SKETSA | Yudistira

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

KALAU ada orang Indonesia yang bernama Yudi, dapat diperkirakan ia adalah anak pertama. Karena nama itu biasanya terinspirasi oleh Yudistira, anak laki-laki pertama keluarga Pandu. Pandu, ayah Yudistira adalah adik dari Dretarastra. Menurut hukum Negara Astina, seharusnya yang menjadi Raja adalah Dretarastra, tetapi karena ia buta maka Astina diserahkan kepada Pandu. Muncul masalah ketika Dretarastra kemudian mempunyai anak, yaitu Duryodana. Karena oleh Pandu, kerajaan kemudian diturunkan ke anaknya, Yudistira. Duryodana dan ke 99 adiknya tidak mendapat apa-apa. Sengkuni, paman Duryodana dari pihak ibunya, kerap memanas-manasi agar kekuasaan Yudistira direbut. Ia rajin memberikan saran jahat kepada Duryodana untuk menghalang-halangi langkah para Pandawa, walau sering kali gagal.

Gambar 1 – Yudistira (sumber: Pinterest).

Negara Astina adalah kerajaan yang kaya, dengan istana megah yang dinamai Indraprasta. Dalam bab Sabhaparwa, bab kedua dari kitab Mahabharata, diceritakan suatu hari Duryodana datang berkunjung ke Indraprasta, ia terkagum-kagum dengan kemegahan istana tersebut. Saat memasuki sebuah ruangan, Duryodana mengira sebuah kolam sebagai lantai, sehingga akhirnya tercebur. Kejadian tersebut disaksikan oleh para Pandawa sehingga mereka tertawa terpingkal-pingkal, kecuali Yudistira. Duryodana pun merasa terhina akan tanggapan para Pandawa. Setelah pulang dari Indraprasta, Duryodana sibuk memikirkan cara merebut kerajaan milik Yudistira itu. Sengkuni, paman Duryodana menawarkan ide untuk mengajak Yudistira main dadu dengan taruhan harta dan kerajaan. Niat tersebut disetujui oleh Duryodana, demikian pula Dretarastra, ayahnya, ikut terbujuk oleh akal bulus Sengkuni.

Gambar 2 – Adegan main dadu Yudistira dengan Sengkuni (sumber: Teguh Santosa, “Riwayat Pandawa”).

Pada hari yang dijanjikan, Yudistira bermain dadu dengan Duryodana yang diwakilkan oleh Sengkuni. Di awal permainan, Sengkuni membiarkan Yudistira menikmati kemenangan, tetapi pada pertengahan permainan, perjudian terus dimenangkan oleh Sengkuni berkat kesaktiannya dalam mengatur angka dadu. Setelah Yudistira kehilangan harta dan kerajaannya dalam perjudian, ia pun mempertaruhkan kebebasan adik-adiknya, termasuk Drupadi, istrinya. Namun tak satu pun yang dimenangkan oleh Yudistira, sehingga Pandawa dan Drupadi menjadi budak Duryodana. Para Pandawa pun diminta untuk melepaskan pakaian dan perhiasan mereka.

Baca Juga :  Sistem Digitalisasi Pemilu, Reynaldi : Mampukah Indonesia Menggelar Pemilu 2024 Secara Online

Setelah Pandawa ditelanjangi, Duryodana menyuruh Drupadi datang ke arena permainan, sebagai budak yang telah diperoleh melalui taruhan. Drupadi diseret secara paksa oleh Dursasana, adik dari Duryodana. Dursasana mencoba menelanjanginya, namun berkat pertolongan gaib dari Kresna, kain yang dikenakan Drupadi tidak pernah habis meski terus-menerus ditarik. Menyadari bahwa ide Sengkuni itu jahat dan masa depan keluarganya akan hancur, Dretarastra pun mengembalikan semua yang telah dipertaruhkan Yudistira, termasuk kebebasannya. Namun, hal itu menyebabkan kekecewaan besar bagi Duryodana. Akhirnya diadakanlah permainan dengan taruhan bahwa yang kalah harus hidup di tengah hutan selama 13 tahun. Sebagaimana permainan sebelumnya, Yudistira pun kalah. Akhirnya para Pandawa beserta istri mereka menjalani apa yang telah dipertaruhkan, terusir dari Astina, mengembara ke hutan Amarta. Indraprasta kemudian dikuasai Duryodana dan ke 99 adiknya.

Sampai hari ini saya bertanya-tanya bagaimana Yudistira dapat begitu mudah untuk ikut bujukan Sengkuni bermain dadu. Pertanyaan berikut adalah sebagai orang sakti, mengapa Yudistira tidak menyadari sedang dikelabuhi Sengkuni yang dengan ilmunya dapat mengatur hasil dadu sesuai keinginannya. Pertanyaan selanjutnya, alangkah teganya Yudistira mempertaruhkan adik-adiknya dan juga istrinya di meja judi. Apalagi Yudistira itu seorang ahli agama berkat berguru kepada Krepa. Dalam pewayangan Jawa, Yudistira mempunyai azimat yang bernama Jamus Kalimasada yang berguna untuk melindungi dirinya dari kejahatan. Menurut Kakawin Bharatayuddha yang ditulis tahun 1157, Kalimasada bermakna “obat mujarab Dewi Kali”. Begitu Islam mulai menyebar luas di Jawa, Kalimasada ditafsirkan sebagai “Kalimah Syahadah”, sebagai pengakuan terhadap Tuhan kaum Muslim.

Terlepas dari segala azimat dan kesaktian yang dimiliki, serta positioningnya sebagai orang paling jujur dan bijaksana, tak dapat dipungkiri Yudistira itu ternyata seorang penggila judi. Hal yang tidak banyak diekspose oleh para dalang. Dunia pewayangan selalu menyalahkan Sengkuni yang mencurangi Yudistira, tetapi kenyataannya anak tertua Pandu itu kalau berjudi jangankan harta tapi juga tahta, saudara bahkan istri bisa jadi taruhan. Dan itu dia lakukan dua kali. Dalam permainan pertama dia kalah dan kehilangan segalanya termasuk kekayaan, kerajaan dan saudara serta istri, tapi diselamatkan oleh Dretarastra yang meminta Kurawa mengembalikan seluruh yang mereka menangkan. Yudistira menerima ajakan untuk bermain dadu sekali lagi dengan taruhan yang kalah harus mengasingkan diri selama 13 tahun, dilanjutkan dengan ekstra 1 tahun untuk menyamar. Bila ditemukan saat menyamar maka harus mengulang kembali mengasingkan diri 13 tahun lagi. Dan Yudistira yang tidak belajar dari pengalaman, kembali kalah. Begitu parahnya kecanduan Yudistira pada judi.

Baca Juga :  Nyamar Jadi Perempuan, Modus Baru Begal Payudara di Bandung
Gambar 3 – Pandawa dengan semangat baru (sumber: Quora).

Setidaknya Mahabrata ingin menyampaikan suatu pesan yang sangat penting yaitu janganlah berjudi. Karena akibatnya bisa fatal. Namun ada hal positif dari penyingkiran Pandawa ke hutan Amarta, mereka kemudian menjadi pekerja keras. Hutan rimba yang gelap dan menyeramkan itu dibangun menjadi suatu kota yang maju dan menyaingi Indraprasta. Kesedihan dan kemurungan selanjutnya diubah menjadi semangat baru. Hal itu yang membuat Dretarastra cemas. Karena nafas kemajuan kota baru ini sudah terdengar sampai Astina. Ada sekumpulan orang yang sedang membangun IKN, tanpa diketahui identitasnya. Dan sebagian rakyat Astina sudah mulai berdatangan mencari lowongan dalam proyek pembangunan Amarta. Sehingga para Kurawa harus bersiaga menghadapi datangnya tahun ke 13, masa berakhirnya pengasingan para Pandawa.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Dinkes se-Jabar dan Praktisi Bahas Khusus Hepatitis Akut Misterius

Rab Mei 11 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | KOTA BANDUNG — Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), rumah sakit, laboratorium kesehatan daerah, serta dinas kesehatan 27 kabupaten/kota mengantisipasi kemunculan penyakit hepatitis akut misterius yang telah dinyatakan WHO sebagai kasus luar biasa. Jawa Barat sendiri tetap waspada meskipun belum menemukan […]