TAUSIAH: Islam Larang Umatnya Berprasangka Buruk

Editor Ilustrasi - Pria saudi hilang di gurun ditemukan meninggal dalam posisi bersujud./©twitter.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Prasangka, terlebih prasangka buruk, merupakan perbuatan yang sangat dikecam Islam. Prasangka tidak sedikit pun mendatangkan kebaikan.

Dalam Surat Yunus (10) ayat 36, Allah SWT berfirman:
إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ

”Prasangka itu tidak mendatangkan kebenaran apa pun.”

Firman serupa ditegaskan kembali dalam Surat An Najm (53) ayat 28. Kemudian dalam Surat Al-Hujurat (49) ayat 12, Allah SWT juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ

”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah memperbanyak prasangka karena sebagian prasangka itu dosa.”

Dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah r. a., Rasulullah saw. menegaskan:

إياكم والظنَّ فإنَّ الظن أكذَبُ الحديثِ

”Takutlah kalian berprasangka karena ia merupakan sedusta-dusta perkataan.”

Dengan demikian jelas, prasangka merupakan perbuatan yang berbanding lurus dengan itsm (dosa) dalam pandangan Allah SWT dan akdzab al-hadits (sedusta-dusta perkataan) dalam pandangan Rasulullah saw. Karenanya, prasangka sedapat mungkin harus dihindari, dan hanya orang-orang beriman yang bisa melakukannya.

Dalam mengelaborasi pengertian prasangka, Imam Sufyan Ats-Tsauri menyatakan, prasangka itu ada dua jenis. Prasangka yang mendatangkan dosa dan prasangka yang tidak mendatangkan dosa.

Yang pertama dilakukan oleh orang yang berprasangka dengan menampakkannya melalui ucapan. Yang kedua dilakukan oleh orang yang hanya berprasangka dalam hati.

Prasangka model pertamalah yang dinilai Imam Ats Tsauri berimplikasi dosa. Sedangkan yang kedua tidak. Namun jika dicermati, prasangka model kedua bisa menjadi pembuka jalan terjadinya prasangka model pertama.

Dengan ujaran lain, prasangka yang tertumpahkan melalui ucapan itu terjadi karena bermula dari prasangka dalam hati. Karenanya, orang-orang beriman tetap harus menghindari kedua model prasangka itu.

Baca Juga :  Anggota Komisi VIII DPR RI Desak Pemerintah Antisipasi Peredaran Komik Asusila

Apalagi menurut banyak riwayat, Allah SWT justru melihat apa yang ada di kedalaman hati hamba-Nya. Itu artinya, prasangka dalam hati juga tak pernah luput dari pantauan Allah SWT.

Hal ini perlu diangkat ke permukaan karena dalam kondisi bangsa yang serbasemerawut ini, sangat mungkin sikap saling berprasangka menjadi lumrah terjadi.

Kita masih ingat tragedi al-ifku yang menimpa Siti Aisyah, istri Rasulullah saw. Karena beliau disangka berselingkuh, masyarakat Madinah pun gempar. Rasulullah saw. tidak berkenan.

Gunjingan demi gunjingan berhamburan di tiap sudut kota. Ketegangan pun terjadi di mana-mana. Kedamaian hilang. Padahal, berita perselingkuhan itu hanya dusta yang sengaja disebar orang munafik. Untuk itu, menghindari prasangka sangat ditekankan dalam Islam. @fen/sumber: republika.co.id

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Kemenag: Saudi Tolak Jemaah RI Bukan karena Biaya Akomodasi

Sab Feb 20 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Plt Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Oman Fathurahman menampik adanya kabar jemaah haji Indonesia ditolak ke Arab Saudi karena terdapat utang biaya akomodasi di negara pengurus Haramain itu. “Informasi Indonesia belum bayar akomodasi jemaah jelas keliru dan menyesatkan. Jemaah haji Indonesia juga tidak pernah ditolak Arab Saudi,” kata Oman dalam keterangan […]