TAUSIAH: 5 Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Menghadapi Kematian

Editor KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym./instagram @aagym./ via okezone.com/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – KH Abdullah Gymnastiar atau akrab disapa Aa Gym mengungkapkan hal-hal yang harus dipersiapkan dalam menghadapi kematian.

Kematian sendiri adalah hal yang niscaya dalam kehidupan. Semua makhluk bernyawa pasti akan mengalami kematian.

Tidak ada yang tahu kapan dan di mana seseorang akan meninggal dunia, karena kematian adalah rahasia Allah subhanahu wa taala.

Oleh karena itu, kematian terkadang menjadi sesuatu yang banyak ditakutkan oleh manusia.

Namun sebelum ajal menjemput, sebagai seorang muslim sudah semestinya membekali diri menghadapi kematian.

Lantas bekal apa saja yang harus dipersiapkan? Berikut penjelasannya, sebagaimana dikutip dari unggahan akun Instagram @aagym, Rabu (28/7/2021).

1. Jangan pernah menunda kewajiban

Kematian bisa datang kapan saja. Maka pastikan kaum muslim jangan sampai menunda kewajiban, terlebih yang terkait ibadah seperti salat, puasa yang tertinggal, wajib zakat, termasuk juga haji bagi yang mampu.

Selain itu, pastikan memerhatikan kewajiban lainnya di luar beribadah, namun masih terkait amalan, seperti melunasi utang kepada orang lain.

Apa pun yang menjadi kewajiban sebaiknya segera laksanakan dan tuntaskan, jangan menunggu sampai ajal akan menjemput.

2. Jangan menunda taubat

Manusia adalah tempatnya salah dan khilaf. Ketika melakukan suatu amal perbuatan buruk atau dosa, bakal mengancam keselamatan seseorang ketika menghadapi kematian.

Dosa, selain bisa memberatkan urusan di alam kubur dan akhirat, juga bisa mencelakakan seseorang. Maka pastikan jangan sampai menunda pertobatan dari dosa-dosa yang ada, terlebih lagi yang dilakukan secara sadar dan sengaja.

Niatkan sungguh-sungguh dalam hati untuk bertobat dan carilah serta lakukan amalan-amalan yang dapat menghapus dosa dan membuat pertobatan diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

3. Jangan menganggap remeh maksiat

Baca Juga :  Truk Hantam Antrean Gerbang Pelabuhan Bakauheni, Tiga Tewas

Ajal bisa menjemput seseorang kapan saja, termasuk di saat sedang melakukan maksiat. Banyak juga orang yang meninggal saat sedang berzina, mabuk, judi, dan tindakan tercela lainnya. Maka itu, jangan sampai menjadi salah satunya, yaitu mengalami kematian di saat sedang melakukan perbuatan maksiat.

Cara mengantisipasinya, selalu ingatlah dengan kematian ketika akan berbuat maksiat. Niscaya bakal terhindar dari meninggal dalam keadaan maksiat.

4. Jangan sia-siakan kebersamaan

Ketika memiliki waktu untuk bertemu dengan keluarga, orangtua, sahabat dan kerabat, manfaatkan serta maksimalkanlah kesempatan tersebut dengan memberikan kesan sebaik mungkin.

Selain menjaga tali silaturahmi, saat ajal menjemput dan harus berpisah dengan mereka, orang nantinya akan mengingat hal-hal baik terhadap diri kita.

Hal itu sangat diperlukan agar lancar dan lapang jalan seseorang ketika menghadapi alam kubur dan juga kehidupan akhirat nantinya.

5. Sisakan hanya kebaikan pada diri Anda

Selain membuat kesan baik terhadap orang lain, pastikan Anda juga membuat kebaikan bagi diri sendiri. Pastikan Anda senantiasa berbuat baik dalam pikiran, perkataan, dan tindakan. Semisal orang lain ada berbuat tidak baik, Anda harus tetap husnuzan atau berbaik sangka dan tidak membalas perbuatan jahat tersebut.

Penting sekali bagi kita untuk menyisakan dan membiasakan kebaikan untuk diri sendiri karena orang akan diwafatkan dalam kebiasaannya.

Barangsiapa yang baik, maka mudah bagi Allah subhanahu wa taala untuk mewafatkannya dalam keadaan husnul khatimah atau meninggal dalam keadaan yang baik.

Semoga kita senantiasa dalam lindungan Allah subhanahu wa taala hingga akhir hayat. Wallahu a’lam bishawab. @fen/okezone.com

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Tiga Tanggung Jawab Utama Ulama

Rab Agu 11 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Miftachul Akhyar menyampaikan tiga tanggung jawab yang layaknya dimiliki seorang ulama saat hadir dalam Konferensi Fatwa Internasional ke-6 yang digelar Dâr Al Iftâ’ Mesir di Kairo, baru-baru ini. Pertama, tanggung jawab kepada diri sendiri. Kedua, tanggung jawab kepada umat dan […]