Tan Deseng, “Pendekar Karawitan Sunda”

Editor :
Tan Deseng (tengah) didampingi budayawan/seniman Boy Worang (kiri) dan seniman luar negeri ( kanan)./visi.news/istimewa.

Silahkan bagikan

Catatan Akhmad Zall *)

VISI.NEWS – “Belahlah dadaku,
maka akan mengalir darah Sunda.”

Ungkapan tersebut dilontarkan Tan Deseng, totok Tionghoa yang kesundaannya tidak diragukan lagi.

Kesungguhan Tan Deseng cinta terhadap suku Sunda tak hanyadi bibir, ia buktikan dengan memperdalam corak budaya Sunda. Tan Deseng menjadi ‘urang Sunda pituin’. Orang Cina yang nyunda dan tak berlebihan jika dalam hal seni dan budaya tampaknya lebih nyunda daripada orang Sunda.

Tan Deseng dilahirkan di Gang Tamim (Pasar Baru) Kota Bandung, 22 Agustus 1942 lalu.
Di usia 17 tahun Tan Deseng mulai berguru waditra kecapi kepada Ebar Sobarna dan Sutarya. Lalu di usia 19 tahun melanjutkan cita-cita besarnya dengan belajar tembang cianjuran kepada Nyi Mas Saodah yang waktu itu dikenal sebagai ‘panembang’ paling kahot di Jawa Barat.

Tak puas sampai di situ, Tan Deseng kian ‘daria’ memperdalam budaya Sunda. Deseng ‘kapincut’ untuk memperdalam seni wayang golek. Tidak tanggung-tanggung tempat yang disambanginya yaitu Padepokan Wayang Golek Giriharja. Deseng menimba ilmu pedalangan dari dedengkot dalang wayang golek yaitu Abah Sunarya, bahkan juga kepada Ade Kosasih Sunarya, dan Asep Sunandar Sunarya.

“Urang lahir di Bandung di tatar Sunda. Jadi urang kudu nguasai budaya Sunda. Teu saukur ngaku wungkul bari jeung teu nyaho budaya sorangan,” aku Deseng yang didampingi budayawan dan seniman Jawa Barat Boy Worang. Boy adalah orang kepercayaan Tan Deseng.

Musik-musik tradisi Sunda menurut pria yang dilahirkan 78 tahun silam itu, sanggup melahirkan kedamaian bahkan bisa menyayat kalbu. Alasan itulah yang membuat lelaki Gang Tamim ini jatuh cinta pada musik Sunda.

Atas keuletan dan kegigihan menggeluti alat musik tradisi Sunda, Tan Deseng dijuluki sebagai “Pendekar Karawitan Sunda.” Kiprahnya ikut ‘ngamumule’ budaya Sunda terus berlanjut.

Baca Juga :  Dandim 0624/Kabupaten Bandung Tinjau Tempat PSU Desa Rancaekekkulon

Pada tahun 1959 Deseng berkolaborasi dengan pesinden kawakan Titim Fatimah, Euis Komariah, dan Tati Saleh. Deseng memang seniman si manusia langka yang serbabisa memainkan berbagai alat musik.

Dengan gitar ia bisa memainkan nada dan irama kecapi yang pentatonis. Dengan kecapi pula, Deseng mampu memainkan irama gitar yang diatonis.

Deseng bisa memainkan pelbagai instrumen musik. Seperti kecapi, suling, rebab, gendang, keyboard, biola, gitar, drum, piano, dan alat musik lainnya.

Berkat keuletan dan kegigihannya dalam menggeluti budaya Sunda, Deseng menjelma menjadi seorang seniman nasional bahkan diakui oleh dunia internasional.

Deseng menyandang pelbagai prestasi tertinggi. Di antaranya tahun 2002 menerima penghargaan dari Presiden RI, Megawati Soekarno Putri pada acara “Sawengi di Tatar Sunda.” Tahun 2007 meraih Piala Metronome dari Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) sebagai pengembang seni musik Sunda.

Tahun 2008 Deseng memperoleh anugerah Maestro Musik Karawitan dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Masih banyak lagi penghargaan lainnya yang diterima Deseng. Termasuk penghargaan dari dunia internasional.

Prihatin

Tan Deseng yang sanggup menumbuhkan sikap nasionalisme dan toleransi, kini hidupnya harus bergulat dengan serba keprihatinan dan tiada keberdayaan.

Di usianya yang semakin uzur, Tan Deseng mulai dilanda sakit-sakitan dan membutuhkan uluran tangan terutama dari para pemangku di tatar Sunda khususnya bupati, wali kota, dan Gubenur Jawa Barat.

Tan Deseng adalah aset Jawa Barat yang berjasa dalam mengembangkan budaya Sunda baik di kancah regional, nasional, bahkan internasional.

Dalam menjalani masa tuanya, Tan Deseng harus berpindah-pindah tempat, dari rumah kontrakan ke kontrakan lain sehingga Tan Deseng dijuluki “Raja Kontrak.”

Tan Deseng sebenarnya ingin menikmati pensiun dari kehidupan berkesenian, akibat impitan kesulitan hidupnya. Namun, atas support material dari Leon Hanafi (pengusaha) yang peduli terhadap kiprahnya dan seni tradisi, Deseng masih mau berkiprah dalam seni budaya tradisional.

Baca Juga :  Tips Panduan Liburan di Kota Bandung Saat Libur Akhir Tahun

Alamat rumah kontrakan terakhir Tan Deseng Kompleks Taman Holis Indah I Blok C3 no 9 Kota Bandung. *(penulis wartawan senior)

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Partai Koalisi NU Pasti Targetkan 51 Persen Dalam Pilbup BandungĀ 

Kam Nov 19 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Partai koalisi pasangan calon Bupati Bandung nomor urut 1, Hj. Kurnia Agustina Naser dan H. Usman Sayogi (NU) Pasti Sabilulungan, menargetkan kemenangan suara hingga 51 persen di Pilbup Bandung. Hitungan akumulasi kemenangan tersebut sudah dirasionalisasi dengan sejumlah strategi dan kerja di lapangan selama ini. Sekjen DPD Golkar […]