TELAAH: Surat Al-Ikhlas, Mengapa Disebutkan Kata Alllah SWT 2 Kali?

Editor :
Surat Al-Ikhlas di antara surat yang berbicara keesaan Allah SWT. Ilustrasi membaca Alquran.republika.co.id/ist.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Surat Al-Ikhlas berarti suci atau murni yang terdiri dari empat ayat dan tergolong surat Makiah atau surat yang diturunkan di Kota Mekah.

Surat ini menggambarkan keesaan dan Kemurnian Allah SWT. Ayat satu berbunyi : قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ Qul huwallāhu aḥad. “Katakanlah! Dia Allah Yang Maha-Esa.”

Dijelaskan dalam buku Tafsir Al-Mishbah oleh M Quraish Shihab, ayat di atas menyatakan : Katakanlah wahai Nabi Muhammad kepada mereka yang bertanya bahkan kepada siapa pun, Dia Yang Wajib wujud-Nya dan yang berhak disembah adalah Allah Tuhan Yang Maha-Esa.

Kata “qul” atau katakanlah membuktikan Rasulullah saw. ketika menyampaikan segala sesuatu, dia terima dari ayat-ayat Alquran yang disampaikan Malaikat Jibril. Sedangkan kata “huwa” diterjemahkan Dia. Dalam konteks ini, kata “huwa” disebut dhamîr asy-sya’n atau al-qishshah atau al-hâl.

Menurut Mutawalli Asy-Sya’râwi, Allah adalah gaib. Tetapi, kegaiban-Nya mencapai tingkat syahâdat atau nyata melalui ciptaan-Nya.

Dengan demikian, jika Anda berkata “huwa” atau “dia”, sama halnya Anda katakan al-hâl (keadaan) yang sebenarnya adalah Allah Maha-Esa.

Sementara pakar tafsir Al-Qâsimi memahami kata “huwa” sebagai fungsi menekankan kebenaran dan kepentingan berita. Yakni apa yang disampaikan itu merupakan berita benar yang hak dan didukung bukti-bukti yang tidak diragukan.

Seorang pakar tafsir Abû As-Su’ûd menulis dalam tafsirnya menempatkan kata “huwa” untuk menunjuk kepada Allah. Hal ini guna memberi kesan, Dia yang Maha Kuasa itu sedemekian nyata sehingga hadir dalam benak setiap manusia dan kepada-Nya selalu tertuju segala isyarat.

Kata Allâh adalah nama bagi suatu Wujud Mutlak, berhak disembah, Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur alam semesta. Dialah Tuhan yang Maha Esa, yang disembah dan diikuti segala perintah-Nya.

Baca Juga :  Mulai 21 Juli Tenaga Kerja Asing Tak Bisa Lagi Masuk RI

Yang jelas, kata Allah menunjuk kepada Tuhan yang Wajib Wujud-Nya. Berbeda dengan kata ilâh yang menunjuk kepada siapa saja yang dipertuhankan, baik itu Allah maupun selain Dia. Misal, matahari yang disembah.

Kata terakhir, Ahad atau Esa terambil dari akar kata “wahdah” atau kesatuan. Sama halnya kata “wâhid” yang berarti satu. Kata “ahad” bisa berfungsi sebagai nama dan sifat. Apabila ia berfungsi sebagai sifat, itu berarti hanya bisa digunakan untuk Allah. Dalam ayat ini, “ahad” berfungsi sebagai sifat Allah.

Berarti Allah memiliki sifat tersendiri yang tidak dimiliki selain-Nya sehingga diartikan Allah Maha Esa. Keesaan Dzat, keesan sifat, keesaan perbuatan, serta keesaan dalam beribadah kepada-Nya.

Ayat kedua surat Al-Ikhlas berbunyi : اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ Allāhuṣ-ṣamad. Artinya : “Allah lumpuhkan harapan.”

Ayat di atas menjelaskan kebutuhan makhluk kepada-Nya, yakni hanya Allah Yang Maha-Esa adalah tumpuan harapan yang dituju semua makhluk guna memenuhi segala kebutuhan, permintaan mereka, dan bergantung kepada-Nya dari segala sesuatu.

Kata “ash-shamad” terambil dari kata kerja “shamada” artinya menuju. Ash-shamad adalah kata jadian yang berarti dituju. Mayoritas pakar bahasa dan tafsir memahami arti “ash-shamad” sebagai Allah adalah Zat yang kepada-Nya mengarah semua harapan makhluk, Dia yang didambakan dalam pemenuhan kebutuhan makhluk serta penanggulangan kesulitan mereka.

Dalam ayat kedua ini kata Allâh diulang sekali lagi. Ini untuk memberi isyarat, siapa yang tidak memiliki sifat ash-shamadiyah atau dengan kata lain tidak menjadi tumpuan harapan secara penuh, maka ia tidak wajar dipertuhankan. @fen/sumber: republika.co.id

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

TAUSIAH: Bahaya Makan Terlalu Kenyang Menurut Islam

Rab Nov 11 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Tentunya tidak ada makhluk hidup di bumi yang tidak membutuhkan makan untuk kelangsungan hidupnya. Dengan nutrisi yang terkandung dalam makanan kita mendapatkan energi dan kemampuan untuk tumbuh. Hanya saja, bagaimana dengan makan berlebihan atau terlalu kenyang? Bagaimana Islam memandang orang yang mengisi perutnya terlalu banyak sehingga kekenyangan?. […]