SKETSA | Visi & Misi

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

SEBUAH perusahaan yang ingin terus maju dan sustainable membutuhkan visi dan misi yang akan menjadi tujuan bagi seluruh karyawan dan stakeholdernya. Visi adalah gambaran tentang apa yang diinginkan oleh perusahaan, dan perusahaan itu ingin meraih apa sebagai hasil dari kerja keras yang dilakukannya. Sedangkan Misi dibentuk berdasarkan Visi. Dalam membentuk Misi dibutuhkan pemikiran kritis dan reflektif tentang bisnis perusahaan. Di samping menentukan pilihan yang akan dibuat berdasarkan pada apa yang ingin dan mungkin dicapai, dan bisnis yang akan digelutinya, medan persaingan, dan target kelompok pelanggan tertentu yang akan dilayaninya. Dengan Visi dan Misi, perusahaan akan memutuskan apa yang tidak dapat dilakukan dan dicapai, ingin bersaing dengan siapa, dan siapa saja yang tidak dilayaninya. Hal ini merupakan pilihan sulit yang hanya dihasilkan dari pemikiran dan analisis yang intensif.

Di tahun 2007, ketika shareholder terbesarnya masih dipegang oleh Singapura, visi perusahaan saya adalah sebuah perusahaan telekomunikasi seluler yang akan menjadi setara dengan Telkomsel, dengan meraih 40% market share. Untuk mencapai visi tersebut, diperlukan pembangunan pemancar BTS di seluruh Indonesia sehingga jangkauan seluler bisa mencapai pelosok daerah. Namun tekanan politik ketika itu lebih menginginkan Singapura keluar dari Indonesia sehingga Temasek menjual sharenya kepada Qatar. Begitu Qatar menguasai, di tahun 2008, dengan segera mereka mengubah visi perusahaan dari keinginan untuk mencapai 40% market share (ketika itu market share sudah mencapai 30%), menjadi pencarian profit margin yang sebesar-besarnya.

Perubahan visi tersebut menyebabkan adanya pergeseran misi dari mulanya perusahaan ingin terus berinvestasi memperluas jangkauan ke seluruh pelosok Nusantara menjadi terfokus pada daerah-daerah potensial saja. Dalam hal ini lokasi-lokasi yang akan dilayani akan lebih intensif di Jawa dan beberapa kota besar di Sumatra. Sehingga investasi BTS dihentikan dan pencapaian market share dianggap tidak penting. Seiring dengan itu manajemen baru mulai memilih jenis pelanggan yang akan dilayaninya, yaitu pelanggan-pelanggan yang memberikan kontribusi revenue (ARPU) tinggi saja. Agar terjaring pelanggan yang ARPU tinggi dan menendang pelanggan yang ARPU rendah, maka menajemen kemudian menaikan tarifnya. Selain itu perusahaan menjalankan program efisiensi di segala bidang, termasuk efisiensi dalam bidang pelayanan. Beberapa kantor pelayanan kemudian ditutup karena dinilai kunjungan pelanggan yang datang kurang memadai dari segi jumlah.

Baca Juga :  Pernyataan Ical, Cucu : Motivasi dan Semangat Buat Kami Sebagai Kader Golkar Di Daerah

Dampak dari strategi tersebut terlihat dalam waktu satu semester setelah kebijakan diterapkan. Para pelanggan ARPU rendah kemudian berpindah ke perusahaan seluler lain yang tarifnya lebih murah yaitu XL. Sementara pelanggan ARPU tinggi tidak merasakan adanya penambahan pelayanan yang signifikan sejak tarif dinaikan. Justru yang terjadi adalah simcard lebih sering rusak dan kantor pelayanan pelanggan menjadi penuh. Hal ini disebabkan manajemen mengganti jenis kartu dari semula berharga USD 0,45 menjadi USD 0,32. Kartu baru tersebut masa berlakunya menjadi singkat karena probabilitas kerusakannya lebih tinggi dan bermutu rendah, dengan itu orang jadi sering datang ke Customer Service untuk komplin. Demikian pula karena adanya program reklusterisasi BTS mengakibatkan banyak pelanggan yang kehilangan sinyal, sehingga pelanggan ARPU tinggi berpindah haluan ke Telkomsel. Ada lagi beberapa hal lain yang berdampak kepada pelanggan, seperti pembatalan pergantian software pelayanan yang berkapasitas lebih besar dan pengurangan saluran (line) menuju Customer Service sehingga orang menjadi sulit untuk menyampaikan keluhan via telepon.

Kebijakan seperti itu dibiarkan berlarut-larut sehingga pada tahun 2012 perusahaan kehilangan sekitar 20 juta pelanggan dan mulai mengalami kerugian. Sementara pesaingnya seperti Telkomsel dan XL mengalami peningkatan market share dan profit margin. Mulai tahun 2013, perusahaan kemudian menjual satu persatu aset berharganya, dimulai dari pemecatan pegawai, penjualan tower, properti, anak perusahaan, dan data center. Di tahun 2021 lalu, kemudian merger dengan Hutchinson-Tri karena sudah tidak sanggup lagi beroperasi sebagaimana layaknya operator normal.

Kesalahan pemilihan visi di tahun 2008 yang tidak mementingkan perluasan jaringan tetapi hanya berfokus pada profit semata, disebabkan oleh kurangnya pengetahuan orang Qatar tentang Indonesia yang luas. Bahwa Nusantara sebagai jaringan transportasi dan perdagangan, di mana manusia melakukan roaming sepanjang pulau dan berpindah provinsi untuk bekerja dan berniaga, membutuhkan network seluler yang stabil dan bersambung. Filosofi seperti ini lebih dipahami oleh Telkomsel yang terus menerus berinvestasi membangun jaringan ke seluruh pelosok Nusantara. Kalau di tahun 2007 perbedaan jumlah BTS dengan Telkomsel hanya 8000. Maka saat ini jumlah BTS Telkomsel adalah 238.000, jumlah BTS XL 157.000, dan perusahaan saya dulu itu menjadi nomor buncit dengan 132.000. Sementara market share Telkomsel saat ini 60%, XL sebesar 17%, sedangkan sisanya 23% dibagi dengan beberapa operator selular lainnya. Perusahaan sudah bertahun-tahun tidak men-declare berapa besar market sharenya saat itu. Perubahan visi dan misi telah menyebabkan perusahaan itu kehilangan market share dan mengalami kerugian sekaligus.***

Baca Juga :  Huawei Mobile Services Luncurkan "User Interface" Terbaru bagi AppGallery untuk Permudah Pencarian Aplikasi

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Bertaubatlah, Maka Selamat

Ming Apr 17 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Rasulullah saw. pernah bersabda yang artinya demikian: “Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang bertaubat.” (HR Ibnu Majah) Dalam hadis tersebut, kita sebagai manusia kemudian diingatkan bahwa secara manusiawi, manusia pernah melakukan perbuatan dosa. Ketidaksempurnaan manusia menjadi pintu […]