Tak Tega Anak Harus Dipasung, Endang Berharap Bantuan Pemerintah

Editor YS (baju hitam) pemuda berusia 31 tahun ini terpaksa dipasung oleh keluarganya./visi.news/ayi kuraesin.
Silahkan bagikan

– “Peristiwa nahas terjadi ketika YS berusia 15 tahun. Saat itu YS menikam anak tetangga hingga tewas.”

VISI.NEWS – YS, pemuda berusia 31 tahun warga Kampung Sabeulit, Desa Cipatujah, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, ini terpaksa dipasung oleh keluarganya.

Sejak tiga bulan lalu lelaki pengidap gangguan jiwa ini menghabiskan hari-harinya di ruangan kayu berukuran 170 X 80 centi meter. Kesehariannya, YS dirawat oleh bapaknya, Endang (59). Sementara ibunya, sudah menikah lagi sejak bercerai dengan bapaknya.

Gangguan jiwa yang diderita YS, sebenarnya sudah sejak kecil. YS kerap berperilaku aneh. Awalnya, ketika YS berusia 7 tahun tenggelam di kolam kemudian mengalami sakit.

Sejak itu, YS kerap berperilaku aneh, disusul sikapnya seperti kerasukan makhluk halus. Bahkan, YS sering pergi ke hutan selama berbulan-bulan.

“Waktu berusia 7 tahun, anak saya pernah tercebur ke kolam. Sejak itu kerap sakit-sakitan dan seperti yang kesurupan,” kata bapak kandung YS, Endang (59) ketika ditemui wartawan, Minggu (27/12/2020).

Menurut Endang, anaknya pernah diobati secara medis, bahkan dibawa ke orang pintar. Namun kondisi ekonomi yang pas-pasan, membuat proses pengobatan tak berlanjut.

Kondisi YS pun tak kunjung membaik. Perilaku YS malah semakin parah dan aneh. YS kerap mengamuk, bahkan dirinya yang selama ini mengurus dan merawatnya tak luput dari amukan YS.

Endang mengaku sebenarnya tak tega memasung anaknya. Namun karena keterpaksaan dan demi keselamatan, akhirnya YS dipasung. Itu pun setelah seizin dari pihak kepolisian.

“YS sengaja dipasung karena sering mengancam dan menganiaya. Bahkan, saya juga kerap diancam dan dianggap gila,” ucapnya.

Dikatakan Endang, peristiwa nahas terjadi ketika YS berusia 15 tahun. Saat itu YS menikam anak tetangga hingga tewas. YS membunuh anak tetangganya karena berhalunisasi bahwa anak tersebut (korban) merupakan seekor hewan monyet.

Baca Juga :  Pratama Persadha: Komisi PDP Tidak Akan Maksimal Dibawah BSSN

Sejak kejadian itu, Endang dan YS diusir oleh tetangganya dari kampung dulu. Hingga akhirnya, Endang dan YS terpaksa pindah ke rumah yang saat ini dihuni. Rupanya, ujian dan keprihatinan Endang belum berakhir. Karena sejak diusir dan pindah rumah, istrinya tiba-tiba meminta cerai dan saat ini sudah menikah lagi.

“Atas izin dari kepolisian dan masyarakat, sejak tiga bulan lalu YS akhirnya dipasung untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan,” ujarnya.

Kini meski merasa tak tega melihat anaknya, Endang tak bisa berbuat banyak untuk kesembuhan anaknya. Endang yang kesehariannya sebagai pembantu di Polsek dan mencari barang bekas, kondisi ekonominya pas-pasan atau tidak mampu. Endang hanya bisa bersabar dan tabah dengan kondisinya saat ini.

Namun demikian, Endang sangat berharap pemerintah bisa membantu memfasilitasi penyembuhan YS. Endang mengaku meski kini YS diperlakukan tidak wajar, dia sangat menyayangi anaknya tersebut. Bahkan, Endang mengaku tak akan pernah meninggalkan apalagi menterlantarkan YS meski hidupnya susah. @arn

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Sambut Libur Nataru, Pemkab Pangandaran Sediakan Alat Rapid Test Antigen

Ming Des 27 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Pemerintah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, menyambut liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2020-2021 menyediakan alat test rapid antigen sebanyak 600 buah untuk pengunjung dan sedang diupayakan hingga 6.000 buah pada Minggu (27/12/2020). Bupati Pangandaran, H Jeje Wiradinata, saat memantau situasi kunjungan dan pelaksanaan pengambilan sampling hasil rapid […]