TAUSIAH: Kepergian Ramadhan Harus Kita Tangisi

Editor Orang bahagia adalah mereka yang mendapat ampunan setelah Ramadan pergi./via sindonews/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Ramadan baru saja meninggalkan kita. Bagi orang beriman tentu sangat sedih karena kehilangan banyak keberkahan dan pahala lipat ganda yang tidak di dapat di bulan lain.

“Kepergian Ramadan harus ditangisi. Dikatakan barangsiapa yang belum diampuni baginya di bulan Ramadan, maka tidaklah diampuni baginya pada selain bulan Ramadan,” kata Pengasuh Yasasan Al-Fachriyah Al-Habib Jindan bin Novel Salim Jindan, melansir Sindonews dari Al-Fachriyah.

Habib Jindan mengajak kita muhasabah. Berapa banyak di antara orang yang mendapatkan penerimaan yang baik (qobul) dan pengampunan di bulan suci Ramadan? Berapa banyak di antara orang yang mendapatkan penyesalan dan kerugian dibulan Ramadan? Berapa banyak orang yang mendirikan salat malam, hanya mendapat tidak tidur malam. Dan berapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapati lapar dan dahaga.

Dahulu Salafuna Shalihin, mereka sangat meginginkan diterimanya amal kebaikan setelah menunaikannya. Berkata Abdul Aziz bin Abi Rowad: “Aku mendapati mereka (para salafussalih) itu bersungguh-sungguh di dalam mengerjakan amal saleh, ketika mereka mengerjakannya kemudian kebingungan menimpa kepada mereka, apakah diterima atau tidak amal-amal mereka?

وعن عائشة رضى الله عنها قالت : (سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن هذه الآية: ﴿ والّذين يؤتون مآ ءاتوا وقلوبهم وجلة ﴾. هم الّذين يشربون الخمر ويسرقون؟ قال : لآ، يا ابنة الصديق. ولكنهم الّذين يصومون ويصلّون ويتصدّقون وهم يخافون ألا يقبل منهم. أولئك الّذين يسارعون في الخيرات) رواهالترمذيّ وابن ماجه.

“Dan dari Sayyidatina Aisyah berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dari itu ayat: (Dan orang-orang yang menginfakan sesuatu yang telah diberikan (Allah) kepada mereka, dan hati mereka takut). Apakah mereka itu adalah orang-orang yang minum minuman keras, Dan orang orang yang mencuri? Rasululllah menjawab: Bukan wahai putri Abu Bakar Siddiq, akan tetapi mereka itu orang-orang yang berpuasa dan mereka orang yang menunaikan salat. Dan mereka itu adalah orang yang bersedekah dan mereka orang-orang yang takut kepada Allah sekiranya tidak diterimanya amal perbuatan mereka. Mereka itu orang-orang yang bergegas dalam menunaikan kebaikan”. (Diriwayatkan Imam Turmudzi dan Ibnu Majah)

Baca Juga :  Bupati dan Wakil Bupati Terpilih Kabupaten Kendal Akan Dilantik 26 Februari Mendatang

Allah Maha Penerima Taubat

Sesungguhnya Allah Zat yang menerima taubat dan menerima taubat dari orang yang bertaubat kepadaNya. Dia adalah Zat yang memaafkan dari perkara dosa yang telah lalu dari seorang hambaNya. Dan Dia tidak membesar-besarkan dosa seorang hambaNya sehingga Dia mengampuninya. Dan Allah mengababulkan permintaan dari orang-orang yang meminta. Dan Allah mendengar rintihan orang-orang yang berdosa. Maka sehendaknya bagi seorang hamba agar selalu bersimpuh (merengek) hanya kepada Allah dengan doa dan istigfar.

Maka sesungguhnya istigfar itu penyempurna dari semua amal, penyempurna dalam salat dalm doa, dalam Qiyamullail (salat malam), dan dengan istigfar pula menjadi penyempurna pada pengujung majelis. 
Dan di bulan Ramadan banyak sebab pengampunan dosa. Sebagian dari sebab sebabnya pengampunan itu: puasa di bulan Ramadan, menunaikan salat pada malamnya, dan mengidupkan pada malam Lailatulqadar.

Berkata Ibnu Almundzir di dalam menghidupkan malam Lailaturqodar: “Sesungguhnya dia mengharapkan dengannya pengampunan atas dosa-dosa besar ataupun dosa-dosa kecil. Dan jumhur ulama berpendapat bahwasanya dosa-dosa besar itu mesti dengan taubat nasuha (sebenar-benarnya taubat).”

Dan dari sebagian sebab-sebabnya pengampunan di bulan Ramadan: memberikan makanan kepada orang yang berbuka puasa dan memberikan keringanan kepada hamba sahaya, sebagaimana yang telah dikatakan Salman dalam hadis marfu’.

Dari sebagian sebab-sebab pengampunan itu adalah berzikir kepada Allah. Di dalam hadis Marfu diriwayatkan: orang yang berzikir kepada Allah di bulan Ramadan itu pengampunan baginya.

Abu Hurairah meriwayatkan di dalam keutamaan bulan Ramadan: “Dan diampuni pada bulan Ramadan kecuali orang yang tak mau. Para sahabat yang lain bertanya kepadanya: “Wahai Abu Hurairah siapa orang yang tak mau itu?” Lalu Abu Hurairah menjawab: “Dia itu adalah orang yang enggan beristighfar kepada Allah”. @fen

Baca Juga :  Ombudsman RI Terima 1.346 Pengaduan Bansos Selama Pandemi

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Polda Jateng akan Terus Kembangkan Kasus Ledakan Petasan yang Menewaskan 4 Orang

Jum Mei 14 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Ledakan petasan yang terjadi di Desa Ngabean, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, pada Rabu (12/5/2021) sekitar pukul 17.30 WIB, menewaskan 4 orang dan 4 lainnya luka-luka. Hal itu disampaikan oleh Kapolda Jawa Tengah, Irjen Ahmad Luthfi, saat konferensi pers di Polda Jateng, Jumat (14/5/2021). Kapolda Jateng […]