VISI.NEWS | MAJALAYA — Berdiri sejak tahun 1957, SMA BUPI (Badan Usaha Pendidikan Indonesia) Majalaya, merupakan sekolah menengah atas pertama di kawasan Majalaya, Kabupaten Bandung. Selama puluhan tahun, sekolah ini telah menjadi saksi bisu perjalanan pendidikan di wilayah tersebut dan melahirkan banyak tokoh yang kini tersebar di berbagai bidang profesi. Namun, di balik sejarah panjang dan kontribusinya, “mutiara” pendidikan di Majalaya ini, kini menghadapi realitas yang memprihatinkan: minim perhatian dari pemerintah dan masyarakat.
Sekolah yang berlokasi di Jalan Talun No. 9, Desa Majakerta, Majalaya ini berada di lingkungan yang strategis—dekat dengan SDN Cikaro 1 dan 2, SDN Majalaya 2, Gedung KONI Majalaya, dan Kantor Desa Majakerta. Letaknya yang cukup mudah dijangkau membuat SMA BUPI semestinya menjadi pilihan utama warga sekitar. Namun sayangnya, sejak beberapa tahun terakhir, pamor sekolah ini makin meredup.
Kepala Sekolah SMA BUPI Yanto Daryanto, S.Pd., yang ditemui VISI.NEWS di ruang kerjanya, akhir pekan kemarin mengungkapkan bahwa sejak tahun 2019 hingga saat ini, hanya dua orang dari total 17 tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah tersebut yang memiliki penghasilan layak. “Hanya saya dan satu guru lagi yang sudah sertifikasi. Sisanya masih menerima honor yang sangat minim,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini sangat berbanding terbalik dengan semangat para guru yang tetap setia mengajar walau dengan penghasilan yang tidak sepadan. “Banyak guru yang sudah mengabdi belasan tahun, tapi gaji mereka jauh dari kata cukup. Mereka tetap bertahan karena dedikasi dan cinta terhadap dunia pendidikan,” tambahnya dengan nada prihatin.
Ironisnya, Majalaya dikenal sebagai daerah yang cukup makmur dan banyak melahirkan pengusaha lokal yang sukses. “Majalaya ini daerahnya subur dan banyak orang dermawan, termasuk para alumni SMA BUPI yang kini sukses. Tapi kepedulian terhadap sekolah ini masih sangat minim,” ujarnya.
SMA BUPI bukan hanya sekolah tua, tapi juga sekolah yang sarat nilai sejarah. Dalam catatan yayasan, banyak tokoh masyarakat, pengusaha, hingga akademisi lulusan dari sekolah ini. “Salah satunya mantan petinggi TNI, politisi senior Kabupaten Bandung, tokoh pendidikan di luar Jawa, bahkan banyak yang duduk di pemerintahan, dulunya lulusan SMA BUPI,” ungkap salah satu guru senior.
Namun sayangnya, kejayaan masa lalu itu kini hanya tinggal cerita. Fasilitas sekolah sudah banyak yang usang, ruang kelas membutuhkan renovasi, dan sarana penunjang pembelajaran seperti laboratorium, komputer dan perpustakaan sangat terbatas.
Pihak yayasan BUPI sepertinya enggan mengajukan permohonan bantuan ke pemerintah daerah karena birokrasinya yang ribet, sehingga sampai saat ini belum pernah merasakan nikmatnya kue bantuan pemerintah baik dalam bentuk hibah maupun bantuan lainnya. “Alhamdulillah sampai saat ini kami belum pernah mendapatkan bantuan pemerintah. Jadi, sesulit apapun kita terbiasa mengatasi masalah sendiri. Dan, Alhamdulillah sampai hari ini, SMA BUPI masih eksis,” kata Kepala Sekolah.
Ia berharap ke depan pemerintah bisa lebih memerhatikan sekolah swasta yang punya sejarah panjang seperti SMA BUPI. “Sekolah swasta bukan pelengkap, tapi bagian dari sistem pendidikan nasional. Kalau kami mati, maka akan banyak anak yang kehilangan akses pendidikan,” tegasnya.
Tak hanya berharap pada pemerintah, Kepala Sekolah juga mengajak para alumni untuk ikut ambil bagian dalam upaya revitalisasi sekolah. “Kami punya banyak alumni sukses. Kedepan kita akan pikirkan adanya semacam ikatan alumni yang peduli, agar bisa menyokong perbaikan fasilitas dan kualitas pendidikan di SMA BUPI,” harapnya.
Sejumlah warga sekitar juga mengakui peran penting SMA BUPI dalam mendidik generasi muda Majalaya. “Dulu anak saya lulus dari SMA ini, sekarang sudah kerja di Jakarta. Tapi saya sedih lihat sekolahnya sekarang makin memudar,” ujar Asep, warga RW 03 Majakerta.
Warga lainnya, Ibu Siti, menyebutkan bahwa banyak orang tua memilih sekolah lain karena mengira SMA BUPI sudah tidak aktif. “Padahal sekolahnya masih jalan, cuma kurang promosi dan perhatian dari pemerintah dan masyarakat,” katanya.
Beberapa guru yang ditemui mengaku tetap bersemangat mengajar meski dengan kondisi seadanya. “Kami tahu gaji kecil, tapi kalau bukan kami siapa lagi yang menjaga sekolah ini tetap hidup?” kata Syifa Naoval Azmi (27) guru mata pelajaran ekonomi di sekolah tersebut.
Senada diungkapkan guru lainnya Rike Gustiana (29) guru mata pelajaran agama, “Dari sisi kualitas dan pembelajaran, Alhamdulillah SMA BUPI tetap menjadikannya prioritas, sehingga meski banyak keterbatasan di sekolah ini, tapi tak sedikit lulusan sekolah ini yang berprestasi. Kami berterima kasih kepada para orang tua yang masih punya semangat mencintai Majalaya, dan mendukung kesejarahan pendidikan di Majalaya,” ungkapnya.
Ia berharap generasi muda Majalaya tidak melupakan sejarah pendidikan di daerah mereka. “SMA BUPI ini bagian dari identitas Majalaya. Kalau hilang, maka hilang juga satu warisan penting pendidikan di sini,” tandasnya.
Untuk mengatasi keterbatasan, pihak sekolah berupaya menjalin kerja sama dengan lembaga non-pemerintah dan komunitas lokal. “Kami juga terbuka bagi siapa pun yang ingin membantu, baik secara materi maupun program,” kata Kepala Sekolah lagi.
Selain itu, SMA BUPI juga tengah mencoba memanfaatkan media sosial untuk promosi dan penggalangan dukungan. “Kami akan buat kanal YouTube dan Instagram sekolah agar orang tahu bahwa kami masih eksis dan butuh dukungan,” tambahnya.
Dengan semangat yang tetap menyala dan dedikasi yang tak tergoyahkan, SMA BUPI Majalaya berharap bisa kembali bangkit menjadi salah satu pilar pendidikan di wilayah timur Bandung. “Kami bukan hanya ingin bertahan, tapi ingin maju kembali,” pungkas Kepala Sekolah dengan penuh optimisme.
@aep s abdullah