Tempat Sampah Pintar “Difa Elektra” Karya Penyandang Disabilitas untuk Green Campus

Tempat sampah pintar "Difa Elektra" karya inovatif para penyandang disabilitas yang dimanfaatkan untuk mendukung program Green Campus di UNS./visi-news.com/istimewa.
Silahkan bagikan

VISI-NEWS.COM – Produk inovatif karya para teknisi penyandang disabilitas di Kota Solo, yakni tempat sampah pintar yang diberi nama “Difa Elektra”, dimanfaatkan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo untuk mendukung program Green Campus di kawasan kampus Kentingan, Solo.

Sebanyak 3 buah tempat sampah pintar “Difa Elektra”, yang diserahkan tim pengabdian Research Group Pelayanan Publik Berbasis Human Governance, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNS bersama Komunitas Difabel Solo Mandiri, pada peringatan Hari Disabilitas Internasional lalu, kini ditempatkan di gedung Rektorat “dr. Prakosa,” di kampus FISIP dan di gedung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM).

Koordinator tim grup riset FISIP UNS, Dr. Rina Herlina Haryanti, mengungkapkan kepada VISI-NEWS.COM, Jumat (18/12/2020), karya inovatif para penyandang disabilitas itu merupakan bagian dari proses kolaborasi, berdasarkan hasil penelitian tentang Platform Digital Difashop dalam pemberdayaan difabel di Kota Solo.

Dalam penelitian, tim mendapati Difashop itu telah memiliki hampir 50 produk buatan para penyandang disabilitas. Salah satu di antaranya adalah “Difa Elektra”, yakni berupa tempat sampah pintar yang menjadi unggulan mereka dan berhasil menjadi juara produk inovasi di Surakarta.

“Dari hasil penelitian, tim menemukan beberapa faktor penyebab platform difashop tidak efektif. Salah satu penyebabnya adalah, karena masyarakat tidak mengetahui platform tersebut dan masih ada pandangan streotipe tentang keberadaan difabel,” ujar Rina.

Mendapati kondisi tersebut, sambung koordinator tim itu, dalam program pengabdian tim mencoba memasarkan produk “Difa Elektra” melalui pendekatan yang disebut community governance dan mainstraiming disabilitas.

“Pendekatan community governance adalah pendekatan dengan meningkatkan kapasitas komunitas berbasis linking dan networking, yang bertujuan agar difabel berdaya. Ketika produk mereka terjual, mereka mendapat penghasilan dan bisa terus mengembangkan kapasitasnya tanpa streotipe bahwa difabel identik dengan charity,” jelasnya.

Baca Juga :  Laga Atletico Madrid vs Chelsea Resmi Pindah ke Rumania

Sedangkan pendekatan maintreaming disabilitas, adalah menempelkan tulisan “UNS Inklusi Difabel Berdaya” pada karya para penyandang disabilitas. Kalimat tersebut untuk menekankan bahwa UNS bekerjasama dengan komunitas difabel dan menggunakan hasil karya komunitas tersebut agar mereka tetap berdaya.

Dr. Rina menjelaskan, tempat sampah pintar “Difa Elektra” dirancang ramah difabel. Produk tersebut menggunakan sensor yang berfungsi membuka dan menutup tempat sampah secara otomatis, serta memberikan pesan suara kepada seseorang yang akan membuang sampah dalam radius 75 sentimeter.

“Pesan suara itu agar penyandang disabilitas tunanetra mengetahui di sekitarnya terdapat tempat sampah. Sedangkan sensor untuk membuka dan menutup otomatis, berfungsi bagi penyandang disabilitas tunadaksa yang menggunakan kursi roda,” tuturnya lagi.

Koordinator tim grup riset itu, menambahkan, tempat sampah pintar untuk mendukung Green Campus di kampus UNS juga terdapat tempat sampah organik dan nonorganik.

“Difa Elektra” juga dilengkapi perangkat wifi, yang berfungsi memberikan informasi kepada petugas melalui notifikasi berbasis aplikasi khusus apabila sampah telah penuh.

Kendati tempat sampah pintar “Difa Elektra” siap dipasarkan, kata Dr. Rina lagi, karya para penyandang disabilitas itu masih perlu penyempurnaan. Selain harga produk masih relatif mahal, perlu penyempurnaan desain agar lebih menarik dengan ukuran lebih kecil, penyempurnaan tombol otomatis, seperti tombol volume suara dan kecepatan waktu pengatur buka tutup tempat sampah dan sebagainya. @tok

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Wanda Hanya Bisa Menangis, Motornya Raib Saat Ikut Aksi 1812

Jum Des 18 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Aksi demo 1812 menuntut dibentuknya tim independen untuk mengusut kematian enam laskar FPI dan menuntut agar HRS di bebaskan di Mapolresta Tasikmalaya menyisakan kesedihan bagi seorang peserta demo, Jumat (18/12/2020). Dia adalah Wanda Putri Fadilah, seorang pelajar di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat yang ikut dalam aksi demo. […]