SKETSA | Wayang Purwa

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

BUKU pertama yang saya baca adalah sebuah komik wayang karangan Saleh Ardisoma. Buku itu digambar tahun 1956 namun baru diterbitkan 10 tahun kemudian. Ardisoma menghasilkan serial “Wayang Purwa” sebanyak 22 jilid dengan jumlah halaman mencapai 1000 lembar. Selain itu ia membuat komik “Lahirnya Sri Rama” 2 jilid. Setelah itu ia berhenti berkarya dan tidak jelas kabar beritanya. Sampai sekarang. Komik Sri Rama diterbitkan PT. Melodi yang berdomisili di jalan ABC, Bandung. Saat itu, di awal Orde Baru, semua penerbitan akan diperiksa oleh Komdak. Karena Komdak Jakarta sangat ketat sensornya, maka banyak penerbit pindah domisili ke Bandung, mengingat Komdak VIII Jawa Barat lebih mudah menerbitkan izin.

Ardisoma membuat rangkaian cerita dan gambar yang tersaji sangat indah, dalam genre wayang ia adalah pelukis terbaik dibandingkan karya komikus lainnya pada penggambaran karakter dan penokohannya. Tata artistik halaman demi halaman komik “Wayang Purwa” nyaris sempurna, seperti kita melihat indahnya sebuah lukisan yang dipindahkan dalam sebuah panel komik, sehingga terasa lebih hidup dan tidak membosankan untuk terus membaca sampai akhir. Wayang Purwa sarat dengan petuah dan filosofi dalam kehidupan di alam semesta ini, tidak sedikit nilai-nilai luhur terkandung di dalamnya, menjadikan Wayang Purwa patut dan layak menjadi bacaan lintas generasi tanpa batasan usia.

Cerita Wayang Purwa adalah cerita asli Pewayangan Indonesia, merujuk pada kata Purwa yang berarti adalah permulaan atau awal, maka cerita ini mengisahkan silsilah pewayangan. Mulai dari saat lahirnya Sanghyang Ismaya (Semar), Sanghyang Antaga (Togog) serta Sanghyang Manikmaya (Batara Guru) dalam bentuk rupa sebutir telur, hingga kelahiran para dewa-dewi yang bersemayam di Istana Jongring Salaka. Pada halaman 2 komik Wayang Purwa, Ardisoma menuliskan begini:

Nabi Adam berputera Nabi Sis

Nabi Sis berputera Sanghyang Nurcahya

Sanghyang Nurcahya berputera Sanghyang Nurrasa

Sanghyang Nurrasa berputera Sanghyang Wenang

Sanghyang Wenang berputera Sanghyang Tunggal

Sanghyang Tunggal berputera Sanghyang Antaga, Sanghyang Ismaya, dan Sanghyang Manikmaya.

Bagaimana Semar dapat terhubung dengan Nabi Adam? Pastinya para punakawan tidak akan ditemui dalam cerita Ramayana dan Mahabharata yang asli (dari India), karena cerita Wayang Purwa ini dan khususnya cerita wayang lainnya sudah berasimilasi dengan kultur budaya Jawa dan Sunda. Dalam Wayang Purwa kita akan mendapatkan cerita mengenai Batara Kala, Dewi Sri yang pada masyarakat agraris di pedesaan Indonesia dipercaya sebagai dewi padi, dan pertempuran hidup mati antara Subali, Sugriwa dengan Lembusura-Maesura yang tengah menculik Dewi Tara putri Batara Sambu, serta lahirnya Hanoman yang diamanatkan oleh para dewa melalui Putri Anjani anak Resi Gotama.

Baca Juga :  Atletico Madrid dan Benfica Tembus Perempatfinal Liga Champions
Gambar 1 – Sumantri dan Sukrasana (sumber: Ardisoma)

Kisah-kisah itu terangkai secara apik. Namun yang membuat terkesan adalah kisah mengharukan dua orang kakak beradik yang bernama Raden Sumantri, pemuda gagah nan rupawan dan Sukrasana yg buruk rupa namun memiliki hati dan jiwa seputih pualam. Sukrasana berambut keriting, cebol, dan agak hitam. Dengan penampilan fisik semacam itu, Sumantri merasa malu dan adiknya hanya akan menjadi perintang karirnya. Meski ia tahu, kesaktian Sukrasana satu tingkat di atasnya. Setelah Sumantri menang telak, berhasil membebaskan Negeri Magada dari kepungan pasukan Widarba. Pasukannya membawa banyak tawanan dan rampasan yang berupa emas-berlian, ternak, dan para putri. Tapi Sumantri tak segera pulang. Di perbatasan, ia justru mengirim surat ke Maespati dan menantang Arjuna Sasrabahu untuk perang tanding. Ia sombong dan ingin mengukur dirinya.

Gambar 2 – Curhat Sumantri pada Sukrasana dalam Wayang Purwa (sumber: Ardisoma).

Sumantri akhirnya kalah melawan Arjuna Sasrabahu dan ia menerima hukumannya untuk memindahkan Taman Sriwedari dari khayangan ke Istana. Sebuah tugas yang mustahil dan membuat Sumantri hampir putus asa. Untungnya ia punya Sukrasana yang sakti. Dengan kesaktiannya, tugas itu diselesaikan Sukrasana dengan baik. Sayang, kehadiran Sukrasana yang buruk rupa membuat kekacauan para penghuni keputren yang sedang menyaksikan keindahan taman Sriwedari. Sumantri malu dan meminta adiknya segera pergi. Tapi Sukrasana menolak. Hingga akhirnya Sumantri pura-pura membidikkan anak panah ke arahnya. Tanpa diduga anak panah lepas. Sumantri kaget, tapi terlambat. Adiknya tewas terkena panahnya.

Arjuna Sasrabahu yang terkesan dengan kesaktian Sumantri karena dapat memindahkan Taman Sriwedari, kemudian mengangkatnya menjadi Patih Suwondo. Sumantri merasa mampu, juga pantas. Ia lupa, tanpa kesaktian Sukrasana, adiknya yang buruk rupa, Sumantri tidak bisa menunaikan tugas yang diberikan Arjuna. Sebelum moksa, Sukrasana memberi nujuman bahwa nanti Sumantri akan mati ketika melawan Rahwana. Memang nubuat itu terbukti, ketika bertempur dengan Rahwana, Sumantri gugur dengan mengenaskan. Rahwana berhasil membunuhnya setelah pertempuran yang panjang. Di Nirwana, kemudian Sumantri bertemu kembali dengan Sukrasana, adiknya yang setia. Mereka seperti mengulang kembali masa kanak-kanak yang bahagia, melupakan dendam dan rasa bersalah. Tragedi anak panah yang tidak sengaja melesat itu seperti tak pernah terjadi.

Baca Juga :  Finis Runner-up Liga 1 dan bakal ke Piala AFC, Bobotoh Sudah Tak Sabar Ingin Sambut Kepulangan Persib ke Bandung

Kisah lain adalah tingkah polah Raja Alengka, Rahwana yang berambisi untuk menjadi raja diraja dengan segala kesaktian dan keculasannya. Ia ingin tidak terkalahkan hingga dengan liciknya dapat menewaskan Subali, empunya Ilmu Pancasona. Dengan Ilmu Pancasona, Rahwana tidak dapat ditewaskan oleh siapa pun juga, hanya Arjuna Sasrabahu lah yang merupakan titisan Batara Wisnu yang dapat menaklukannya. Itulah kisah-kisah yang mengalir beruntai satu dengan lainnya, sehingga tanpa terasa para pembaca akan dibawa kepada sebuah cerita yang merupakan pendahuluan dari cerita Ramayana.

Ramayana terdiri dari dua versi yaitu versi India di mana Rama adalah sang tokoh baik. Satunya lagi adalah versi Alengka yang kini disebut Sri Lanka di mana Rahwana lah yang menjadi tokoh baik. Wayang Purwa dengan episode Arjuna Sasrabahu dan Sumantri-Sukrasana merupakan kreativitas Nusantara yang menghubungkan Ramayana dengan Mahabharata. Wayang Purwa pada bagian awal berkisah asal-usul para dewa dan dewi termasuk asal-usul Punakawan yang terdiri dari Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong – mereka yang ditugaskan mendampingi Pandawa, serta Togog dan Bilung yang mendampingi Kurawa. Di dalam Wayang Purwa pula tampil para tokoh yang tidak ada di Mahabharata mau pun Ramayana, seperti Wisanggeni, Antasena, Buriswara, dan Cakil.

Wisanggeni merupakan kreasi Wayang Purwa yang memiliki seluruh kesaktian yang ada di alam semesta ini sejauh kreatifitas para dalang menghendaki. Srikandi di Mahabharata banci sementara di Wayang Purwa perempuan sejati yang bahkan menikah dengan Arjuna. Namun baik di Mahabharata maupun Wayang Purwa, Srikandi tetap merupakan tokoh yang berhasil melumpuhkan meski tidak berhasil membunuh Bisma Dewabrata. Hanuman menurut versi India tampil di Ramayana namun juga mendampingi Bima di Mahabharata sebagai sesama titisan Dewa Bayu. Anoman dan Bima di Wayang Purwa sama-sama berkuku Pancanaka pada ibu jari. Gatotkaca di Wayang Purwa kesatria berkumis rupawan sakti mandraguna dan bisa terbang. Sementara di Mahabharata raksasa gundul juga sakti mandraguna namun tidak bisa terbang. Di Mahabharata, Drupadi poligamis bersuami Pandawa Lima kelima-limanya sementara di Wayang Purwa dimonopoli oleh Yudhistira saja. Begitu seperti yang ditulis Jaya Suprana.

Baca Juga :  Perlu Komitmen Dan Kerjasama, Cucu : Investasi Di Empat Wilayah Dongkrak Perekonomian Jabar

Kreativitas

Jaya Suprana mengatakan, kreativitas kisah Wayang Purwa tidak kalah dahsyat dibandingkan kreativitas para penggubah komik Marvel mau pun D.C. Mungkin Superman bisa menandingi Gatotkaca, Batman menandingi Bima, Spiderman menandingi Abimanyu, Wonder Woman menandingi Srikandi, Iron Man menandingi Arjuna, Aquaman menandingi Antasena, Doctor Strange menandingi Kresna. Namun tidak ada tokoh Marvel mau pun D.C. mampu menandingi kesaktian yang bahkan mampu menyedot kesaktian tokoh mana pun juga seperti kesaktian paripurna yang dimiliki oleh Wisanggeni. Thanos pun mustahil mampu mengungguli Wisanggeni yang hanya bisa dikalahkan oleh dirinya sendiri. Pada hakikatnya kandungan filsafat di dalam Wayang Purwa setara Iliad dan Odyssey mahakarya Homer.

Dalam artikelnya, “Perkembangan Wayang Alternatif di Bawah Hegemoni Wayang Kulit Purwa”, Bedjo Rianto mengatakan, dengan mengangkat repertoar klasik wayang, wajah komik sebagai ikon budaya populer seni kitch yang dianggap picisan, murahan dan dekaden berhasil dipoles untuk tampil sebagai karya budaya. Muatan sumber-sumber kebudayaan nasional itu dapat membentengi bangsa Indonesia dari pengaruh-pengaruh negatif kebudayaan asing kaum imperialis dan kaum neokolonialis yang dapat meracuni kepribadian kita yang luhur, halus, dan adiluhung. Gagah ya.

Generasi muda kota pasca kolonial baik masyarakat Jawa dan Indonesia pada umumnya mengenal cerita wayang justru dari komik-komik ‘kitch’ wayang ini, bukan dari pagelaran wayang kulit purwa yang klasik adiluhung itu. Kesadaran masyarakat Indonesia baru terhadap apa yang disebut seni pewayangan adalah kesadaran yang dibentuk oleh teks dan narasi Ardisoma atau RA Kosasih. Oleh karena visualisasi komik-komik wayang Ardisoma dan RA Kosasih banyak meminjam khasanah vocabulary visual wayang wong atau wayang golek Sunda, maka persepsi visual yang terbentuk dalam alam kesadaran kolektif masyarakat Indonesia terhadap wayang bukanlah representasi dekoratif stilistik wayang kulit purwa yang klasik itu, melainkan gambar-gambar berurutan (sequences) dan terjukstaposisi dalam panel-panel dan balon. Beruntung saya dikenalkan pada komik sejak usia dini sehingga dapat menikmati wayang tanpa berkerut kening.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

REFLEKSI | Itikaf dan Masjid Pelayan Umat

Rab Apr 27 , 2022
Silahkan bagikanOleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn. DALAM Quran surat Al Baqarah ayat 125, Allah SWT berfirman mengenai pelaksanaan itikaf di masjid, yang berbunyi ; Arab: وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ Artinya: Dan (ingatlah), […]