TELAAH: Tentang Perintah Salat dan Maknanya (1)

Editor Ilustrasi orang sedang salat./dok./net.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Salat menurut arti bahasa adalah doa atau doa meminta kebaikan. Hal ini telah disebut dalam firman Allah SWT, QS At-Taubah (9): 103,

مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْم

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”(QS At-Taubah (9): 103)

Maksud dari kata as-salah di sini ialah doa. Kata salat merupakan bentuk isim yang menempati kolom masdar dari susunan kata salla – yusalli. Secara etimologi, kata salat berarti doa.

Makna Salat

Salat atau selawat juga bermakna doa atau mendoakan. Dapat dibedakan jika selawat itu dari dua sumber. Pertama, Allah SWT berarti rahmat atau memberi rahmat. Namun, jika selawat itu dari malaikat atau dari manusia berarti doa atau mendoakan agar diberi rahmat oleh-Nya.

Ketika menemui keterangan bahwa Allah dan malaikat berselawat, berarti Allah tengah memberi rahmat dan malaikat mendoakan agar manusia memperoleh rahmat. Seperti halnya ealawat untuk Nabi, Allah berfirman,

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا –

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”(QS Al-Ahzab (33): 56)

هُوَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ وَمَلٰۤىِٕكَتُهٗ لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”.(QS Ahzab (33): 43)

Baca Juga :  Kawal PPKM, Diskar PB Kota Bandung dan Petugas Gabungan Sisir Tempat Hiburan

Salat juga bermakna doa karena penamaan ibadah yang satu ini (salat) dinamakan dengan sesuatu yang mendominasi yaitu bacan-bacan doa yang terlafal dalam shalat. Wahbah menjelaskan secara istilah tentang salat, yaitu merupakan perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan syarat-syarat tertentu.

Mendirikan salat ialah menyempurnakan rukuk, sujud, tilawah (bacaan), khusyuk, dan menghadapkan salat dengan sesempurnanya. Sedangkan Imam Qatadah menjelaskan bahwa mendirikan salat berarti tetap dalam memelihara waktu-waktunya, wudunya, rukuk dan sujudnya.

Hasbi Ash-Shiddiqy mengambil penjelasan dari kedua takrif di atas dengan mengumpulkan batasan-batasan salat. Ia menjelaskan bahwa salat merupakan perbuatan memelihara waktu-waktunya, menyempurnakan wudunya, dan melaksanakannya dengan sesempurnanya (sempurna berdiri, rukuk, iktidal, sujud, tasyahud, doa dan sempurna khusyuk, kehadiran hati, takut dan mencakup sempurna segala adabnya).

Salat sering disebutkan dalam Al-Quran. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan salat dalam kehidupan. Bahkan penyebutan kata salat, biasanya dikaitkan dengan para nabi terdulu. Misalnya, doa Nabi Ibrahim a.s yang kisahnya tertulis dalam Alquran, sikap nabi Ismail a.s. yang menyuruh kelurganya untuk melaksanakan salat agar Allah meridainya; dan ketika Allah memerintahkan Nabi Musa a.s. untuk mendirikan salat, Allah berfirman dalam QSTaha (20): 13-14,

وَاَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوْحٰى- اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

“Dan Aku telah memilih engkau, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.”(QSTaha (20): 13-14).

Menurut Sayyid Qutb dalam tafsirnya Fi Zhilal Al-Quran, ia menjelaskan bahwa nilai salat dalam diri Nabi Musa a.s. mencerminkan hubungan langsung antara sesuatu yang lemah, tanpa daya dengan yang Maha Besar dan Maha Kuat.

Baca Juga :  DPD Demokrat Sumut Sambangi Polrestabes Medan Minta KLB Dibubarkan

Maka, salat termasuk salah satu bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT, menguatkan jiwa dan keinginan semata karena keagungan-Nya. Sang Khaliq telah memberikan waktu kepada tiap-tiap manusia selama 24 jam dalam satu hari.

Selama itulah manusia mengerjakan kepatuhan dan ketundukan yang diperintahkan oleh-Nya dengan segala aktivitasnya masing-masing.(bersambung/@fen/sumber: republika.co.id

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

TAUSIAH: Muslim, Bekerjalah dan Jangan Mengemis

Kam Des 31 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Bekerja memang sudah menjadi tuntutan bagi setiap muslim yang mempunyai tanggungan. Bukan hanya untuk menutupi kebutuhan, tetapi bekerja merupakan salah satu sarana untuk berkarya dan menjaga kehormatan. Islam tentu memberikan apresiasi yang sangat tinggi bagi mereka yang bekerja dengan baik. Bahkan bekerja bisa menjadi ladang pahala jika […]