SKETSA | Salman Rushdie

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

JUMAT lalu, 12 Agustus 2022, saat hendak memberi kuliah di Institut Chautauqua, New York, Salman Rushdie diserang oleh seorang pria yang tiba-tiba naik ke atas panggung dan menikamnya berulang kali, termasuk di leher. Rushdie diterbangkan ke rumah sakit di Erie, Pennsylvania, di mana ia menjalani operasi. Rushdie saat ini menggunakan ventilator dan tidak dapat berbicara, ia mungkin akan kehilangan penglihatan satu matanya, selain saraf di lengannya terputus, dan hatinya rusak. Pria penyerang itu segera diamankan dan ditahan.

Gambar 1 – Salman Rushdie (sumber: Britannica)

Mungkin penyerangan itu merupakan buntut ancaman Ayatollah Khomeini yang dikeluarkan 34 tahun lalu. Ketika itu Rushdie menulis sebuah novel yang diberi judul “The Satanic Verse”. The Satanic Verses adalah novel ke-4 karya Salman Rushdie, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1988. Dalam novel itu, tokoh utama yang bernama Mahound, yang kemungkinan besar merujuk pada Nabi Muhammad, diceritakan bersama dengan dua tokoh utama lainnya yaitu Gibreel Farishta dan Saladin Chamcha.

Dalam kehidupan Mahound berseting di negeri Jahiliyah yang berupa mimpi atau penglihatan dari Gibreel, dikisahkan bahwa Mahound dihadapkan pada pilihan sulit untuk berkompromi dengan adat politeisme. Pada saat ia ingin memperkenalkan sistem monoteisme yang diwahyukan kepadanya, hal tersebut ditentang oleh masyarakat setempat. Pada puncaknya ia harus memilih antara mengakui ketiga dewi utama Jahiliyah (Allat – bentuk wanita dari Allah, Uzza, dan Manah) sebagai setara dengan Allah dan seluruh penduduk Jahiliyah akan menyembah Allahnya Mahound. Atau Mahound dapat berkeras untuk menolak dewi-dewi tersebut dengan konsekwensi ia akan dimusuhi atau diasingkan.

Gambar 2 – Novel “The Satanic Verse” (sumber: BoekMeter)

Setelah Mahound bertapa dalam rangka mencari wahyu, pertama-tama ia kembali dengan menyatakan bahwa ia telah mendapatkan wahyu dari Gabriel yang menyatakan bahwa ketiga dewi tersebut akan diakui setara dengan Allah. Namun kemudian setelah ia naik gunung lagi, dan ketika kembali Mahound menyatakan bahwa wahyu sebelumnya adalah dari setan dan harus dimusnahkan dari semua catatan tertulis yang telah dibuat, sebagai akibatnya ia dan pengikutnya melarikan diri dari negeri Jahiliyah.

Baca Juga :  Jelang Nataru, Pemkab Bandung Terjunkan 222 Petugas Dishub

Ada episode pendek dalam novel yang mengisahkan tokoh bernama Ayesha, yang diceritakan sebagai gadis muda yang menjadi istri Mahound, dan di situlah awal mula sistem poligami dalam kepercayaan yang disebarkan oleh Mahound. Sekuens ketiga mengisahkan tentang seorang pengikut Mahound, yaitu juru tulisnya dari Turki, yang mencatat semua syair yang diutarakan oleh Mahound. Karena wahyu yang disampaikan kepada Mahound dibacakan seperti puisi sesuai dengan tradisi oral masyarakat saat itu. Juru tulis tersebut menjadi benci dengan Mahound karena ia beberapa kali menyelamatkan Mahound dan pengikutnya namun tidak pernah diakui jasanya. Kemudian, bibit ketidakpercayaannya itu membuatnya menguji apakah benar wahyu Mahound berasal dari malaikat. Diceritakan ia mengubah beberapa kata-kata kecil pada saat ia mencatat apa yang dikatakan Mahound tanpa sepengetahuan Mahound. Hasilnya ternyata Mahound yang mendengar ulang apa yang dituliskan tidak menyadari perubahan yang terjadi. Sang juru tulis akhirnya berkesimpulan bahwa wahyu tersebut tidak lain adalah hasil rekaan Mahound sendiri.

Tentu saja novel “The Satanic Verse” itu membuat kaum Muslimin naik pitam. Nama-nama dan jalan cerita yang dibuat Rushdie memang mirip dengan Nabi Muhammad dengan versi yang diselewengkan. Buku itu dilarang di Iran sejak 1988, hadiah USD 2,8 juta juga ditawarkan bagi siapa saja yang membunuh Rushdie. Pada tahun 2012, sebuah yayasan keagamaan semi-resmi Iran menaikkan hadiah untuk kematian Rushdie menjadi USD 3,3 juta. Pada komunitas Muslim di luar Iran, novel ini menghasilkan kontroversi yang luar biasa. Buku ini tidak boleh beredar di India, dan dibakar dalam suatu demonstrasi di Inggris. Novel ini juga menyulutkan kerusuhan di Pakistan pada tahun 1989. Semua itu telah membuat Pemerintah Inggris menempatkan Rushdie di bawah perlindungan polisi. Walau demikian di Inggris sendiri novel itu diterima dengan baik oleh para kritikus, dan menjadi finalis Booker Prize tahun 1988, walaupun dikalahkan oleh “Oscar and Lucinda” karya Peter Carey yang memenangkan Whitbread Award 1988 untuk novel terbaik tahun itu.

Baca Juga :  Jemaah Haji: Haji Musim Ini Sangat Luar Biasa

Saya pernah membaca buku ini. Sebagai oleh-oleh perjalanan dinas dari New York. Sempat ditanyai oleh petugas Imigrasi Cengkareng ketika itu, tetapi lolos karena petugas tersebut juga tidak mengerti apa isi buku tersebut. Menurut saya buku itu jelek, tidak enak dibaca, berbelit-belit dan menggunakan diksi-diksi yang rumit. Terlalu banyak cerita khayal dan kilas balik, misalnya pada bagian awal ditampilkan cerita berpanjang-panjang tentang kecelakaan pesawat dan terdamparnya tokoh cerita di perairan Inggris. Justru novel Rushdie yang sebelumnya, “Midnight’s Children,” jauh lebih bagus. Midnight’s Children memenangkan Booker Prize 1981. Dan telah difilmkan oleh BBC tahun 2012 dengan sutradara Deepa Mehta. Film ini masuk nominasi film terbaik dan mendapat 2 penghargaan dari Festival Film Canada.

Gambar 3 – Poster Film Midnight’s Children (sumber: bollywoodhungama)

Karya-karya Salman Rushdie – yang dilahirkan pada 19 Juni 1947 itu – sering menggabungkan realisme magis dengan fiksi sejarah dan terutama berkaitan dengan koneksi, gangguan, dan migrasi antara peradaban Timur dan Barat, yang terletak di anak benua India. Pada tahun 1983, Rushdie terpilih sebagai anggota Royal Society of Literature. Ia juga diangkat menjadi Commandeur de l’Ordre des Arts et des Lettres dari Prancis pada tahun 1999. Pada tahun 2007, ia dianugerahi gelar kebangsawanan atas jasanya di bidang sastra. Pada tahun 2008, The Times menempatkannya di peringkat ketiga belas dalam daftar 50 penulis Inggris terbesar sejak 1945. Ia dinobatkan sebagai “Penulis Terhormat” di Institut Jurnalisme Arthur L. Carter, Universitas New York, pada tahun 2015. Sebelumnya, dia mengajar di Emory University. Dia terpilih masuk ke dalam American Academy of Arts and Letters. Pada 2012, ia menerbitkan “Joseph Anton: A Memoir”, sebuah kisah hidupnya yang mengendap-endap dan bersembunyi setelah kontroversi atas The Satanic Verses. Joseph Anton adalah nama samaran yang digunakan Rushdie saat bersembunyi ketika menerima fatwa pembunuhan dari Khomeini.

Baca Juga :  Komisi I Kutuk Keras Penembakan Jurnalis Al Jazeera oleh Israel

Salman Rushdie lahir di Bombay dalam sebuah keluarga Muslim Kashmir India. Ia adalah putra dari Anis Ahmed Rushdie, seorang pengacara lulusan Cambridge yang menjadi pengusaha, dan Negin Bhatt, – ibunya – seorang guru. Anis Ahmed Rushdie diberhentikan dari Indian Civil Services (ICS) setelah akta kelahiran yang diserahkannya ketahuan diubah untuk membuatnya tampak lebih muda dari usianya. Rushdie memiliki tiga saudara perempuan. Dalam memoarnya tahun 2012, ia menulis bahwa ayahnya mengadopsi nama Rushdie untuk menghormati Averroes (Ibn Rushd).

Rushdie dibesarkan di Bombay dan dididik di Katedral dan Sekolah John Connon di Fort, Bombay Selatan sebelum pindah ke Inggris dari India untuk menghadiri Sekolah Rugby di Warwickshire, dan kemudian King’s College, Cambridge, dari mana ia lulus dengan gelar Sarjana Seni dan Sejarah. Keluarganya kemudian pindah ke Pakistan. Setelah lulus dari Cambridge, Rushdie tinggal sebentar bersama keluarganya di Pakistan dan akhirnya pindah secara permanen ke Inggris.

Rushdie menikah empat kali. Ia menikah dengan istri pertamanya, Clarissa Luard dari tahun 1976 hingga 1987 dan menjadi ayah dari seorang putra, Zafar (lahir 1979). Istri keduanya adalah novelis Amerika Marianne Wiggins. Mereka menikah pada tahun 1988 dan bercerai pada tahun 1993. Istri ketiganya, dari 1997 hingga 2004, adalah Elizabeth West, mereka memiliki seorang putra, Milan (lahir 1997). Pada tahun 2004, ia menikah dengan Padma Lakshmi, seorang aktris, model, dan pembawa acara televisi reality show Amerika, Top Chef. Sejak tahun 2000, Rushdie telah tinggal di Amerika Serikat, di dekat Union Square, kecamatan Lower Manhattan, New York City. Rushdie adalah penggemar klub sepak bola Inggris Tottenham Hotspur. Pernikahan itu berakhir pada 2007. Salah satu alasan mengapa istrinya minta bercerai adalah mereka tidak betah dengan gaya hidup Rushdie yang suka bersembunyi itu. Demikianlah kesulitan hidup yang dialami kalau usil dengan agama orang lain. Nama boleh termashur, uang boleh banyak, tetapi apa artinya kalau terus menerus didera ketakutan.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Masuk Perda KTR, Pemkot Larang Vape

Sab Agu 13 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | SURABAYA – Vape atau rokok elektrik termasuk dalam kategori yang diamanatkan pada Peraturan Daerah (Perda) Kota Surabaya No 2 Tahun 2019 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Pasalnya, vape bersifat sama dengan rokok konvensional. Hal ini pun turut ditegaskan oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Dia mengatakan, Perda […]