TELAAH: Mengapa Allah Bersumpah dengan Kuda Perang di Surat Al Adiyat?

Editor Ilustrasi mushaf Aquran/via percikaniman.org/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Di awal Surat Al Adiyat, Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan menyebut kuda perang yang berlari kencang. Rangkaian sumpah ini ada di ayat pertama hingga ayat kelima. Mengapa Allah bersumpah seperti itu? Apa hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik?

وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا . فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا . فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا . فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا . فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا

“Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.” (QS Al Adiyat: 1-5)

Secara harfiah, kata al adiyat (العاديات) berarti yang berlari kencang. Kata ini tidak menjelaskan siapa pelakunya.

Menurut Ali bin Abu Thalib, al adiyat di ayat ini adalah unta. Ia berhujjah, pada Perang Badar, kaum muslim mengendarai unta. Hanya ada dua ekor kuda yang dibawa yakni milik Az Zubair dan Al Miqdad.

Menurut jumhur ulama, termasuk Ibnu Abbas, al adiyat artinya adalah kuda. Sebab sifat-sifat dalam surat ini ada pada kuda, bukan unta. Mulai mengeluarkan dengusan nafas saat berlari, hingga mengeluarkan percikan api. Unta secepat apa pun larinya, ia tak bisa menghasilkan percikan api. Pendapat inilah yang lebih kuat.

Mengapa Allah bersumpah dengan menyebut kuda perang yang berlari kencang? Ada dua pendapat para ulama.

Menggambarkan Cepatnya Kedatangan Kiamat

Sebagian ulama menjelaskan bahwa sumpah Allah dengan kuda perang yang berlari cepat ini menggambarkan cepatnya kedatangan kiamat. Kiamat akan datang secara tiba-tiba laksana serangan mendadak pasukan berkuda di waktu pagi buta. Membuat panik, gelagapan dan tercekap ketakutan.

Baca Juga :  Joget Tiktok Bupati Garut Harus Dilihat dari Berbagai Aspek

Mungkin ada yang mempertanyakan, mengapa diibaratkan kuda padahal peperangan sekarang menggunakan pesawat dan rudal. Kecepatannya jauh lebih cepat dari kuda perang di zaman dulu.

Ketahuilah bahwa Alquran ini diturunkan pada abad ke-7 Masehi. Pada saat itu kuda adalah kendaraan tercepat dan serangan pasukan berkuda adalah serangan mendadak. Jika dibuat perumpamaan pesawat dan rudal, justru manusia di zaman itu tidak bisa membayangkan dan memahami perumpamaan itu.

Kedua, Alquran ini diturunkan untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Boleh jadi apa yang ada di abad ke-21 ini, termasuk pesawat dan rudal, tidak lagi dianggap cepat pada abad ke-22 atau abad ke-23. Sebab ada teknologi terbaru yang jauh lebih cepat.

Dengan perumpamaan kuda perang, maka ia bisa dipahami sesuai konteks zaman ketika Alquran diturunkan dan bisa diambil hikmahnya di seluruh zaman.

Menyindir Manusia yang Tak Lebih Baik dari Kuda

Sebagian ulama lain menafsirkan bahwa sumpah Allah dengan kuda perang di Surat Al Adiyat ini dalam rangka mengingatkan manusia dan menyindir mereka yang tak lebih baik dari kuda.

Syaikh Adil Muhammad Khalil menjelaskan dalam Awwal Marrah Atadabbar Al Qur’an bahwa hikmahnya, kuda melakukan itu semua meskipun dengan terengah-engah demi mendapatkan rida tuannya. Yakni sang penunggang kuda. Meskipun kuda-kuda itu tidak tahu apa-apa. Karena sang tuan memberinya makan dan memeliharanya.

Lalu mengapa manusia justru ingkar kepada Allah dan tidak melakukan apa yang diperintahkan demi mendapat rida-Nya? Padahal manusia mendapat demikian banyak nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Justru yang terjadi, banyak manusia ingkar kepada Allah sebagaimana ayat setelahnya.

إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya,” (QS Al Adiyat: 6)

Baca Juga :  Pindahnya Dukungan PPP ke Paslon Lain Tidak Akan Mempengaruhi Suara Kang DS - Sahrul

“Inilah perbedaan antara manusia dengan kuda dalam mensyukuri nikmat dari tuannya,” tulis Syaikh Adil. @fen/sumber: kisahikmah.com

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Masjid dan Islamic Center Hadiah Pangeran UEA kepada Presiden Jokowi Segera Dibangun

Kam Mar 4 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, mendadak pada Rabu (3/3/2021) siang meninjau lahan bekas depo Pertamina di Jl. A Yani, kawasan Gilingan, yang rencananya digunakan untuk membangun Masjid dan Islamic Center. Pembangunan Masjid dan Islamic Center di lahan seluas sekitar 2,9 hektar tersebut, merupakan hadiah Pangeran Uni […]