TAUSIAH: Waspadai Fitnah Dunia yang Paling Banyak Menjerumuskan Manusia

Editor Di antara fitnah dunia yang paling banyak menjerumuskan manusia adalah harta. Foto ilustrasi/theroarhhs/via sindonews/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Di antara fitnah dunia yang paling banyak menjerumuskan manusia adalah harta. Betapa banyak manusia rela menghabiskan waktunya hanya untuk berburu kemewahan harta dunia.

Bahkan tidak lagi peduli halal dan haram dalam mendapatkannya. Padahal Nabi kita telah mengingatkan agar kita tidak menjadi “budak harta”.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah” (HR Bukhari).

Dalam hadis ini, Nabi mendoakan celaka bagi hamba dinar dan yang lainnya. Seseorang disebut “hamba dinar” dan “hamba dirham” karena dia melakukan berbagai amal perbuatannya hanya semata-mata mencari harta benda.

Dalam kitab At Tamhid li Syarh Kitabi At Tauhid ditegaskan, orang yang berhamba pada dinar dan dirham termasuk perbuatan syirik karena orang tersebut sedang menghambakan dirinya kepada selain Allah Ta’ala.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah dalam kitab ‘Taisiirul Kariimir Rahman’ menjelaskan tentang hakikat kehidupan dunia dan akhirat . Bahwa hakikat kehidupan dunia adalah sekadar permainan dan senda gurau, permainan dengan anggota badan, dan senda gurau dalam masalah hati.

Hati akan menjadi bingung dan bimbang karena dunia. Jiwa pun akan berusaha memiliki sesuatu yang dicintai serta memiliki keinginan yang kuat di dalamnya. Akhirnya akan menyebabkan seorang hamba sibuk dengan dunia seperti anak-anak yang asyik dengan mainannya.

Lalu, cobalah sejenak kita renungkan tentang hakikat kehidupan dunia agar kita tidak terjerumus dalam tipu dayanya.

Baca Juga :  TEKNO: Agar Smartphone Gak Cepat Rusak, Hindari Upaya-upaya Ini

Tentang hakikat kehidupan dunia Allah Ta’ala berfirman :

وَ مَا الۡحَيٰوةُ الدُّنۡيَاۤ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهۡوٌ‌ ؕ وَلَـلدَّارُ الۡاٰخِرَةُ خَيۡرٌ لِّـلَّذِيۡنَ يَتَّقُوۡنَ‌ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ

“Dan tidaklah kehidupan dunia kecuali hanyalah permainan dan senda gurau. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kalian tidak mau berpikir?“ (QS Al-An’am: 32).

Kehidupan Kampung Akhirat

Karena dunia yang tidak abadi dan menipu itu, tidakkah manusia mau berpikir? Tidakkah manusia mau menggunakan akalnya ? Hendaknya mereka menyadari manakah di antara kehidupan dunia dan akhirat yang lebih pantas untuk didahulukan.

Dalam kitab Taisiirul Kariimir Rahman pun, dijelaskan bahwa kehidupan akhirat di surga lebih baik kondisinya maupun sifatnya, serta lebih kekal dan abadi. Di dalamnya terdapat segala sesuatu yang diinginkan oleh jiwa, menyenangkan dipandang mata, berupa kenikmatan yang bisa dirasakan oleh hati dan juga ruh.

Ya, di dalam kampung akhirat yang bernama surga, akan banyak kesenangan dan sukacita. Itu semua tidak bisa dirasakan oleh setiap orang, namun hanya khusus untuk orang-orang bertakwa yang melakukan perintah-perintah Allah dan meninggalkan serta menjauhi larangan-Nya.

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Akan ada di akhir zaman para ‘Dajjal Pendusta’ (bukan Al-Masih Ad-Dajjal) membawa hadis-hadis kepada kalian yang mana kalian tidak pernah mendengarnya dariku dan bapak-bapak kalian pun juga belum pernah mendengarnya. Maka jauhilah mereka, agar mereka tidak bisa menyesatkan kalian dan tidak bisa memfitnah kalian.” @fen/sumber: sindonews

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Munas-Konbes NU Digelar September, Ini Harapan Para Kiai

Sab Sep 11 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) pada 25-26 September 2021. Dengan menggelar kegiatan akbar tersebut, para ulama NU diharapkan bisa tetap mengawal khitah NU 1926. NU selama ini memang dikenal sebagai organisasi sosial keagamaan yang berpegang teguh […]