SKETSA | Queer

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

SEBAGAI orang modern, kita harus paham bahwa Gender itu berbeda dengan Jenis Kelamin. Jenis Kelamin – seperti yang kita lihat dalam KTP atau petunjuk di toilet umum – sudah ditentukan sejak lahir, berdasarkan karakteristik anatomis dan fisiologis, terlihat dari alat kelaminnya: penis atau vagina. Pria ♂ atau Wanita ♀ adalah simbol-simbol kelamin. Sementara Gender mencakup cara seseorang mengidentifikasi peran, perilaku, ekspresi dan identitasnya. Kalau zaman dahulu kita terbiasa dengan persepsi usang yang menggambarkan sifat maskulin menempel pada laki-laki dan feminis pada perempuan, orang seperti itu yang mengidentifikasi diri dengan jenis kelamin saat lahir disebut Cisgender. Sementara Gender berspektrum luas, tidak seperti jenis kelamin yang dibawa sejak lahir, bisa saja orang mengidentifikasi gendernya berbeda dengan jenis kelamin. Jenis kelamin bersifat mutlak, sedangkan gender dapat berubah seiring berjalannya waktu. Sering kali orang mulai menemukan perbedaan gender ketika remaja atau menjelang dewasa.

Ketika SMP saya mempunyai tetangga yang ganteng dengan tubuh berotot di seberang rumah. Kulitnya bersih dengan wajah yang cakep. Saya suka bermain dengannya karena ia cerdas, lucu dan mengetahui banyak hal. Teman saya itu punya papan karambol ukuran besar dan kotak catur yang indah, sehingga saya betah kalau main ke rumahnya. Kadang-kadang kami berkelahi juga sampai bergelut, dan saya lebih sering kalahnya kalau berkelahi dengannya. Tetapi walau kemaren sudah gebuk-gebukan besoknya kami bisa main catur kembali dengan asik. Ketika saya sedang libur kuliah dan jalan-jalan ke Jakarta pada tahun 80an, saya memergoki ia berdandan perempuan dan memakai longdress di bus kota. Saya memperhatikannya lamat-lamat tetapi ia pura-pura tidak kenal. Tahun 2000an saya bertemu kembali dengannya di sebuah acara seni, tetapi kali ini ia sudah berbusana pria kembali dengan lenggak-lenggok wanita. Sekarang ia sudah menjadi perancang busana yang terkenal. Lebih percaya diri ketimbang dua puluh tahun sebelumnya. Ia bercerita bahwa sekarang punya suami seorang bule Amerika. Kedatangannya ke Jakarta hanya 4 bulan sekali pada akhir dan awal tahun, sisanya mereka tinggal bersama di Florida.

Baca Juga :  REKAP HASIL LIGA 1 | Semangat Membara, Persipura Tekuk Bhayangkara, PSIS Semarang Tendang PSS Sleman

Di Amerika ada istilah yang kasar pada orang yang seperti teman saya itu. Mereka menyebutnya Queer. Sebagai istilah untuk orang yang bukan heteroseksual dan bukan cisgender. Awalnya Queer diartikan sebagai “aneh” atau “eksentrik”, digunakan untuk merendahkan mereka yang memiliki hasrat atau hubungan sesama jenis di akhir abad ke-19. Pada akhir 1980-an, para aktivis queer mengklaim kembali kata tersebut sebagai alternatif yang secara sengaja dibuat provokatif dan radikal secara politis untuk komunitas LGBTQ yang lebih asimilatif. Pada abad ke-21, queer semakin sering digunakan untuk menggambarkan spektrum yang luas dari identitas dan politik seksual atau gender non-normatif. Seni queer, kelompok budaya queer, dan kelompok politik queer adalah contoh ekspresi modern identitas queer.

Gambar 1 – Lambang-lambang Gender (sumber: The Burning Platform).

Tidak semua LGBTQ seperti itu, kebanyakan orang Amerika lebih suka menggunakan istilah Gay. Gay diadopsi oleh banyak pria pada pertengahan abad ke-20 sebagai sarana untuk menegaskan status normatif mereka dan menolak asosiasi apa pun dengan kewanitaan. Gagasan bahwa queer adalah istilah yang merendahkan menjadi lebih umum di kalangan pria gay setelah Perang Dunia II. Ketika identitas gay menjadi lebih banyak diadopsi di masyarakat, beberapa pria yang lebih suka mengidentifikasi diri sebagai gay mulai memarahi pria yang lebih tua yang masih menyebut diri mereka sebagai queer.

Tetapi yang jauh lebih penting untuk manusia modern, bahwa kita harus memahami gender itu bukanlah hanya dua atau biner – Male dan Female – seperti pengetahuan orang kebanyakan selama ini. Menurut situs The Burning Platform, dalam artikelnya “All 112 genders, PLUS the 71 suffixes”, saat ini sudah teridentifikasi 112 macam gender. Sehingga singkatan LGBTQ itu sudah tidak cukup lagi. Kita sendiri pun sebenarnya belum tentu 100% wanita atau 100% pria. Ada persen tertentu dalam diri kita yang perempuan mempunyai sifat maskulin, demikian pula pria – ada sekian % dalam dirinya yang mempunyai bakat feminis. Mungkin juga ada persen tertentu dalam diri kita yang sebetulnya menyukai sesama jenis, bagi yang pria mungkin kita juga pernah mengkhayal atau menginginkan memakai busana wanita atau berias seperti perempuan. Demikian pula yang wanita, ingin memotong habis rambutnya, memakai sepatu boot dan tampil macho. Tetapi keinginan itu buru-buru direpresi. Karena itu, hati-hati melekatkan orang lain dengan sebutan queer, jangan-jangan dalam diri kita ada sedikit queer.***

Baca Juga :  Setelah Ditetapkan Tersangka Korupsi, Disdik Jabar Resmi Copot Jabatan Kepala Sekolah SMKN 1 Kota Sukabumi

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Bupati Garut : Saya Doakan para Pedagang Dapat Untung yang Berkah

Sab Mei 7 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | KABUPATEN GARUT – Berbeda dengan malam takbir Idulfitri 1443 Hijriah yang dipadati para pedagang maupun pembeli, kini Jalan Ahmad Yani yang dikenal dengan Pengkolan Garut terlihat lebih sepi dan lengang. Hal ini terlihat dari hasil pantauan Bupati Garut, Rudy Gunawan, ketika meninjau Pengkolan Garut, Kecamatan Garutkota, Kabupaten […]