TAUSIAH: Manajemen Waktu Menurut Islam (4/Habis)

Ilustrasi orang berjalan di padang pasir./dok./net.
Silahkan bagikan

Oleh Wardani

VISI.NEWS – Dr. A’idh al-Qarnî dalam bukunya, Lâ Tahzan (h. 15), mengumpamakan waktu yang kosong tak ubahnya dengan siksaan halus ala penjara Cina. Di penjara itu, narapidana ditempatkan di bawah pipa air yang hanya dapat meneteskan air setetes setiap menit selama bertahun-tahun.

Dalam masa penantian yang panjang itulah, biasanya seorang napi akan menjadi stress dan gila.

Waktu sebaiknya di-manage dengan baik. Pertama, perencanaan (planning). Segala pekerjaan kita harus terencana dengan terbaik, tersusun, terjadwal, disertai dengan target dan cara mencapainya. Dalam Alquran dinyatakan:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaknya setiap jiwa/orang merenungi apa yang telah dilakukan untuk hari esok.” (QS al-Hasyr/59: 18)

Ayat di atas mengandung dua hal sekaligus, yaitu perencanan dan evaluasi. Menggunakan masa lalu sebagai cermin untuk masa depan mengandung pengertian mengevaluasi apa yang telah dilakukan, sekaligus untuk perencanaan masa depan.

“Hari esok” mengandung pengertian hari esok yang merupakan jangka panjang, yaitu akhirat, atau jangka pendek, yaitu kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama hidup di dunia.

Dalam Islam, kita mungkin bisa menyebutkan niat sebagai perencanaan, bahkan mendekati pelaksanaan karena yang disebut niat bukanlah apa yang terlintas di pikiran (hâdits nafs) atau angan-angan kosong (amal jamaknya âmâl, bukan ‘amal yang jamaknya a’mâl: perbuatan), melainkan tekad kuat (‘azm).

Mungkin setiap orang memiliki cita-cita, tapi belum tentu menuangkan cita-cita itu dalam bentuk rencana yang tersusun baik.

Yang tidak kurang pentingnya dibandingkan perencanaan adalah pelaksanaan, pengorganisasian, pengawasan, hingga evaluasi.

Dalam Islam, misalnya, suatu kewajiban harus dilaksanakan sesuai dengan standar waktu yang ditentukan. Diterangkan dalam Alquran:

Baca Juga :  Ingin Bangkitkan Industri Layar Lebar, Insan Film Surati Jokowi

“Sesungguhnya salat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya.” (QS Albaqarah/2: 103)

Oleh karena itu, kewajiban yang dilaksanakan di luar waktu tidak sah, seperti haji, atau minimal berkurang nilai, seperti salat yang dikerjakan di luar waktunya (di-qadhâ`).

Dalam me-manage waktu, Islam mengajarkan adanya skala prioritas (fiqh al-awlawiyyah). Misalnya, harus mendahulukan kewajiban daripada yang sunnat.

Dalam waktu yang sempit, misalnya, sebaiknya tidak mengerjakan pekerjaan sunat yang menyebabkan habisnya waktu untuk mengerjakan yang wajib.

Kata kunci dalam me-manage segalanya, tidak hanya soal ibadah, mungkin juga kuliah atau pekerjaan adalah “prioritas” (awlawiyyah).

Jika studi/ kuliah merupakan prioritas pertama, maka waktu harus diberikan sebagian besarnya untuk studi/ kuliah pula sehingga kegiatan-kegiatan lain yang sifat sekunder berada di bawahnya dalam skala prioritas. Mungkin banyak orang yang sudah berujar bahwa keberhasilan bukanlah semata persoalan kecerdasan, sekalipun itu sangat menentukan, melainkan juga persoalan me-manage waktu.

Dalam me-manage waktu, menarik sekali bahwa ternyata Nabi saw. mengajarkan pembagian waktu selama 24 jam menjadi 1/3 (8 jam), yaitu 1/3 untuk kerja, 1/3 untuk beribadah, dan 1/3 untuk istirahat.

Pertama, 8 jam kerja (katakanlah: masuk kerja jam 8, pulang jam 4 sore) adalah waktu yang ideal dan sebanding dengan kekuatan tenaga manusia dan proporsional dikaitkan dengan hak waktu untuk kegiatan lain.

Kedua, istirahat dalam pengertian di atas (tidak melulu tidur) selama 8 jam juga pembagian waktu yang ideal (katakanlah: tidur jam 21.00 (9 malam), bangun waktu salat subuh.

Ketiga, beribadah selama 8 jam adalah proporsi ideal yang selama ini kurang kita perhatikan. Memang, harus dicatat bahwa pembagian ini tidak ketat, dan begitu juga setiap kegiatan tidak monoton, seperti ketika kerja bisa diselingi dengan istirahat dan salat.

Baca Juga :  HIDAYAH: Mualaf Islandia, dari Ateis Temukan Kedamaian dalam Islam (2)

Di samping itu, dalam Islam, memang kerja juga dipandang sebagai ibadah selama didasarkan atas niat ibadah, bukan semata mengejar kebutuhan materi.

Tapi, memang proporsi waktu untuk ibadah selama ini terasa kurang, padahal kalau kita memperhatikan dengan seksama pernyataan ayat berikut tampak bahwa proporsi antara aktivitas duniawi bukanlah fifty-fifty (50%:50%), melainkan untuk akhirat lebih banyak dibandingkan untuk dunia:

“Dan carilah pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (QS al-Qashash (28): 77).

Demikian sekelumit ajaran Islam tentang bagaimana kita mengatur waktu. Semoga bermanfaat. (Dr. Wardani, M.Ag. adalah seorang dosen pada Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari). @fen/sumber: www.uin-antasari.ac.id/

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

UIN Sunan Gunung Djati Bandung Gelar Upacara Hari Amal Bakti Kemenag secara Virtual

Sel Jan 5 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Dalam rangka memperingati ke-75 Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama RI, UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Upacara HAB bertajuk “Indonesia Rukun” yang dilakukan secara virtual melalui YouTube dan Instagram, Selasa (5/1/2021). Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si. bertindak sebagai Pembina Upacara […]