Tangis Imam Masjidil Haram Berkali-kali Pecah di ‘Malam Lailatul Qodar’

Suasana sepi malam 'Lailatul Qodar'di Masjidil Haram, Mekah, Selasa (19/5/2020) waktu setempat. /saudigazette.com.sa
Jangan Lupa Bagikan
  • Malam Lailatul Qodar yang jatuh pada 27 Ramadan di Masjidil Haram dan Nabawi biasanya dipadati jutaan jemaah  kali ini sepi akibat pandemi Covid-19.

VISI.NEWS – Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah serta di halaman kedua masjid yang luas tampak kosong pada Selasa (19/5/2020) waktu setempat yang biasanya dipenuhi oleh jutaan umat Islam karena bertepatan dengan malam 27 Ramadan.

Hanya sejumlah kecil jamaah, termasuk pejabat Presiden Jenderal Urusan Dua Masjid Suci, dan para pekerja kebersihan yang menghadiri salat Isya dan doa malam khusus Tarawih serta Qiyamullail di kedua masjid suci tersebut. Mereka terlibat khusu memohon doa kepada Allah SWT untuk membantu umat beriman dalam mengatasi krisis saat ini yang disebabkan oleh pandemi coronavirus.

Salat Isya dan Tarawih di malam turunnya KItab Suci Al Quran pada 27 Ramadan 1441 Hijriah  yang hanya diikuti oleh staf dan para pekerja Masjidil Haram./saudigazette.com.sa

Di Masjidil Haram, Kepala Kepresidenan dan Imam Masjid Syekh Abdul Rahman Al-Sudais, memimpin salat. Dalam bacaan salatnya, berkali-kali diwarnai  tangisan Al-Sudais yang berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT untuk menyelamatkan seluruh umat manusia dari kesengsaraan akibat pandemi Covid-19 ini.

Itu adalah pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Masjidil Haram dimana ratusan ribu jemaah haji dan pengunjung biasa berduyun-duyun dengan barisan jemaah meluap ke halaman dan wilayah sekitarnya selama bulan suci, terutama selama sepuluh hari terakhir Ramadan dan pada malam ke-27.

Staf dan pekerja di Masjidil Haram yang mengikuti salat Isya dan Tarawih di malam 27 Ramadan 1441 Hijriah./saudigazette.com.sa

Akibat Lockdown

Adegan sepi adalah hasil dari lockdown 24 jam yang diberlakukan di kota suci sebagai bagian dari tindakan pencegahan luar biasa yang diambil oleh otoritas Saudi untuk melindungi warga, ekspatriat, dan peziarah dari pandemi coronavirus

Karena kota suci terus berada dalam situasi jam malam 24 jam, sangat menyakitkan bagi orang-orang yang berkeyakinan untuk menghabiskan waktu mereka dalam doa dan permohonan di rumah mereka pada malam hari, yang diyakini sebagai Lailatul Qodar, Malam Seribu Bulan.

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi SAW pada Malam Lailatul Qodar, yang lebih baik dari seribu bulan. Pada tahun-tahun sebelumnya, lebih dari dua juta jamaah telah memadati Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah untuk mengikuti salat Isya dan doa malam khusus Tarawih dan Qiyamullail pada malam ke 27 Ramadan.

Masjidil Haram yang biasanya dipadati jutaan muslim dari seluruh dunia pada malam 27 Ramadan 1441 akibat pandemi Covid-19 hanya beberapa baris saja yang salat./saudigazette.com.sa

Orang beriman biasa melakukan umrah dan melakukan permohonan, mencari berkah dan pengampunan yang tak terbatas dari Allah SWT. Semua lantai Masjidil Haram dan halamannya dipenuhi oleh jamaah, dan barisan jamaah tumpah ke jalan-jalan di sekitar Masjidil Haram.

Sementara itu, kepresidenan telah mengintensifkan upayanya untuk membersihkan dan mensterilkan Dua Masjid Suci tujuh kali setiap hari. Para pekerja terlibat dalam melakukan sterilisasi di semua lantai, koridor dan halaman dan daerah sekitarnya, menggunakan sterilisasi ramah lingkungan dan bahan pembersih. Kepresidenan mendistribusikan masker dan sarung tangan untuk para pekerja kebersihan dan menggunakan kamera termal untuk deteksi dini coronavirus.

Kepresidenan menunjukkan ketelitian yang tinggi dalam memastikan keamanan maksimum tempat suci umat Islam dengan mengambil semua tindakan pencegahan. Pihak kepresidenan telah membuat gerbang sterilisasi mandiri yang canggih di pintu masuk Masjidil Haram. Gerbang ini dilengkapi dengan teknologi terbaru dan dipasang sebagai bagian dari upaya pencegahan.

Gerbang canggih ini digunakan untuk mensterilkan orang dengan semprotan sanitizer dan dilengkapi dengan kamera termal untuk menguji suhu mulai dari enam meter dan layar pintar untuk membaca cepat suhu beberapa orang secara bersamaan.

Gerbang canggih ini telah ditetapkan sebagai bagian dari langkah-langkah pencegahan yang dilakukan oleh presiden untuk memerangi coronavirus. Presidensi juga tertarik untuk menegakkan jarak yang cukup antara baris dan di antara para jemaah saat melakukan doa.@mpa/saudigazette.com.sa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Meski Permintaan Menurun, Harga Mobil Bekas Selama Ramadan Relatif Stabil

Kam Mei 21 , 2020
Jangan Lupa Bagikan Penurunan jumlah listing dan permintaan mobil terjadi konsisten pada segmen B2C dan C2C VISI.NEWS – Merebaknya wabah Covid-19 di dunia telah berdampak pada berbagai sektor, tidak terkecuali pada industri mobil Indonesia. Pada kondisi umum, bulan Ramadan biasanya menjadi momentum peningkatan penjualan mobil, menyusul adanya penerimaan Tunjangan Hari […]