Soloraya Akan Jadi Titik Pusat Mudik di Jawa Tengah. Ini yang Disiapkan

Editor Rombongan Komisi V DPR RI, mendengarkan paparan persiapan angkutan lebaran dari Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, Mohamad Risal Wasal, di Stasiun Solo Balapan/visi.news/tok suwarto
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | SOLO – Wilayah Kota Solo dan daerah sekitar, yakni Kabupaten Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Boyolali dan Klaten, yang biasa disebut Soloraya, pada masa lebaran 2022 diperkirakan akan menjadi titik pusat mudik di Jawa Tengah.

Dalam upaya mengantisipasi lonjakan jumlah pemudik, Komisi V DPR RI minta agar kebutuhan angkutan mudik melalui kereta api, bus dan pesawat terbang disiapkan dengan perhitungan yang akurat sehingga tidak terjadi masalah, khususnya bagi pemudik tujuan Soloraya dan Jawa Tengah pada umumnya.

“Kereta api kita minta menyiapkan armada dalam jumlah cukup, sehingga sebagai primadona angkutan massal bisa mengakomodasi para pemudik,” kata Ir. Sujadi, pimpinan rombongan Komisi V DPR RI, ketika meninjau kesiapan angkutan mudik lebaran 2022 dan beraudiensi dengan Ditjen Perkeretapaian, Kepala PT KAI Daop 6 Yogyakarta, Iwan Eka Putra, Kepala Balai Perkeretaapian Jawa Tengah dan pimpinan instansi terkait, di Stasiun Solo Balapan, Kamis (7/4/2022).
Sujadi menegaskan, titik sentral arus mudik dengan angkutan kereta api adalah Stasiun Solo Balapan dan dengan angkutan bus di Terminal Tirtonadi.

Dia menandaskan, pihak PT KAI harus melakukan perhitungan agar ada kepastian jumlah penumpang yang bakal menggunakan kereta api dan turun di Stasiun Solo Balapan maupun Yogyakarta.

“Harus dibuat prognosisnya berapa, supaya mendekati jumlah yang pasti, Sehingga, kalau bergeser jumlahnya tidak terlalu banyak,” tandasnya.

Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, menanggapi paparan persiapan PT KAI melayani angkutan lebaran, minta alokasi gerbong maupun lokomotif kereta api pada masa lebaran ditambah. Karena, jumlah pemudik diprediksi akan meningkat tajam setelah dua tahun pemerintah tidak melarang mudik karena PPKM.

“Persiapannya perlu didetailkan dan dijelaskan, kenapa ada pengurangan kapasitas gerbong kereta api. Sesuai prediksi, jumlah pemudik akan mencapai 80 juta sampai 90 juta orang, Saya kira, realisasinya bisa lebih dari itu,” tutur Gibran.

Baca Juga :  Vaksinasi Binda Jateng Sasar Masyarakat Kendal yang Belum Divaksin

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, Mohamad Risal Wasal, mengungkapkan, dalam rapat koordinasi dengan tim KAI Daop 6 Yogyakarta, pihaknya mendapat penjelasan jumlah KA yang dioperasikan rencananya berkurang. Karena dalam perhitungan belum memasukkan cuti bersama, serta kemungkinan adanya aturan pembatasan jumlah penumpang yang terkait dengan pandemi.

“Namun dengan keluarnya Instruksi Presiden, jumlah gerbong kereta api akan kami tambah untuk mengakomodasi melonjaknya jumlah penumpang melalui moda kerata api. Dengan perubahan KA TSO ( tidak siap operasi) menjadi SO ( siap operasi), minimal jumlah angkutan kereta api sama dengan saat belum pandemi pada tahun 2019,” kata Risal.

Sementara anggota Komisi VI dari Partai Gerindra, Sudewo, mengingatkan, Ditjen Perkeretaapian agar segera berkoordinasi dengan PT KAI dan pihak terkait untuk mengantisipasi lonjakan pemudik, sehingga kondisi dapat dikendalikan sedini mungkin karena saat ini merupakan masa transisi dari pandemi ke endemi.

“Jangan sampai terjadi kekacauan di stasiun saat terjadi lonjakan penumpang. Sekarang kita dalam perubahan dari kurang normal menuju normal. Tentu, masih banyak yang harus dibenahi Ditjen Perkeretapian, terutama pelayanan yang harus betul-betul dicermati,” ujar Sudewo kepada wartawan seusai audiensi.

Rombongan Komisi V DPR RI, selain meninjau Stasiun Solo Balapan, juga mengadakan audiensi yang sama dengan pengelola Terminal Tirtonadi dan Bandara Adi Soemarmo.@tok

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

REFLEKSI | Berdialog dengan Allah

Jum Apr 8 , 2022
Silahkan bagikanOleh Bambang Melga Suprayogi M.Sn. BAHASA komunikasi manusia adalah kata-kata, itu bila kita berdialog dengan sesama manusia dalam wujudnya yang nyata. Bagaimana jika kita berkomunikasi dengan manusia lainnya, yang berbeda bahasa, tentunya kita masih punya bahasa isyarat, jika kita tidak bisa bahasanya, atau juga dengan mempergunakan bahasa tubuh, baik […]