VISI.NEWS | BANDUNG – Marah sering dianggap sebagai emosi negatif, padahal sebenarnya merupakan respons alami tubuh terhadap ancaman atau ketidakadilan. Di balik ledakan emosi ini, terdapat proses biologis dan neurologis yang kompleks di otak.
Saat amarah muncul, amigdala bertindak cepat dengan memicu respons fight-or-flight untuk melindungi diri. Akibatnya, detak jantung meningkat, tekanan darah naik, otot menegang, dan tubuh melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Sementara itu, prefrontal cortex berusaha menenangkan kondisi dengan berpikir rasional, tetapi sering kalah cepat dari reaksi emosional amigdala.
Jika amarah dibiarkan berulang atau berkepanjangan, dampaknya bisa serius. Risiko gangguan kesehatan seperti hipertensi, penyakit jantung, hingga kecemasan meningkat. Selain itu, emosi yang tidak terkendali berpotensi merusak hubungan sosial dan menurunkan kualitas hidup.
Meski begitu, marah juga punya sisi positif: ia menjadi sinyal adanya batasan diri atau kebutuhan yang belum terpenuhi. Kuncinya adalah mengelola amarah dengan tepat. Teknik pernapasan dalam, meditasi, mindfulness, hingga olahraga teratur dapat membantu mengaktifkan kembali prefrontal cortex untuk menenangkan pikiran.
Selain itu, terapi kognitif perilaku (CBT) serta kebiasaan sehat seperti tidur cukup dan pola makan seimbang juga terbukti meningkatkan ketahanan emosional. Dengan pemahaman ini, marah bukan lagi musuh, melainkan sinyal yang bisa direspons dengan bijak.
@ffr












