Tentang Infak, Sedekah, dan Zakat (1)

Editor :
Ilustrasi/via sindonews.com/ist.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Zakat, infak dan sedekah sangat akrab di telinga kaum muslim, seolah sudah menjadi satu kesatuan. Banyak yang bertanya apakah ketiga istilah itu sama maknanya.

Melansir sindonews.com, berikut penjelasan Pengasuh Rumah Fiqih Indonesia Ustaz Ahmad Sarwat MA. Kata Ustaz Ahmad Sarwat dilansir dari rumahfiqih, ketiga istilah itu memiliki pengertian berbeda.

1. Infak ( ﺇﻧﻔﺎﻕ )

Istilah infak ini boleh dibilang merupakan induk dari ketiga istilah tadi. Asal kata infaq dari bahasa Arab, yaitu ( ﺃﻧﻔﻖ – ﻳﻨﻔﻖ – ﺇﻧﻔﺎﻗﺎ ) yang bermakna mengeluarkan atau membelanjakan harta.

Intinya, berinfak itu adalah membayar dengan harta, mengeluarkan harta dan membelanjakan harta. Tujuannya bisa untuk kebaikan, donasi, atau sesuatu yang bersifat untuk diri sendiri, atau bahkan keinginan dan kebutuhan yang bersifat konsumtif, semua masuk dalam istilah infak.

Istilah Infak bisa diterapkan pada banyak hal:

A. Membelanjakan Harta

Mari kita lihat istilah infak dalam beberapa ayat Al-Quran, misalnya :
ﻟَﻮْ ﺃَﻧﻔَﻘْﺖَ ﻣَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻷَﺭْﺽِ ﺟَﻤِﻴﻌﺎً ﻣَّﺎ ﺃَﻟَّﻔَﺖْ ﺑَﻴْﻦَ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ
“Walaupun kamu membelanjakan semua yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka.” (QS Al-Anfal : 63)

Dalam terjemahan versi Departemen Agama tertulis kata anfaqta ( ﺃﻧْﻔّﻘْﺖَ ) dengan arti: “membelanjakan”, dan bukan menginfaqkan. Sebab memang asal kata infaq adalah mengeluarkan harta, mendanai, membelanjakan, secara umum meliputi apa saja. Kata infak tidak hanya terbatas berbuat baik di jalan Allah, tetapi untuk urusan sosial atau donasi, bahkan apa pun belanja dan pengeluaran harta disebut dengan infak.

B. Memberi Nafkah

Kata infak juga berlaku ketika seorang suami membiayai belanja keluarga atau rumah tangganya. Dan istilah baku dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan nafkah. Kata nafkah tidak lain adalah bentukan dari kata infak. Dan hal ini juga disebutkan di dalam Al-Quran:

Baca Juga :  TAUHID: Dewan Fatwa Turki Larang Penggunaan Jimat Mata Iblis

ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝُ ﻗَﻮَّﺍﻣُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀ ﺑِﻤَﺎ ﻓَﻀَّﻞَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﺑَﻌْﻀَﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻌْﺾٍ ﻭَﺑِﻤَﺎ ﺃَﻧﻔَﻘُﻮﺍْ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟِﻬِﻢْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS An-Nisa’ : 34).

Ketika seorang suami memberikan gaji kepada istrinya, pada hakikatnya dia juga sedang berinfak.

C. Mengeluarkan Zakat

Kata infak di dalam Al-Quran kadang juga dipakai untuk mengeluarkan harta zakat atas hasil kerja dan panen hasil bumi.

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍْ ﺃَﻧﻔِﻘُﻮﺍْ ﻣِﻦ ﻃَﻴِّﺒَﺎﺕِ ﻣَﺎ ﻛَﺴَﺒْﺘُﻢْ ﻭَﻣِﻤَّﺎ ﺃَﺧْﺮَﺟْﻨَﺎ ﻟَﻜُﻢ ﻣِّﻦَ ﺍﻷَﺭْﺽِ

“Hai orang-orang yang beriman, keluarkanlah zakat sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.’ (QS Al-Baqarah : 267)

Jadi kesimpulannya, istilah infak itu sangat luas cakupannya. Bukan hanya dalam masalah zakat atau sedekah, tetapi termasuk juga membelanjakan harta, memberi nafkah bahkan juga mendanai suatu hal, baik bersifat ibadah atau pun bukan ibadah.

Termasuk yang halal atau yang haram, asalkan membutuhkan dana dan dikeluarkan dana itu, semua termasuk dalam istilah infak.

D. Diikuti dengan Fi Sabilillah

Ketika yang dimaksud dengan infak adalah infak yang baik dan untuk jalan kebaikan, Al-Quran tidak menyebutnya dengan istilah infak saja, tetapi selalu menambahinya dengan keterangan, yaitu dengan kata fi sabilillah ( ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ). Maka tidak cukup hanya disebut infak saja, sebab infak saja baru sekedar mengeluarkan harta. Coba perhatikan ayat-ayat berikut ini :

ﻭَﺃَﻧﻔِﻘُﻮﺍْ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﻻَ ﺗُﻠْﻘُﻮﺍْ ﺑِﺄَﻳْﺪِﻳﻜُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﻬْﻠُﻜَﺔِ

“Dan belanjakanlah di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS Al-Baqarah : 195)

Baca Juga :  Tragédi Sarua (4)

Dalam ayat lain Allah berfirman: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir.” (QS Al-Baqarah : 261)

Kemudian, ayat berikut yang artinya: “Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.” (QS Al-Anfal : 60)

“Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi?” (QS Al-Hadid : 10). (bersambung)@fen/sumber: sindonews.com/rumahfiqih

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Laju Inflasi di Masa Pandemi Unik karena Alkes Jadi Penyumbang Tertinggi

Jum Mei 7 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Laju inflasi di masa pandemi tahun 2021 ini disebut unik karena bidang kesehatan ikut menyumbang inflasi tertinggi akibat meningkatnya kebutuhan alat kesehatan (alkes), terutama APD (alat pelindung diri ). “Harga-harga komoditas di pasar sebenarnya semua merata. Ada kenaikan harga tapi masih normal. Kebutuhan tidak terlalu tinggi karena […]