TAUSIAH: Memaknai Kehidupan yang Fana dengan Gaya Hidup Islami (2)

Editor :
Ilustrasi orang membaca Alquran./dok.net.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Dalam pandangan Islam gaya hidup dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, pertama gaya hidup Islami dan kedua gaya hidup jahili.

Gaya hidup Islami mempunyai landasan yang mutlak dan kuat, yaitu tauhid. Inilah gaya hidup orang beriman. Adapun gaya hidup jahili, landasannya bersifat relatif dan rapuh penuh dengan nuansa kesyirikan, inilah gaya hidup orang kafir.

Setiap individu muslim sudah menjadi keharusan baginya untuk memilih gaya hidup Islami dalam menjalani hidup dan kehidupannya. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT berikut ini:

ﻗُﻞۡ ﻫَٰﺬِﻩِۦ ﺳَﺒِﻴﻠِﻲٓ ﺃَﺩۡﻋُﻮٓﺍْ ﺇِﻟَﻰ ﭐﻟﻠَّﻪِۚ ﻋَﻠَﻰٰ ﺑَﺼِﻴﺮَﺓٍ ﺃَﻧَﺎ۠ ﻭَﻣَﻦِ ﭐﺗَّﺒَﻌَﻨِﻲۖ ﻭَﺳُﺒۡﺤَٰﻦَ ﭐﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﺂ ﺃَﻧَﺎ۠ ﻣِﻦَ ﭐﻟۡﻤُﺸۡﺮِﻛِﻴﻦَ

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang musyrik’.” (QS Yusuf: 108)

Berdasarkan arti ayat tersebut, jelaslah bahwa bergaya hidup Islami hukumnya wajib bagi setiap muslim, sedangkan gaya hidup jahili adalah haram hukumnya.

Hanya saja dalam kenyataan justru membuat kita sangat prihatin sebab justru gaya hidup jahili yang diharamkan itulah yang mendominasi sebagian besar gaya hidup umat Islam.

Fenomena ini persis seperti yang pernah disinyalir oleh Rasulullah saw. Beliau bersabda:

“Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti jejak umat beberapa abad sebelumnya, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta”. Ditanyakan kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, mengikuti orang Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?”. (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah, sahih)

Berikut ini adalah beberapa Prinsip Gaya Hidup Islami yang diridai Allah:

Berniat Untuk Ibadah

Dalam menjalankan suatu hal di dunia ini, baik untuk hal yang berbau modern ataupun konvensional semuanya harus dilandasi dengan niat ibadah kepada Allah.

Baik dan Pantas

Segala gaya yang dapat dilakukan dalam kehidupan harus berlandaskan pada dasar baik dan pantas, dalam arti harus sesuai dengan syariat, akal sehat, serta adat istiadat.

Halal dan Thayib

Segala hal yang dikenakan untuk menunjang gaya hidup harus bersifat halal secara hukum islam, serta thayib atau tidak akan merugikan atau menyakiti siapa pun.

Tanpa Kebohongan

Kehidupan dalam Islam sangat dilarang mengandung kebohongan, semua orang harus memiliki kejujuran sebagai dasar utama dalam menjalani kehidupan duniawi.

Tidak Berlebihan

Gaya hidup Islami juga melarang seseorang untuk bersikap berlebihan, sebab hal tersebut hanya akan merugikan diri sendiri dan orang orang di sekitarnya. Allah tidak menyukai orang orang yang gemar memubazirkan sesuatu.

Berpola hidup sederhana harus dibudayakan dan dilakukan untuk umat Islam. Tak terkecuali di lingkungan terdekat kita dan keluarga kita.(bersambung)@fen/sumber: mgt.unida.gontor.ac.id/muhammad anant adji

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Museum Sejarah Nabi Muhammad Saw Segera Berdiri di Jakarta

Ming Okt 25 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Sekjen Rabithah Alam Islamiyah (Liga Dunia Islam) Mohammad Abdul Karim Al Issa menyaksikan penandatanganan naskah perjanjian kerja sama pendirian dan pembangunan Museum Sejarah Nabi Muhammad Saw dan Peradaban Islam di Riyadh. Penandatangan dilakukan, Sabtu (24/10/2020) malam, antara Ketua Yayasan Sejarah Nabi Muhammad saw. Komjen Pol […]