TAUSIAH: Memaknai Kehidupan yang Fana dengan Gaya Hidup Islami (1)

Editor :
Ilustrasi orang membaca Alquran./dok.net.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Manusia diciptakan Allah SWT sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai khalifah, manusia tentu memiliki tugas dan tanggung jawab yang berat.

Allah SWT menganugerahi manusia suatu kemampuan yang tidak dimiliki makhluk lain, yaitu kemampuan berpikir dan kemampuan fisik. Hal itu dimaksudkan untuk membantu manusia dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai khalifah di bumi.

Dengan kemampuan berpikirnya, manusia dapat membedakan hal-hal yang baik dan buruk di dalam kehidupan yang fana ini.

Dengan anugerah tersebut manusia dalam kesehariannya dapat mengambil yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain, serta mampu mencegah sesuatu yang dapat berakibat buruk bagi dirinya juga orang lain. Sedangkan kemampuan fisik yang dimiliknya, manusia dapat berusaha dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya.

Dalam kehidupan manusia sehari-hari, Islam hadir untuk mengatur kehidupan manusia di dunia fana ini dengan berlandaskan pada kitab suci Alquran yang turun sebagai kitab suci untuk seluruh umat manusia dari awal peradaban manusia hingga kelak pada hari akhir zaman.

Allah adalah satu – satunya Tuhan yang disembah oleh umat manusia dan Nabi Muhammad adalah salah satu utusan dari Allah untuk mengarahkan umat manusia kepada jalan yang benar.

Islam menyebar secara luas, baik itu dalam ilmu pengetahuannya hingga aturan-aturan yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad ke seluruh penjuru dunia.

Saat kita ditanya apa artinya Islam, maka kita jawab “Islam artinya damai”. Saat kita ditanya apa itu agama. Maka jawabnya, “Agama adalah ilmu yang mengajarkan sistem atau metode dalam hidup di dunia”.

Saat kita ditanya apa hakikat ajaran agama Islam, maka kita jawab dalam satu kalimat singkat, yaitu “Ajaran Ke-Esaan Ilahi”, atau “Ajaran Tauhid”. Dan saat kita ditanya hubungan antara ajaran Islam dan kehidupan, maka uraiannya akan panjang dan meluas, seluas kehidupan yang tak bertepi.

Ada dua hal yang umumnya dicari oleh manusia dalam kehidupan ini. Yang pertama ialah kebaikan ( al-khair ) dan yang kedua ialah kebahagiaan ( as-sa’adah ). Dua hal tersebut yang harus dipenuhi oleh manusia yang menginginkan kehidupan yang sempurna dan luar biasa.

Walaupun pada kenyataannya tidak ada yang sempurna dan luar biasa di dunia ini kecuali Allah SWT. Jika dua hal tersebut terpenuhi dalam setiap perjalanan hidup manusia, jelas akan membuat manusia merasakan ketenteraman lahir dan batin.

Hanya saja, untuk mewujudkan kedua hal tersebut memang bukanlah sesuatu yang mudah. Setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda ketika memahami hakikat keduanya. Perbedaan inilah yang mendasari munculnya bermacam ragam gaya hidup manusia.

Perbedaan cara pandang yang akhirnya menjadi perbedaan persepsi itu memunculkan beragam cara hidup atau yang lebih populer disebut sebagai perbedaan gaya hidup.

Bagi umat Islam, gaya hidup setiap individu telah diatur oleh Allah dan Rasul-Nya melalui Alquran dan Assunnah.

Keduanya adalah penuntun yang paling tepat untuk menuju ke arah jalan yang lebih lurus. Namun, seiring perkembangan zaman sepertinya telah mengubah sebagian besar kaum muslim dalam memahami tuntunan dalam menjalani hidup.

Saat ini sebagian orang memang bergaya hedonis, suka berfoya-foya dan hanya memikirkan kepentingan duniawi. Sungguh hal tersebut sangat bertentangan dengan gaya hidup sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. (bersambung)@fen/sumber: mgt.unida.gontor.ac.id/muhammad anant adji

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Forum SATHU Nilai Omnibus Law Beratkan Usaha Sektor Keagamaan

Sab Okt 24 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Forum Silaturahmi Asosiasi Travel haji dan Umrah (Forum SATHU) menilai beberapa pasal di Undang-Undang Omnibus Law memberatkan pengusaha di sektor keagamaan. Forum SATHU meminta Presiden Joko Widodo memberikan perhatian atas masalah tersebut demi terwujudnya rasa keadilan yang positif khususnya untuk umat Islam. “Kiranya masih bisa diperbaiki, alhamdulillah. […]