VISI.NEWS | BANDUNG – Dadan Hindayana, akademisi sekaligus pakar entomologi kelahiran Garut, 10 Juli 1967, kini dikenal publik sebagai sosok penting di balik arah baru kebijakan gizi Indonesia. Sejak 19 Agustus 2024, ia resmi menjabat sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN)—lembaga baru yang dibentuk pemerintah untuk memperkuat tata kelola gizi nasional. Penunjukannya menandai babak baru pemimpin teknokrat yang berangkat dari dunia ilmiah untuk mengabdi di ranah pelayanan publik.
Masa kecil Dadan di Garut diwarnai kecintaan pada ilmu alam yang kemudian membawanya menempuh pendidikan menengah di SMA Negeri Cimindi Cimahi (kini SMAN 13 Bandung). Ia merupakan angkatan 1986, satu angkatan dengan Panglima TNI, Agus Subiyanto—sebuah catatan menarik yang kerap diingat publik dan menunjukkan bagaimana kedua putra daerah itu kemudian menempati posisi penting pada lintasan karier yang berbeda.
Ketertarikannya pada dunia pertanian dan organisme pengganggu tanaman mengantarkannya ke Institut Pertanian Bogor (IPB). Di kampus inilah ia menamatkan studi Strata 1 pada bidang Proteksi Tanaman pada tahun 1990. Dari sini, minatnya pada serangga—khususnya peranannya dalam ekosistem pertanian—kian berkembang.
Perjalanan akademis Dadan kemudian membawanya jauh dari tanah air. Ia melanjutkan studi S2 Entomologi Terapan di University of Bonn, Jerman, dan menyelesaikannya sekitar tahun 1997. Keahliannya semakin diperdalam dengan gelar doktoral yang diraihnya dari Leibniz Universität Hannover pada tahun 2000. Selama menempuh pendidikan di Jerman, ia banyak meneliti interaksi antara serangga dan lingkungan, sebuah fondasi ilmiah yang kelak berpengaruh pada pendekatannya terhadap isu gizi dan ketahanan pangan.
Usai kembali ke Indonesia, Dadan aktif sebagai akademisi dan peneliti IPB. Kiprahnya mencakup berbagai penelitian terkait serangga, hama tanaman, hingga pendekatan ekologi yang berkelanjutan. Ia dikenal sebagai sosok yang konsisten mengedepankan data ilmiah dan pendekatan berbasis bukti dalam setiap kajian yang ia hasilkan. Reputasinya sebagai akademisi memperkuat legitimasi ketika ia ditunjuk menjadi kepala BGN.
Dalam perannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan menghadapi tantangan besar: memastikan bahwa kebijakan gizi Indonesia tidak hanya reaktif tetapi juga preventif, berkelanjutan, dan berbasis riset. Meski latar belakangnya berada di bidang entomologi, pemahaman mendalamnya mengenai ekologi pangan dan sistem pertanian menempatkannya sebagai figur yang relevan untuk menghubungkan isu gizi dengan ketahanan pangan nasional.
Di bawah kepemimpinannya, BGN diarahkan untuk mengoordinasikan berbagai program lintas kementerian dan lembaga, mulai dari penanganan stunting, keamanan pangan, hingga pemenuhan gizi seimbang bagi seluruh kelompok masyarakat. Pendekatan ilmiah yang ia bawa berusaha mempercepat integrasi riset dengan kebijakan publik.
Mengemban tanggung jawab besar sebagai kepala lembaga strategis baru bukanlah perkara mudah. Namun rekam jejak akademis, pengalaman internasional, dan reputasinya sebagai teknokrat membuat Dadan Hindayana menjadi figur yang dinilai mampu membawa perubahan signifikan. Dari dunia serangga hingga panggung kebijakan, perjalanan kariernya menunjukkan bahwa keahlian ilmiah dapat memainkan peran penting dalam menjawab persoalan gizi bangsa.
Dengan latar belakang yang kuat dan visi yang berorientasi jangka panjang, Dadan Hindayana kini menjadi salah satu tokoh yang paling disorot dalam upaya pemerintah memperkuat kesehatan dan ketahanan gizi masyarakat Indonesia. Ia adalah contoh bagaimana ilmu, pengalaman, dan integritas dapat bertransformasi menjadi pengabdian bagi negara.
@uli












