SKETSA | Waktu

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

TEPAT pukul 23:23 saya memperhatikan waktu. Angka penunjuk waktu yang diperlihatkan layar Smartphone itu seolah ‘berhenti’ ketika saya capture menjadi sebuah ‘gambar’. Karena kalau tidak saya screenshots maka angka itu akan segera berubah menjadi 23:24. Begitu waktu berubah menjadi 23:24, maka 23:23 menjadi masa lalu, ia hilang, tidak ada lagi.

Baca juga

SKETSA | Mandalika
SKETSA | Phubbing
SKETSA | Robot Trading
SKETSA | Arab
SKETSA | Binary Option
SKETSA | Neanderthal
SKETSA | W.S.C
SKETSA | RK
SKETSA | Krismon
SKETSA | SBM – ITB
SKETSA | Schopenhauer
SKETSA | Baceprot
SKETSA | Adorno
SKETSA | Tank vs Hoax
SKETSA | Komik
SKETSA | The Batman

Gambar 1 – Waktu yang ter-capture pada layar Smartphone.

Waktu yang terus berubah itu yang selalu menjadi bahan pertanyaan. Bagaimana waktu itu bisa ada kalau masa lalu tidak lagi ada, masa depan belum terjadi, dan masa sekarang tidak senantiasa? Bagaimana kita mengukur waktu yang tidak ada? Paradoks ini muncul dari waktu yang ada tetapi tidak ada. Hal itu juga yang dipertanyakan Santo Agustinus di abad pertengahan.

Padahal kita sering membicarakan tentang waktu yang pendek dan waktu yang panjang.  Dengan cara tertentu kita mengobservasi waktu dan mengukurnya. Hanya melalui masa lalu dan masa depan, kita dapat mengatakan ada yang lama dan singkat dari waktu. Memang masa depan lebih dekat (akan segera datang) sedangkan masa lalu terasa lebih lama dan panjang. Kita mempunyai keterbatasan dalam menegaskan pengukuran waktu. Tetapi sekali lagi muncul pertanyaan, mengapa dari sesuatu yang tidak ada kita dapat mengukur panjang dan pendeknya waktu?

Pada awalnya kita mungkin tidak percaya akan kepastian tentang adanya masa lalu dan masa depan. Namun kemudian, dengan menempatkan waktu ke dalam harapan (masa depan) dan kenangan (masa lalu), ide masa lalu yang panjang dan masa depan yang pendek dapat dibayangkan melalui bahasa, pengalaman, dan tindakan. Dengan itu waktu yang hilang dapat dikembalikan setelah ditransformasikan ke dalam narasi.

Mari kita kembali ke masa sekarang. Bukankah masa sekarang yang ‘masih ada’ baru saja berlalu? Untuk menjawabnya kita harus mengantisipasi bahwa harapan dan kenangan merupakan modal untuk masa sekarang. Waktu itu instan. Kalau kita dapat membayangkan atau merasakannya, maka waktu sesaat yang sekarang itu tidak dapat dibagi lagi dalam pecahan menit dan detik, dan keberadaan masa sekarang itu tidak punya durasi. Kita dapat menyadari waktu dan mengukurnya apabila ia telah lewat. Ketika artikel ini ditulis, pukul 23:23 sudah lewat dan tidak dapat kembali lagi.

Baca Juga :  Ace Hasan: Covid Bukan Konspirasi

Namun Einstein mengatakan waktu itu relatif, ia bisa memanjang dan memendek. Bahkan waktu bisa mundur, apabila manusia dapat bergerak melebihi kecepatan cahaya. Itulah yang terjadi dalam film “Back to the Future”. Dalam film, Michael J. Fox dapat kembali ke masa ia belum dilahirkan, masa ketika ayahnya yang masih muda dan menjadi orang yang canggung, sehingga susah mendapat cewek. Masalahnya, kalau ayahnya terus-menerus berkelakuan begitu, maka si ibu tak akan tertarik dengan sang ayah, yang berakibat mereka tidak berpacaran dan tidak menikah, sehingga Michael J. Fox tidak pernah dilahirkan.

Bagi ilmu Fisika Modern, setidaknya ada 2 kesalahan dalam cerita Back to the Future itu. Kesalahan pertama adalah Michael J. Fox tidak tunduk pada prinsip ketidakpastian Heisenberg, yang mengatakan ketika sebuah benda bergerak dalam daerah supra cahaya, maka waktu dan tempatnya tidak bisa diketahui sekaligus. Heisenberg mengatakan boleh pilih: kalau suatu benda terdeteksi waktu keberadaannya, maka posisi tempatnya tidak bisa diketahui – atau sebaliknya, seandainya posisinya diketahui maka waktu terjadinya tidak bisa dipastikan. Dalam film, Michael J. Fox bisa pergi kesana kemari dengan wujud, waktu, dan posisi yang diketahui. Setidaknya kita masih bisa melihat posisi Michael yang semula (di masa kini) ada di depan rumahnya kemudian mengendarai mobil mesin waktu dan tiba di tempat pesta di mana ayah dan ibunya bertemu (masa lalu). Itu berarti, Back to the Future masih dalam dataran Fisika Klasik, atau Fisikanya Newton, yang pergerakan waktu dan posisi masih linear.

Gambar 2 – Mobil mesin waktu dalam film “Back to the Future”.

Kesalahan kedua adalah, mengingat sebuah benda, dalam hal ini raga Michael J. Fox, bisa terbang melebihi kecepatan cahaya, maka tubuh harusnya bertransformasi menjadi foton atau paket kwantum, yang bentuknya hancur lebur. Seharusnya, Michael J. Fox ujud fisiknya sudah tidak seperti semula lagi, tidak bisa dikenali, barangkali bentuknya sudah seperti rempeyek.

Baca Juga :  Antisipasi Lonjakan Covid-19, Bupati Nina Agustina Tinjau Gedung Wisma Haji

Malahan dalam teori yang lebih baru, khususnya teori Loop Quantum Gravity, bukan saja materi yang diatomisasi, namun juga ruang-waktu. Menurut teori ini, tidak ada lagi ruang yang ‘berisi’ dunia, dan tidak ada lagi waktu ‘di mana’ peristiwa terjadi. Dengan itu, yang ada hanyalah proses, di mana atom, ruang, dan materi terus berinteraksi satu sama lain. Yang ada dalam eksistensi bukanlah kumpulan benda (things), namun kumpulan peristiwa (occurences). Ruang dan Waktu menjadi tidak punya hakekat tersendiri, mereka hanyalah relasional saja. Ibarat Meja dengan Kolong Meja. Kalau tidak ada Meja maka tidak ada Kolong.

Gambar 3 – Model Dentuman Besar.

Sementara Stephen Hawking mengatakan ruang – waktu mulai ada ketika dentuman besar (Big Bang) terjadi, munculnya semesta bertepatan dengan terjadinya ruang – waktu. Setelah dentuman besar, seluruh benda terlempar dari inti ledakan dan tersebar dalam gerakan yang disebut Expanding Universe. Jadi, waktu 0 itu sebenarnya pernah ada, ketika alam semesta dimulai pembentukannya – yaitu 13,7 Milyar tahun lalu.

Manusia sekarang tidak perlu lagi mereferensikan pewaktuan dirinya dengan peristiwa 13,7 Milyar tahun lalu itu, karena ia tidak mengalami dentuman besar. Yang terjadi adalah waktu fenomenal, yaitu waktu yang terkait dengan peristiwa-peristiwa dalam dirinya sendiri ketika ia mulai bertemu dengan dunia. Menurut Jacques Lacan, kejadian itu bermula ketika manusia berumur 4 tahun. Saat manusia berkenalan dengan rasionalitas dan bahasa, serta dunia yang membentuk (menempa, forging) dirinya menjadi manusia. Kita tidak bisa mengingat apa yang terjadi sebelum usia 4 tahun. Tahun 0 manusia adalah ketika ia berumur 4 tahun, yaitu tahun fenomenal. Ketika ia mulai paham akan tubuhnya. Dan ia berbeda dengan orang lain, ia menyadari tubuhnya terpisah dari jasad ibunya yang selama ini selalu dekat padanya.

Baca Juga :  Diungkap KontraS, Ini Nama Purnawirawan TNI - Pejabat BIN di Perusahaan Tambang Blok Wabu

Relasi yang menyambungkan diri seseorang dengan dirinya yang dahulu adalah kenangan. Namun kenangan itu juga bukan suatu rekaman peristiwa. Bukan suatu file utuh yang masih tersimpan dalam memori otak. Ternyata file-file itu telah corrupt oleh persepsi. Misalnya begini, ketika kecil – saya merasa jalan di depan rumah kakek adalah jalan raya yang besar, karena tubuh yang masih mungil di masa lalu. Namun setelah besar dan dewasa, jalan di rumah kakek saya ternyata sebuah gang sempit yang (sekarang) kumuh. Memori lama itu kemudian dinyatakan salah oleh datangnya persepsi yang baru.

Karena itu apalah artinya masa lalu? Masa yang terasa indah karena waktu itu kita masih muda, langsing, berkulit halus dan ganteng, serta tidak memikirkan soal pekerjaan dan ekonomi. Ketika kita bertemu lagi dengan tokoh-tokoh masa lalu, kita akan terkejut, karena pacar kita yang dalam memori terlihat cantik dan sexy, ternyata (sekarang) adalah wanita yang gembrot dan penuh uban. Kita sendiri pun sudah berubah tua, serta penuh kerut karena selalu memikirkan kecukupan uang untuk sekolah anak. Karenanya, masa lalu itu lebih bersifat fiksi ketimbang fakta. Masa lalu adalah suatu kesalahan memori karena tergerus oleh persepsi dan cara berfikir masa kini. Masa silam adalah suatu yang ada sekaligus tiada. Sementara masa depan, bentuknya tidak diketahui secara pasti, bisa jadi kita dapat memprediksinya, namun terbatas. Dan tanpa terasa, tiba-tiba kita sudah berada di masa depan yang telah berubah status menjadi masa sekarang.***

  • Penulis adalah seorang pengamat seni, dan pernah menjadi executive di beberapa perusahaan telekomunikasi. Ia pernah kuliah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), lulus dari Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020). Dan pernah membuat buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018) dan “Seni Sebagai Pembebasan” (2022). Pernah berpameran tunggal lukisan di galeri Titik Dua, Ubud (2021), berpameran bersama di galeri Salihara bersama Goenawan Mohamad (2020). Saat ini ia menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi – jurnaldekonstruksi.id

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

JADWAL LIGA 1 HARI INI | Big Match Persib kontra Persik, Bali United vs Persebaya

Jum Mar 25 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | BALI – Jadwal dan siaran langsung BRI Liga 1 2021/2022 pekan ke-33, Jumat 25 Maret 2022, menyajikan 4 partai pertandingan yang diprediksi bakal sengit baik tim di papan atas maupun di papan bawah klasemen. Inilah tim-tim yang bakal bertarung sejak sore hingga malam hari, Jumat 25 Maret […]