Terdampak Psikologis, Warga Kampung Baeud Garut Minta Pemerintah Tingkatkan Sosialisasi

Editor :
Warga Kampung Baeud, Desa Samida, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, saat menjalani tes swab di kampungnya, Jumat (12/6)./visi.news/zaahwan aries

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Penerapan karantina mandiri di Kampung Baeud, Desa Samida, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, telah menimbulkan dampak cukup luas bagi warga setempat. Bukan hanya ekonomi, warga juga merasakan dampak psikologis akibat munculnya stigma negatif dari masyarakat kampung lain.

Munculnya dampak psikologis ini, dirasakan warga jauh lebih berat karena telah menimbulkan tekanan mental yang luar biasa. Oleh karenanya, masyrakat Kampung Baeud meminta Pemkab Garut untuk lebih meningkatkan sosialisasi agar tidak memunculkan anggapan negatif.

Salah seorang warga Kampung Baeud, Ode Hermawan (43), mengatakan adanya dampak psikologis inilah yang menjadi alasan utama warga Kampung Baeud menolak jika penerapan karantina mandiri diperpanjang di kampung mereka. Belum lagi dampak lainnya yang juga dirasakan warga, termasuk dampak ekonomi.

Dijelaskan Ode, selama penerapan karantina mandiri, warga lebih banyak berdiam diri di rumah. Kalaupun ada yang beraktivitas, dianjurkan untuk tidak keluar kampung. Kecuali urusan yang benar-benar urgen.

“Umumnya warga Kampung Baeud sudah sangat jenuh dengan penerapan karatina mandiri. Dan menolak rencana perpanjangan karantina mandiri. Yang jelas menimbulkan kerugian ekonomi dan psikologis, “tandas Ode.

Bahkan Ode mengeluhkan muncul stigma negatif dari warga kampung lain terhadap warga Kampung Baeud. Warga Kampung Baeud dianggap sebagai sesuatu yang membahayakan sehingga muncul ejekan atau cibiran yang dilakukan warga kampung lain.

Ungkapan senada dilontarkan pula warga lainnya di Kampung Baeud, Oop Hayatullah (32). Ia merasakan adanya tekanan berat terhadap psikologi rekan sekampungnya.

“Contohnya saat berpapasan dengan warga kampung lain di kebun. Mereka langsung menjauh, menghindar sambil mencibir, ” keluhnya.

Oop memaparkan, warga Kampung Baeud tidak semuanya bermata pencaharian sebagai petani. Ada yang mencari nafkah dengan bekerja di kota lain seperti Bandung atau Jakarta.

Baik Ode maupun Oop meminta pemerintah untuk lebih meningkatkan sosialisasi terkait tidak adanya stigma negatif yang ditujukan kepada warga Kampung Baeud oleh warga kampung lainnya. Sosialisasi harus dilakukan terhadap warga kampung lain yang berada di sekitar Kampung Baeud.

“Sosialisasi dinilai sangat penting agar warga kampung lain benar-benar paham bahwa warga Kampung Baeud bukanlah sesuatu yang membahayakan. Dan ini harus segera jangan ditunda-tunda, ” pinta mereka berdua.

Menyikapi adanya kegiatan tes swab massal untuk warga Kampung Baeud, Ode dan Oop menilai hal itu sebagi sebuah hal yang positif. Dengan menjalani tes swab, warga bisa memastikan kondisi kesehatannya, apakah terpapar Covid-19 atau tidak.

“Ini merupakan salah satu pembuktian untuk warga kampung lainnya bahwa tidak semua warga Kampung Baeud terpapar Covid-19 sehingga tak perlu dijauhi,” tandas keduanya sambil menunjukan tes swab di ruang Balai Desa Samida, Jumat (12/6). @zhr

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Urgensi Asnaf Fi Sabilillah

Jum Jun 12 , 2020
Silahkan bagikanOleh Muhammad Syafi’ie el-Bantanie VISI.NEWS – Islam adalah agama yang berpihak pada keadilan dan pembelaan terhadap orang-orang miskin serta termiskinkan. Buktinya bisa kita lihat pada adanya syariat zakat dalam Islam. Andai tidak ada rukun Islam ketiga, zakat, entah bagaimana nasib para duafa (orang-orang miskin) dan ‘mustadh’afin’ (orang-orang yang termiskinkan). […]