TAUSIAH: Tiga Tolok Ukur Derajat Muslim di Sisi Allah Menurut Aa Gym

Editor :
Ilustrasi orang bersujud./istimewa/net.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Sangat mudah bagi kita untuk mengetahui tinggi rendahnya derajat diri di sisi Allah SWT. Ada tiga tolak ukur, menurut pendakwah KH Abdullah Gymnastiar. Aa Gym, begitu akrab disapa, mengutip hadis riwayat al-Hakim. Rasulullah saw. bersabda: 

من كان يحب أن يعلم منزلته عند الله فلينظر كيف منزلة الله عنده ، فإن الله ينزل العبد منه حيث أنزله من نفسه

“Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaknya memperhatikan bagaimana kedudukan Allah dalam hatinya. Maka sesungguhnya Allah menempatkan (mendudukan) hamba-Nya, sebagaimana hamba itu mendudukan Allah dalam jiwanya (hatinya)”.

Tiga tolok ukur tersebut yaitu pertama, dari frekuensi ingat. Dalam 24 jam waktu yang kita miliki tiap hari, berapa jam kita ingat Allah. Saat salat apakah kita ingat Allah atau ingat yang lain. Saat makan, apakah kita ingat pada Zat yang mengaruniakan makanan tersebut, atau malah mencela makanan. 

Saat berangkat kerja, apakah kita sudah meniatkannya sebagai sarana ibadah atau sekadar mencari uang. Saat di perjalanan, apakah kita sibuk berzikir serta menafakuri ayat-ayat Allah atau malah mata kita jelalatan. Bila hati kita selalu nyambung pada Allah dalam kondisi apa pun, maka sesungguhnya Allah telah meninggikan derajat. 

Kedua, sejauh mana usaha kita untuk “menyenangkan” Allah. Tinggi rendahnya derajat kita di sisi Allah dapat terlihat dari senang tidaknya kita melakukan amalan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Allah menyukai salat berjemaah 27 kali lipat daripada salat sendirian.

Apakah kita termasuk orang yang bersegera pergi ke masjid tatkala azan berkumandang, atau malah sibuk dengan urusan dunia?

Allah menyukai kedermawanan. Apakah kita sudah termasuk orang yang dermawan? Allah menyukai hamba-hamba yang dekat dengan Alquran. Apakah kita telah bersungguh-sungguh berinterkasi dengan Alquran?

Semakin kita gigih “menyenangkan” Allah dengan melakukan amalan yang dicintai-Nya, insyaallah derajat kita akan tinggi di sisi-Nya.

Ketiga, sejauh mana kegigihan kita menghindarkan diri dari maksiat. Salah satu ciri kedekatan seorang hamba dengan Allah, terlihat dari kesungguhannya dalam menjauhi maksiat. Adalah kenyataan bila manusia tidak akan pernah luput dari dosa. 

Namun, orang-orang yang berkedudukan tinggi di sisi Allah, akan segera bertobat saat ia terjerumus ke dalam maksiat. Ia menyesal, kemudian ber-azam untuk tidak mengulangi kesalahan, dan menggantinya dengan kebaikan yang lebih banyak. Sebaliknya, orang yang jauh dari Allah akan bahagia dengan dosa, tidak memiliki penyesalan, dan mengulanginya lagi di lain kesempatan. @fen/sumber: republika.co.id 

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

UMRAH: Menag, Asrama Haji Disiapkan Jadi Tempat Karantina

Jum Nov 27 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan, ke depannya asrama haji akan menjadi tempat untuk karantina umrah yang lama waktunya paling lama tiga hari. “Karena memang kita sudah sepakat bahwa sebelum berangkat umrah peserta umrahnya harus dikarantina terlebih dahulu paling tidak tiga hari,” katanya saat meresmikan Gedung Asrama Haji […]