TAFAKUR: Narasi Hubungan Islam dan Sains (2/Habis)

Editor Kang Hasan/detik.com/ist.
Silahkan bagikan

SAAT ini baru ada 3 pemenang Hadiah Nobel di bidang sains dari negara-negara muslim, dan semuanya bekerja di luar negara mereka sendiri.

Sementara itu Israel saja sudah memiliki 6 pemenang Hadiah Nobel Kimia, ditambah 2 pemenang Hadiah Nobel Ekonomi.

Dalam suasana itu, kajian tentu saja ada hiburan lain, yaitu mengenang kontribusi ilmuwan muslim di masa lalu, seperti kontribusi Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan sebagainya.

Tentu saja dengan klaim bahwa tanpa kontribusi mereka dunia sains modern tidak akan ada.

Yang harus dikaji secara serius oleh umat Islam sebenarnya adalah bagaimana meningkatkan kontribusi terhadap perkembangan sains.

Bagaimana kebijakan yang harus dibuat oleh negara-negara berpenduduk muslim agar sains berkembang.

Berapa besar anggaran, bagaimana peneliti diperlakukan, apa yang harus dijadikan prioritas, bagaimana strategi untuk mengejar ketertinggalan, dan sebagainya.

Yang tak kalah serius adalah bagaimana muslim harus bersikap terhadap sains dan komunitas ilmuwan internasional.

Apakah terus-menerus mengatai sains sebagai sesuatu yang jauh dari nilai ketuhanan akan menghasilkan sains baru, atau malah menjauhkan muslim dari sains?

Selain itu, bagaimana pendidikan terhadap anak-anak harus diselenggarakan. Apakah pola pendidikan seperti sekarang, yang ramai-ramai mendorong anak-anak untuk menjadi penghafal Quran adalah pola yang tepat untuk menghasilkan ilmuwan andal?

Apakah penerima Hadiah Nobel seperti Abdus Salam, Ahmed Zewail, Abdul Aziz Sancar itu adalah para penghapal Quran?

Lalu, bagaimana etos kerja yang seharusnya dimiliki oleh para peneliti di negeri-negeri muslim? Apakah mereka sudah bekerja sekeras para peneliti dari negeri lain seperti Jerman, Jepang, Cina, Israel, dan sebagainya?

Apa peran ajaran Islam dalam mendorong dan menyemangati orang-orang untuk bekerja keras?

Kajian-kajian seperti itu punya konsekuensi. Ketika sudah didapatkan rumusan, maka rumusan itu harus dilaksanakan. Melaksanakannya berarti mengubah sikap dan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dipraktikkan.

Baca Juga :  Bawaslu Provinsi Jawa Barat: Tingkat Pelanggaran Pilkada di Kabupaten Bandung Termasuk Tinggi

Berubah bukanlah hal mudah. Berubah bukanlah hal yang disukai. Berubah memerlukan energi besar, dan tentu saja itu mengganggu kenyamanan.
Itu mungkin sebabnya kenapa kajian-kajian dengan tema-tema tersebut tidak menarik.

Tak ada hiburan di situ. Yang ada hanyalah tuntutan untuk bekerja lebih keras lagi, dan itu tidak enak. Lebih enak mendengar kajian-kajian yang menghibur tadi. @fen/sumber: detik.com

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

UMRAH: Komnas, "Kemenag dan PPIU Harus Jamin Hak Jemaah"

Ming Feb 7 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Pemerintah Arab Saudi menutup akses masyarakat muslim dunia untuk beribadah umrah. Kebijakan ini diberlakukan kepada 20 negara termasuk kepada Indonesia dalam rangka pengendalian pandemi Covid-19 di negara tersebut dan memaksimalkan program vaksinasi yang sedang berlangsung.  Ketua Komnas Haji Umrah Mustolih Siradj mengatakan, kebijakan ini tentu saja cukup […]