TAUSIAH: Zakat, Infak, dan Sedekah di Masa Pandemi

Editor Warga menggantungkan bungkusan bahan makanan gratis di tembok di Kampung Menayu, Magelang, Jawa Tengah, baru-baru ini./republika.co.id/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Pada masa-masa sulit saat sekarang ini, kita sebagai muslim dituntut untuk mewujudkan perintah Allah untuk saling menolong dan meningkatkan rasa solidaritas sosial kepada sesama.

Kebijakan pemerintah memutus penyebaran Covid-19 masyarakat diminta untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah saja, membuat banyak orang kehilangan pekerjaannya, banyak orang menjadi pengangguran, banyak orang tidak lagi bisa mengais rezeki, dan banyak orang yang membutuhkan bantuan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Pada masa seperti saat ini, sebagai muslim yang mampu kita bisa mewujudkan perintah Allah untuk berempati juga menanamkan solidaritas sosial kepada sesama anak bangsa keluar dari krisis.

Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, ada bagian penting dari ajaran agama Islam yang dapat dimaksimalkan untuk menghadapi dampak pandemi virus corona jenis baru (Covid-19), yakni pranata zakat.

Menurutnya, zakat dalam Islam merupakan ajaran yang diwajibkan kepada setiap muslim yang mampu untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Hal tersebut merupakan yang dibutuhkan saat ini, mengingat pandemi Covid-19 berdampak kepada seluruh lapisan masyarakat. Uluran tangan dari orang yang berpunya saat ini menjadi hal penting untuk membantu mereka di masa sulit ini melalui zakat, infak, dan sedekah berdasarkan ketentuannya.

“Dalam hal ini kita ingin mengetuk para agnia atau orang-orang kaya serta para muzakki orang-orang yang berpotensi mengeluarkan zakat untuk bersama saat ini berbagi, sebagaimana hukum zakat ataupun infak dan sedekah yang sangat berharga,” ujar Haedar, dalam diskusi virtual tentang ‘Zakat Digital: Solusi Alternatif Bantu Indonesia di Masa Pandemi’, baru-baru ini seperti dilansir republika.co.id.

Ancaman Allah terhadap orang yang enggan membayar zakat terdapat dalam QS Ali-Imran : 180, “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Baca Juga :  Pesantren Assuruur dan Lion Indonesia Jalin Kerja Sama

Begitu juga hadis riwayat Bukhari mempertegas firman Allah tersebut. “Barang siapa yang tidak membayar zakat yang wajib atasnya (kelak) di hari kiamat akan dimunculkan baginya ular jantan yang memiliki bisa yang sangat banyak. Ular tersebut akan menarik kedua tangan orang itu dan berkata kepadanya, ‘Saya ini adalah harta dan kekayaan yang telah kamu kumpulkan di dunia’.”

Masihkah kita enggan membayar zakat? Mari kita renungkan HR Muslim berikut, “Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu bersyahadat meng-Esakan Allah, mendirikan salat, membayar zakat, berpuasa Ramadan, dan menunaikan ibadah haji.” @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

UMRAH: Pelaksanaan Jemaah Indonesia Sudah Baik, Tak Perlu Karantina?

Jum Nov 20 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Menteri Agama Fachrul Razi menyampaikan rencana mengarantina jemaah umrah sebelum berangkat ke Saudi selama tiga hari. Menanggapi hal itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Haji Umrah dan Inboud Indonesia (Asphurindo), Muhammad Iqbal Muhajir, menyatakan keberatannya. Ia menyebut, apa yang sudah berjalan di lapangan saat ini sudah cukup dan […]