SKETSA | Piringan Hitam

Silahkan bagikan
  • Pengantar Redaksi
  • Pembaca yang budiman, mulai akhir Pebruari 2022 ini, VISI.NEWS akan menurunkan tulisan-tulisan orisinal dari Syakieb Sungkar. Penulis adalah seorang pengamat seni, dan pernah menjadi executive di beberapa perusahaan telekomunikasi. Ia pernah kuliah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), lulus dari Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020). Dan pernah membuat buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018) dan “Seni Sebagai Pembebasan” (2022). Pernah berpameran tunggal lukisan di galeri Titik Dua, Ubud (2021), berpameran bersama di galeri Salihara bersama Goenawan Mohamad (2020). Saat ini ia menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi (jurnaldekonstruksi.id).

Oleh Syakieb Sungkar

KETIKA awal tahun 80an saya bersekolah di Bandung, koleksi kaset saya musnah. Itu karena adik saya membongkar tempat penyimpanan kaset, memainkannya, dan meminjamkannya ke temannya serta sebagian rusak. Mengingat kaset-kaset itu tidak diproduksi lagi, saya agak kesulitan mengumpulkannya kembali. Belum lagi di tahun 1985 kaset bajakan dilarang karena Suharto mendapat tekanan dari Bob Geldof dan lembaga hak cipta dunia. Maklumlah, Indonesia waktu itu masuk dalam 4 besar negara pembajak musik terbesar. Ketika saya lulus sekolah, dunia musik telah berubah, kaset telah berganti dengan CD yang masih mahal harganya. Sehingga hobi mengoleksi musik menjadi terlupa. Ada sebab lain, pekerjaan saya yang sering keluar kota atau keluar negeri membuat tidak ada waktu lagi berleha-leha. Akibatnya pada akhir tahun 80-an dan awal tahun 90-an saya benar-benar loose track terhadap musik.

Saya mulai intens kembali memperhatikan musik ketika sekolah di Cable & Wireless Institute di Birmingham, Inggris. Maklum sekolah itu ada di desa yang sepi, namanya Coventry. Sehingga kalau malam ga bisa keluyuran. Hiburan satu-satunya adalah nonton TV. Dan kanal TV yang paling saya suka adalah [V] Channel, isinya video musik saja. Video musik yang saya masih ingat sering ditayangkan pada tahun 1994 adalah The Cranberries, Boyz II Men, Bon Jovi, Nirvana, Oasis, Youssou N’dour, Aerosmith, Seal, dan Soundgarden.

Baca Juga :  Ketua Fraksi Demokrat: Moeldoko Parasit Demokrasi

Band Soundgarden ini yang membuat saya terkenang sampai sekarang. Karena video clip “Black Hole Sun”, lagu jagoan dari album Superunknown itu menjadi no. 1 dalam Billboard 200. Video itu terlihat surealistik dan menohok saya yang peka terhadap pemandangan visual. Belum lagi musik yang ditampilkan adalah jenis Grunge [baca: granj], sesuatu yang masih aneh dan baru pada telinga saya. Namun di Seattle, kampungnya musik grunge, hal itu lagi sedang hit-hitnya, bersama-sama dengan band grunge lain seperti Nirvana. Tiga tahun kemudian (1997) muncul Creed, yang lagunya juga mengilik ulu hati saya, apalagi kalau sedang marah, sedih atau resah : lagu-lagu Creed itu jadi ‘kena banget’. Memang selera saya agak aneh dalam urusan lagu.

Musik bagi saya adalah cara memutar lagi suatu kenangan. Ketika mendengar sebuah lagu yang sudah lama kita tidak dengar, maka akan muncul peristiwa-peristiwa yang dulu ada bersama dengan lagu tersebut. Kalau filsuf Paul Ricoeur mengatakan dalam bukunya “Time and Narrative”, bahwa cara manusia membingkai masa lalu adalah dengan sebuah cerita atau narasi. Dan dia banyak mencontohkan dongeng atau novel sebagai narasi, saya rasa karena Ricoeur itu terlalu banyak membaca buku dan kurang mendengar musik. Bagi saya, justru musik itulah yang sesungguhnya merupakan kunci dari kotak pandora memori masa lalu kita.

Beruntung dalam belasan tahun belakangan ini, anak muda sekarang menyukai cara memutar musik dengan teknologi masa lalu, yaitu piringan hitam. Entah mengapa tiba-tiba dunia menyukai ‘barang antik’ yang berupa vinyl itu. Piringan hitam dan pemutarnya sekarang diproduksi lagi. Sesuatu yang melawan waktu. Arus Balik. Di satu sisi ada aplikasi Spotify yang menjadi gudang musik digital yang disimpan di jagad maya, di sisi lain ada anak muda yang berlomba-lomba mengoleksi kembali piringan hitam, sebuah artefak budaya generasi paman saya.

Baca Juga :  MAUNG BANDUNG: Teja Ajak Rekan-rekannya Tak Terlena

Mengapa beruntung? karena dengan populernya piringan hitam saya bisa mengais kembali album-album zaman dulu yang menjadi favorit saya ketika kecil, remaja, dewasa, pemuda, mahasiswa, secara urut. Dengan itu saya bisa mempunyai album lengkap Rush, Deep Purple, Led Zeppelin, Pink Floyd, Mahavisnu Orchestra, Casiopea, Chick Corea, Harbie Hancock, King Crimson, Eric Clapton, Harry Roesli, Koes Plus, Guruh Soekarno Putra, Giant Step, Godbless, Tatsuru Yamashita, GRP, Wynton Marsalis, George Benson, Al Jerrau, dan masih banyak lagi. Tidak terasa piringan hitam saya sekarang lebih dari 2000 buah, itu hasil perburuan dari Kemang, Blok M Square, jalan Surabaya, Pasar Santa, New York, Frankfurt, Hongkong, dan Amsterdam.

Mengapa arus balik bisa terjadi? Orang tiba-tiba kembali ke masa lalu, yang retro. Salah satu teorinya adalah memang mode itu seperti putaran roda, dia akan kembali lagi. Sesuatu yang sudah ada di masa lalu kemudian dikemas kembali untuk dikonsumsi para anak muda yang belum pernah mengalaminya. Suatu industri budaya. Sementara bagi orang tua, mengais kembali masa lalu adalah suatu upaya balas dendam atas sesuatu yang dahulu pernah hilang atau tak mampu dimiliki, dan sekarang dirakit kembali menjadi sebuah kenangan yang ada di tangan.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Respon Cepat Presiden Tanggapi Tuntutan Terhadap Permenaker JHT Diapresiasi Komisi IX

Sel Feb 22 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Daulay mengapresiasi respon cepat Presiden Joko Widodo terhadap tuntutan para buruh dan serikat pekerja terhadap Permenaker Nomor 2 Tahun 2022. Respon ini sekaligus menjawab berbagai polemik yang berkembangan belakangan ini. Diharapkan, aturan berikut yang mungkin akan dikeluarkan dapat […]