Search
Close this search box.

Tekanan Trump Warnai Perundingan Damai Ukraina-Rusia di Jenewa

Seorang wanita memegang bendera Ukraina dalam protes di dekat kantor PBB, pada hari pembicaraan damai yang dimediasi AS antara Rusia dan Ukraina di Jenewa, Swiss, 17 Februari 2026./source: Reuters.

Bagikan :

VISI.NEWS \ BANDUNG – Ukraina dan Rusia menyelesaikan hari pertama perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat di Jenewa, Swiss, Selasa (17/2), di tengah tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar Kyiv segera mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung empat tahun.

Perundingan ini berlangsung di saat situasi di medan perang masih memanas. Menjelang pembicaraan di Swiss, Rusia melancarkan serangan udara semalam ke berbagai wilayah Ukraina, termasuk merusak parah jaringan listrik di kota pelabuhan Odesa di selatan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan puluhan ribu warga kehilangan akses pemanas dan air akibat serangan tersebut.

“Kami siap bergerak cepat menuju kesepakatan yang layak untuk mengakhiri perang,” kata Zelenskyy dalam pidato malamnya, seraya menambahkan bahwa ia masih menunggu laporan lengkap dari tim negosiasi Ukraina di Jenewa.

“Pertanyaannya untuk Rusia adalah: sebenarnya apa yang mereka inginkan?”

Delegasi Ukraina dipimpin oleh Rustem Umerov, yang kini menjabat sebagai kepala Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional. Dalam pernyataan resminya, Umerov menyebut pembahasan hari pertama difokuskan pada “isu-isu praktis dan mekanisme kemungkinan keputusan”, tanpa merinci substansi pembicaraan. Ia memastikan perundingan akan dilanjutkan pada Rabu untuk hari kedua sekaligus terakhir.

Dari pihak Rusia, tidak ada komentar resmi yang disampaikan. Namun kantor berita Rusia mengutip sumber yang menyebut pembicaraan berlangsung “sangat tegang” dan memakan waktu hingga enam jam dalam format bilateral maupun trilateral. Kedua pihak disebut sepakat melanjutkan diskusi.

Pertemuan di Jenewa ini menyusul dua putaran pembicaraan sebelumnya yang dimediasi AS di Abu Dhabi, yang berakhir tanpa terobosan berarti karena perbedaan tajam terkait isu-isu utama, termasuk kendali wilayah di Ukraina timur. Moskow menuntut agar Kyiv menyerahkan sisa 20 persen wilayah Donetsk yang belum berhasil direbut Rusia, tuntutan yang secara tegas ditolak Ukraina.

Baca Juga :  Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Selasa 7 April 2026

Trump, yang mendorong kedua pihak mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang terbesar di Eropa sejak 1945, secara terbuka menekan Ukraina agar tidak menunda kompromi.

Saat ditanya wartawan mengenai harapannya dari perundingan tersebut, Trump mengatakan, “Ukraina sebaiknya segera duduk di meja perundingan. Itu saja yang saya katakan.”

Pernyataan itu memicu keluhan tersirat dari Zelenskyy, yang sebelumnya menyebut negaranya menghadapi tekanan lebih besar untuk membuat konsesi. Pada hari yang sama, ia juga mendesak sekutu-sekutu Kyiv untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia melalui sanksi yang lebih keras serta tambahan pasokan senjata, guna mencapai perdamaian yang “nyata dan adil”.

Utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, mewakili pemerintahan Trump dalam perundingan tersebut. Dalam langkah diplomasi yang jarang terjadi, keduanya pada pagi hari juga menghadiri pembicaraan tidak langsung dengan pejabat Iran di Jenewa sebelum beralih memediasi dialog Ukraina-Rusia.

Sejumlah delegasi negara Eropa turut berada di Jenewa, meskipun tidak ikut dalam perundingan trilateral utama. Kehadiran mereka disebut atas permintaan Zelenskyy agar Eropa dilibatkan, meski Rusia sebelumnya menentang partisipasi langsung negara-negara Eropa dalam proses negosiasi.

Perundingan kali ini berlangsung hanya beberapa hari menjelang peringatan empat tahun invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 24 Februari. Konflik tersebut telah menewaskan puluhan ribu orang, memaksa jutaan warga mengungsi, dan menghancurkan banyak kota serta desa di Ukraina.

Di tengah harapan akan diplomasi, suara skeptis tetap terdengar dari warga Ukraina. Oksana Reviakina (41), pengungsi dari kota Melitopol yang diduduki Rusia, menyatakan ketidakpercayaannya terhadap Moskow saat berlindung di stasiun metro Kyiv selama peringatan serangan udara.

“Seseorang tidak boleh mempercayai Rusia sepenuhnya, bahkan sedikit pun,” katanya.

Baca Juga :  Beyoutiful by dr. Tompi Resmi Dibuka, Lengkapi Layanan Kesehatan di Kota Bandung

Saat ini Rusia menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, termasuk Krimea dan sebagian kawasan Donbas yang direbut sebelum invasi 2022. Serangan udara terbaru terhadap infrastruktur energi membuat ratusan ribu warga Ukraina kembali menghadapi musim dingin tanpa pemanas dan listrik, menambah urgensi bagi tercapainya kesepakatan damai—meski jalan menuju titik temu masih tampak terjal. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :