TAUSIAH: Dosa yang Lebih Besar daripada Berzina

Editor :
Seseorang yang melakukan zina, maka hilanglah sifat-sifat mulia dari dirinya dan dicabutlah nur keimanannya./ilustrasi/istimewa/via sindonews.com

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Pada suatu senja yang lengang, seorang wanita dari Bani Israil berjalan terhuyung-huyung, pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam duka cita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tidak ada rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya.

Badan yang ramping dan mukanya yang ayu tidak dapat menutupi kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabiyullah Musa ‘alaihissalam. Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam, maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”.

Perempuan cantik itu berjalan masuk dengan kepala yang terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, “Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya! Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.”

“Apakah dosamu wahai perempuan?” tanya Nabi Musa terkejut.

“Saya takut mengatakannya,” jawabnya.

“Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa ‘alaihissalam.

Maka perempuan itu pun akhirnya bercerita: “Saya telah berzina.”

Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak. Perempuan itu meneruskan, “Dari perzinaan itu saya pun lantas hamil, setelah anak itu lahir, langsung saya cekik lehernya sampai meninggal,” ucap wanita itu menangis sejadi-jadinya.

Mendengar itu, Nabi Musa berapi-api matanya. Dengan muka berang beliau menghardik.

“Perempuan bejat, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah Ta’ala tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!” teriak Nabi Musa sambil memalingkan matanya karena merasa jijik.

Perempuan berwajah ayu dengan hati hancur luluh keluar dan melangkah terantuk-antuk dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus ke mana lagi hendak mengadu.

Bahkan ia tak tahu mau di bawa ke mana lagi kaki-kakinya. Bila seorang nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa bejat perbuatannya.

Malaikat Jibril ‘alaihissalam turun menemui Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya:

“Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?”

Nabi Musa terperanjat, “Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?” kata Nabi Musa dengan rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.

“Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?”

“Ada!” jawab Jibril dengan tegas.

“Dosa apakah itu?” tanya Nabi Musa penasaran.

“Orang yang meninggalkan salat dengan sengaja dan tanpa menyesal.Orang itu dosanya lebih besar daripada seribu kali berzina,” kata Jibril.

Mendengar penjelasan ini, Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusyuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.

Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan salat dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa salat itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Allah, bahkan seolah-olah menganggap Allah tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya.

Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Allah pasti menerima kedatangannya.

Perlu diingat, meskipun dosa meninggalkan salat lebih besar daripada zina bukan berarti zina dianggap remeh. Islam mengingatkan agar manusia menjauhi zina karena termasuk kategori dosa besar di samping syirik dan membunuh anak (karena khawatir miskin).

“Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisah (perbuatan yang keji) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh oleh seseorang).” (QS Al-Israa: 32)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seseorang berkata kepada saudaranya ‘Wahai kafir’, maka bisa jadi akan kembali kepada salah satu dari keduanya.” @fen/sumber: sindonews.com

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Arab Saudi Buka Umrah Tahap Ketiga Hari Ini

Sab Okt 31 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Arab Saudi akan memulai umrah tahap ketiga hari ini, Ahad (1/11/2020) hingga pandemi virus corona resmi berakhir. Umrah, kunjungan dan doa akan diizinkan untuk warga negara, serta penduduk di dalam dan di luar Kerajaan dengan kapasitas 100% (20.000 jemaah umrah per hari, 60.000 jemaah/hari) dari Dua Masjid […]