VISI.NEWS | KAB. BANDUNG – Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bertema ‘Kepemimpinan Umat dan Masa Depan Dakwah Politik di Indonesia’, digelar di Graha Berkah Sadaya Baleendah, Kabupaten Bandung, Senin (8/12/2025).
Kegiatan ini menghadirkan Anggota MPR RI, Ahmad Heryawan (Aher), sebagai narasumber utama dan melibatkan beberapa tokoh Umat dan lintas ormas di Kabupaten Bandung.
Dalam pemaparannya, Aher menegaskan bahwa umat Islam merupakan mayoritas demografis di Indonesia sehingga memiliki tanggung jawab strategis dalam kepemimpinan nasional.
Menurutnya, kepemimpinan umat tidak bisa dilepaskan dari irisan antara politik, dakwah, dan kebangsaan. Dakwah politik, kata Aher, menjadi arena penting dalam pembentukan etika publik dan arah kebijakan bernegara.
Aher menjelaskan bahwa kepemimpinan umat bersumber dari nilai-nilai amanah, keadilan, dan kemaslahatan. Kepemimpinan tersebut tidak terbatas pada jabatan formal, melainkan juga mencakup otoritas moral dan sosial.
“Dalam konteks ini, ulama, cendekiawan, dan tokoh masyarakat memiliki peran penting sebagai moral leaders yang membimbing umat.” ujar Aher
Lebih lanjut, Aher memaknai dakwah politik sebagai proses menyampaikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bernegara.
“Dakwah politik tidak semata-mata berorientasi pada perebutan kekuasaan, melainkan pada penanaman nilai, etika, dan moral dalam kebijakan publik.” tambahannya.
Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an menekankan prinsip amar ma’ruf nahi munkar sebagai tanggung jawab sosial, serta nilai keadilan (al-‘adl) dan kemaslahatan umum (maslahah ‘ammah).
Dalam perspektif ini, politik dipahami sebagai sarana ibadah sosial. Aher juga mengulas perjalanan historis dakwah politik di Indonesia, mulai dari peran ulama dalam pergerakan nasional seperti Sarekat Islam dan Masyumi, hingga transformasinya pada era Orde Baru dan Reformasi.
Menurutnya, terjadi pergeseran penting dari politik simbolik menuju politik yang lebih substansial dan berorientasi pada nilai.
Aher juga menyoroti berbagai tantangan kepemimpinan umat kontemporer. Di antaranya adalah fragmentasi umat, polarisasi politik identitas, komodifikasi agama dalam kontestasi elektoral, serta menurunnya kepercayaan publik terhadap elite moral.
Ia juga menekankan bahwa media sosial kini menjadi ruang baru dakwah dan mobilisasi politik, namun di sisi lain menyimpan risiko hoaks, ujaran kebencian, dan penyederhanaan pesan agama. Karena itu, literasi digital dan etika dakwah siber menjadi kebutuhan mendesak.
Terkait hubungan kepemimpinan umat dan demokrasi, Aher menyampaikan bahwa kepemimpinan umat dapat berkontribusi positif terhadap demokrasi deliberatif. Ulama berperan sebagai penyeimbang kekuasaan melalui fungsi moral check and balance, sementara dakwah politik mendorong partisipasi politik yang beretika dan bertanggung jawab.
Menutup pemaparannya, Aher menegaskan bahwa kepemimpinan umat merupakan fondasi moral bagi kehidupan politik Indonesia. Dakwah politik di masa depan harus berorientasi pada etika dan kemaslahatan bersama, karena peran umat sangat menentukan kualitas demokrasi dan keutuhan bangsa. @Ihda












