TELAAH: Benarkah Pakai Masker Saat Salat Selama Pandemi Haram? (2)

Editor Ilustrasi orang sedang salat./dok./net.
Silahkan bagikan

Oleh Ustaz Agus Khudlori, Lc (Pengajar di Pesantren Kalibata, Alumni Universitas Al-Azhar Mesir)

VISI.NEWS – Kedua, saya ingin mengajak pembaca budiman mengupas “hadis” yang disampaikan dalam video itu secara linguistik. Secara lugas, sang ustaz membacanya dengan struktur fi’il majhul (kata kerja pasif) pada kata يُغَطَّي (yughattha).

Perlu diketahui, secara kaidah tata bahasa Arab, bacaan di atas keliru. Mengapa? Karena susunan i’rab dan struktur kalimatnya jadi berantakan. Kata الرَّجُلُ yang seharusnya menjadi fa’il (subjek) berubah menjadi na’ibul fa’il yang bentuknya pasif. Sehingga, jika diterjemahkan, artinya pun turut keliru, yaitu:

Rasulullah saw. melarang seorang laki-laki tertutupi. Sementara kata فَاهُ(kedua mulutnya) yang kedudukannya di situ sebagai maf’ul bihi (objek), menjadi tidak jelas di mana fa’il (subjek)-nya.

Struktur kalimat yang benar, seharusnya menggunakan pola kalimat aktif sebagaimana dalam hadis di atas yaitu:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ فِى الصَّلَاةِ

(Naha Rasulullah saw. ay yughatthiya ar-rajulu faahu fish shalat).

“Rasululllah saw. melarang seorang laki-laki menutup mulutnya ketika salat.”

Hal-hal detail seperti ini dalam bahasa Arab sangat penting untuk diperhatikan, apalagi bagi para penceramah, dai, ustaz, kiai, dan lain-lain. Tak lain karena ini berkait-kelindan dengan sejauh mana dia mampu memahami isi kitab atau literatur yang dia pelajari, baik itu berupa hadis, ayat Alquran, maupun teks-teks berbahasa Arab lainnya.

Jika dia salah membaca, artinya dia akan salah memahami. Dan jika dia salah memahami, artinya dia akan menciptakan kesesatan kepada jemaah yang mendengar ceramahnya.

Sekarang, mari kita menyentuh kandungan isi hadis tersebut untuk memeroleh titik terang dari pertanyaan di atas: apa hukum memakai masker ketika salat?

Baca Juga :  Setelah PPKM Darurat, BOR RS Rujukan Covid-19 di Jabar, Banten & Jakarta Turun di Bawah 30%

Dalam banyak literatur, hadis ini diklasifikasikan oleh para ulama sebagai hadis hasan. Yaitu hadis yang levelnya satu tingkat di bawah hadis sahih. Bahkan, menurut Ibnu Hajar, hadis hasan sebenarnya sama dengan hadis sahih. Satu-satunya perbedaan antara keduanya adalah dalam hal tingkatan “dhabt” perawinya.

“Dhabt” adalah kepatenan hapalan perawi, kejeliannya, dan ketajaman pemahamannya. Jika perawi hadis sahih dipersyaratkan memiliki tingkat “dhabt” yang sempurna, perawi hadis hasan tidak sepaten itu.

Adapun syarat-syarat lainnya selebihnya sama. Oleh karena itu, menurut mayoritas ulama, hadis hasan juga dapat dijadikan sebagai landasan hukum (dalil) sebagaimana hadis sahih. (bersambung)/@fen/sumber: republika.co.id

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Komnas Haji: Pemerintah Harus Proaktif Soal Kebijakan Saudi

Sab Okt 3 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Pemerintah Arab Saudi membuka kembali umrah secara bertahap mulai 4 Oktober 2020. Namun, penyelenggaraan umrah fase pertama itu hanya diperuntukkan bagi warga Saudi dan ekspatriat. Seiring dengan keputusan membuka umrah di tengah pandemi ini, Saudi juga meluncurkan aplikasi umrah bernama I’tamarna. Aplikasi tersebut mengatur masuknya jemaah umrah, […]