komunis Inggris Raya, geng jalanan, dan penjahat biasa. Winston Churchill diperankan oleh Andy Nyman di seri 1 dan Richard McCabe di seri 2. Seri pertama berakhir pada 3 Desember 1919, ketika Peaky Blinders berencana untuk mengambil alih lapak taruhan Billy Kimber di Worcester Races.

Baca Juga :  Video Detik-detik Tewasnya George Floyd oleh Perwira Polisi Minneapolis AS

Seri kedua bercerita soal Peaky Blinders memperluas organisasi kriminal mereka di Selatan dan Utara sambil mempertahankan benteng kriminalnya di jantung kota Birmingham. Seri ketiga dimulai dan berakhir pada tahun 1924. Ketika Tommy dan gengnya memasuki dunia yang lebih berbahaya saat mereka sedang berkembang, kali ini aksi kriminalnya meluas secara internasional. Seri ketiga menampilkan Pastor John Hughes (Paddy Considine), yang terlibat dalam organisasi anti komunis, dan Ruben Oliver (Alexander Siddig) seorang pelukis.

Seri keempat dimulai pada penghujung 1925, dan berakhir setelah pemogokan umum Mei 1926, di mana Tommy menggunakan Jessie Eden dan terpilih sebagai Anggota Parlemen pada tahun 1927. Seri kelima dimulai dua tahun kemudian pada 29 Oktober 1929 dan berakhir pada 7 Desember 1929 pagi hari, setelah diadakan rapat umum yang dipimpin oleh pemimpin Persatuan Fasis Inggris Sir Oswald Mosley. Seri keenam dimulai pada 5 Desember 1933, ketika Partai Nazi telah memperoleh kekuasaan di Jerman, yang mengarah pada pertumbuhan keanggotaan Persatuan Fasis Inggris.

Apa yang membuat Tommy Shelby tidak takut mati, sebenarnya ada ceritanya. Sebelum ia menjadi gangster, Tommy adalah seorang tentara pada Perang Dunia I. Tugas Tommy dan kelompoknya dalam perang adalah untuk menggali gorong-gorong ke jantung pertahanan musuh. Begitu gorong-gorong sampai pada markas musuh maka ia akan memasang bahan peledak di bawah tanah. Sehingga markas pertahanan musuh hancur lebur. Perjuangannya itu mendapat penghargaan karena ia menjalankan tugasnya dengan baik. Banyak tentara terselamatkan karena upayanya menggangsir pertahanan lawan.

Sekali waktu induk pasukan Tommy diperintahkan mundur sementara ia bersama timnya masih tertinggal di gorong-gorong tanpa disadari pasukannya. Ketika ia muncul ke permukaan, pasukannya sudah kosong sehingga mereka pasrah dengan nasib untuk dieksekusi musuh. Dalam menjelang kematian, tanpa peluru yang tersisa, sambil menunggu ajal, kalau musuh mengeksekusi dirinya, mereka akhirnya bernyanyi “In the Bleak Midwinter” (di musim dingin yang suram) dengan bersembunyi di bawah tanah. Ternyata karena suatu keajaiban, tentara musuh tidak datang ke lokasi, sehingga ia bisa selamat pulang ke negaranya. Sejak saat itu Tommy selalu beranggapan bahwa ia seharusnya sudah mati di medan perang.

Baca Juga :  Wali Kota Oded M Danial Ajak Waga Kota Bandung Berkurban

Fakta bahwa setiap detik ia masih hidup sebenarnya hanya bonus umur dari Tuhan. Itulah yang membuatnya sangat berani, tak pernah gentar menghadapi intimidasi dan ancaman dari musuh. Kembali ke urusan saya yang selamat dari serangan bom ke Kedutaan Australia, hal itu membuat saya berani hidup (bukan berani mati) dan mempergunakan waktu yang diberikan Tuhan ini sebaik-baiknya. Untuk membuat sesuatu yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Untungnya saya tidak menjadi gangster seperti Tommy Shelby.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Solusi Huawei Intelligent Net-Zero Carbon Campus Raih "WSIS Prize 2022 Champion"

Sab Jun 4 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JENEWA – Dalam sesi Penyerahan Penghargaan di ajang World Summit on the Information Society (WSIS) 2022 Forum yang berlangsung di Jenewa, kemarin, Huawei sukses menjadi Pemenang. WSIS 2022 Prizes Champion diraih Huawei atas solusi intelligent net-zero carbon campus yang digunakan di proyek Yancheng Low-carbon & Smart Energy […]