Search
Close this search box.

Terjadi Pergerakan Tanah di Singajaya Garut, Sembilan Rumah Terancam

Pergerakan tanah yang terjadi di Kampung Cimuncang, Desa/Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut terjadi Jumat (19/6) dini hari./visi.news/zaahwan aries.

Bagikan :

VISI.NEWS – Guyuran hujan deras yang kerap melanda wilayah Selatan Garut, telah menyebabkan pergerakan tanah di Kecamatan Singajaya, tepatnya diKampung Cimuncang, Desa Singajaya, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Akibatnya, sembilan rumah warga kini terancam ambruk dan sejumlah warga pun terpaksa diungsikan.

“Ada sembilan rumah warga yang terancam akibat pergerakan tanah di wilayah Kecamatan Singajaya, tepatnya di Kampung Cimuncang, Desa Singajaya. Hal ini menyusul longsor yang terjadi Jumat (19/6) dini hari,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Garut, Tubagus Agus Sofyan, Jumat (19/6).

Menurut Tubagus, hingga saat ini, pergerakan tanah dan ancaman bagi warga masih terus terjadi. Dikhawatirkan akan terjadi longsor susulan yang akan membahayakan keselamatan warga sekitar.

Dikatakannya, untuk mencegah hal yang tak diharapkan, sejumlah warga di lokasi pun dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Posisi rumah mereka berada di daerah sangat rawan dan jaraknya tak terlalu jauh dari longsoran.

Disebutkannya, apabila para penghuni rumah tersebut tak segera diungsikan ke tempat lain, ancaman bahaya akan selalu mengintai mereka. Apalagi saat ini tanah di sekitar rumah warga sudah mulai ada yang retak.

Dijelaskannya, hujan dengan intensitas tinggi terjadi di wilayah Singajaya sejak Kamis (18/6) malam. Hal ini telah menimbulkan terjadinya longsor di sejumlah titik, salah satunya di wilayah Cimuncang ini.

“Kondisi tanah di daerah tersebut memang labil dan diperparah oleh intensitas hujan tinggi sejak Kamis malam kemarin,” jelas Tubagus.

Ditambahkannya, berdasarkan pantauan timnya di lapangan, hingga hari ini pergerakan tanah masih terus terjadi bahkan tanah di sekitar rumah warga sudah terlihat retak.

Seorang warga, tutur Tubagus, dilaporkan sempat terbawa longsor, tetapi beruntung ia masih bisa menyelamatkan diri. Namun demikian, warga tersebut kini mengalami trauma.

Baca Juga :  Hetifah Sjaifudian Raih Penghargaan Legislator Peduli Pendidikan dan SDM

“Alhamdulillah tak sampai menimbulkan korban jiwa meskipun ada seorang warga yang sempat terseret material longsoran. Namun ia masih bisa menyelamatkan diri meskipun kini masih terlihat trauma,” ucap Tubagus.

Dikatakannya, selain mengancam sembilan rumah warga, longsor yang terjadi di daerah tersebut juga telah menimbun sejumlah areal persawahan dan jalan desa. Dari laporan kepala desa setempat, kerugian akibat material longsor tesebut mencapai Rp 200 jutaan.

Tubagus mengimbau warga untuk sementara tetap berada di tempat pengungsian dan jangan dulu kembali ke rumah guna menghindari terjadinya hal yang tak diharapkan.

“Hal ini karena potensi terjadinya longsor susulan yang sangat tinggi apalagi hujan dan pergerakan tanah pun masih terus terjadi di daerah tersebut,” pungkasnya. @zhr

Baca Berita Menarik Lainnya :