Thailand dan Indonesia di Persimpangan Regulasi dan Pertumbuhan

Silahkan bagikan

HIGHLIGHTS

  • Thailand Setujui ETF Bitcoin Spot Pertama, Peluang Besar bagi Indonesia.
  • Sinyal Kuat Bitcoin Bersiap Meroket ke Rp1,22 Miliar di Bulan Juni, Benarkah?

VISI.NEWS | BANDUNG – Persetujuan ETF Bitcoin oleh Thailand merupakan langkah progresif yang dapat memicu pertumbuhan dan adopsi aset kripto di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dengan proyeksi harga Bitcoin yang menggembirakan, bulan Juni mungkin akan menjadi bulan yang penting bagi investor dan pengamat pasar kripto.

Namun, penting untuk mempertimbangkan risiko dan volatilitas yang terkait dengan investasi aset kripto.

Sebagai salah satu platform pertukaran aset kripto terkemuka, Tokocrypto menyediakan informasi terkini dan analisis mendalam tentang tren pasar kripto.

1. Thailand Setujui ETF Bitcoin Spot Pertama, Peluang Besar bagi Indonesia

Thailand telah mengambil langkah maju yang signifikan dalam hal adopsi aset digital dengan menyetujui Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin Spot pertama di negaranya, sekaligus menjadi yang pertama di kawasan Asia Tenggara. Hal ini menandakan transisi penting dalam regulasi
dan penerimaan aset kripto di wilayah tersebut.

ETF Bitcoin Spot ini diluncurkan oleh One Asset Management (ONEAM), perusahaan manajemen aset terkemuka di Thailand, dan menawarkan alternatif investasi yang aman dan
teregulasi bagi investor yang ingin mendapatkan eksposur ke Bitcoin. CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis, menyambut baik persetujuan ETF Bitcoin Spot di Thailand dan melihatnya sebagai pertanda positif bagi masa depan aset kripto di Indonesia. ETF ini
memberikan harapan untuk menarik minat dari investor institusional dan individu yang mencari cara aman dan teregulasi untuk berinvestasi dalam Bitcoin.
“Persetujuan ETF Bitcoin Spot di Thailand ini memberikan harapan yang luas untuk adopsi kripto di Indonesia,” kata Yudho. “Ini menunjukkan bahwa regulator di kawasan ini mulai menerima kripto sebagai kelas aset yang sah dan semakin terbuka terhadap potensinya.”

Yudho juga menambahkan bahwa perkembangan ini dapat membuka peluang bagi peluncuran produk investasi ETF kripto di Indonesia. Dia menyatakan bahwa perkembangan ini bisa
menjadi pendorong utama bagi regulator di Indonesia untuk mempertimbangkan langkah
serupa.

Baca Juga :  Si "Jago Merah" Ngamuk di Pabrik Kapas PT Kasta Timbul Cipadung

“Adopsi kripto di Indonesia bisa mendapatkan dorongan signifikan dengan adanya produk ETF Bitcoin Spot. Hal ini dapat memberikan opsi investasi yang lebih aman dan teregulasi bagi masyarakat Indonesia. Dengan melihat perkembangan regulator di negara lain, seperti Thailand, Hong Kong, Australia, dan Amerika Serikat, yang sudah menyetujui ETF kripto, maka
kemungkinan besar Indonesia akan mengikuti langkah yang sama,” ujar Yudho.

Langkah Penting

Persetujuan ETF Bitcoin Spot di Thailand memang menjadi langkah penting dalam evolusi aset kripto di Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan bahwa regulasi kripto mulai berkembang dan semakin matang, dan membuka jalan bagi adopsi yang lebih luas di masa depan.

Perpindahan pengawasan dan pengaturan kripto dari Badan Pengawas Perdagangan
Berjangka Komoditi (Bappebti) ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga dapat membawa dampak
positif bagi industri kripto di Indonesia. OJK memiliki pengalaman dan sumber daya yang lebih luas dalam mengawasi pasar keuangan, sehingga diharapkan dapat memberikan regulasi yang
lebih komprehensif dan efektif untuk industri kripto.

“Saat ini, pengawasan dan pengaturan kripto di Indonesia berada di bawah Bappebti. Namun, dalam waktu dekat, pengawasan ini akan berpindah ke OJK. Perpindahan ini bisa membuka peluang bagi produk investasi ETF kripto di Indonesia, mengingat regulator negara lain sudah mulai menyetujuinya,” imbuh Yudho yang juga Wakil Ketua Umum Asosiasi Blockchain &
Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo-ABI).

Sentimen disetujuinya ETF Bitcoin di Thailand juga menjadi salah satu pendorong harga BTC menembus US$71.000 atau sekitar Rp1,15 miliar pada Rabu (5/6) pagi pukul 09:00 WIB. Hal ini
menunjukkan kepercayaan yang semakin besar dari investor terhadap aset digital tersebut, yang dipicu oleh adanya produk investasi yang lebih aman dan teregulasi.
Momentum ini tidak hanya memberikan keuntungan bagi pasar kripto Thailand tetapi juga menimbulkan optimisme di pasar global, termasuk Indonesia, yang melihat peluang serupa untuk mendorong adopsi kripto dan menarik lebih banyak investor.

Melihat perkembangan di Thailand, ada peluang besar bagi Indonesia untuk mengikuti jejak tersebut. Dengan regulasi yang tepat, ETF Bitcoin Spot dapat menarik lebih banyak investor institusional dan ritel yang selama ini ragu karena masalah keamanan dan regulasi.

Baca Juga :  Kontingen Indonesia Kokoh di Posisi Tiga SEA Games 2021

Selain itu, persetujuan ETF Bitcoin Spot dapat meningkatkan likuiditas pasar kripto di Indonesia dan memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk berinvestasi dalam aset
digital. Ini juga dapat memposisikan Indonesia sebagai pemain utama dalam ekosistem kripto di Asia Tenggara.

2. Sinyal Kuat Bitcoin Bersiap Meroket ke Rp1,22 Miliar di Bulan Juni, Benarkah?

Harga Bitcoin telah melonjak lebih dari 60% sepanjang tahun hingga Mei 2024, didorong oleh
arus masuk ke ETF BTC di AS dan ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed.

Menurut data Bitcoin Monthly Returns, performa Bitcoin pada bulan Mei cukup mengesankan dengan kenaikan sebesar 11,07% (MoM), dibandingkan dengan bulan April yang turun sebesar 14,76%.

Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengatakan berdasarkan gabungan indikator on-chain,
fundamental, dan teknis, Bitcoin mungkin akan mengalami kenaikan lebih lanjut di bulan Juni,
berpotensi mencapai US$75.000 atau sekitar Rp1,22 miliar pada akhir bulan.

“Kemampuan Bitcoin untuk mencapai US$75.000 berasal dari pola segitiga simetris yang
biasanya menandakan kelanjutan tren bullish. Pada 31 Mei, harga BTC mendekati puncak segitiga, mengincar penembusan di atas garis tren atas, yang dapat mendorong harganya menuju US$74.000-US$75.000 pada bulan Juni, tergantung pada titik penembusannya. Titik breakout ini mungkin berada di sekitar US$69.000, yang bertepatan dengan support garis tren naik Bitcoin,” analisanya.

Selain itu, volatilitas Bitcoin terus memikat investor, dan perkembangan ekonomi terkini di Amerika Serikat mungkin akan menentukan langkah besar berikutnya. Rilis data inflasi bulan Mei dalam waktu dekat menjadi sorotan. Jika inflasi di AS cukup melambat hingga 3,3% atau lebih rendah, ini bisa mendorong harga Bitcoin kembali ke titik tertinggi sepanjang masanya di
level US$73.000 atau sekitar Rp1,18 miliar.

“Namun, jika hasil CPI melebihi ekspektasi, momentumnya bisa melemah. Hasil CPI yang lebih
tinggi dari perkiraan telah menyebabkan penurunan harga Bitcoin. Pelaku pasar berharap ada dorongan lebih lanjut terhadap momentum bullish ini dengan data NFP (non-farm payroll) yang
positif, sehingga mengindikasikan pelambatan inflasi dan meningkatkan peluang penurunan
suku bunga pada bulan Juni dan Juli,” jelas Fyqieh.

Baca Juga :  Semua Aset Desa Harus Bersertifikat, Bupati Bandung : Tahun 2024 Targetkan 100.000 Sertifikat Tanah

Jika data CPI terbaru yang akan dirilis pada 12 Juni mendatang berada di bawah perkiraan, ini
dapat meningkatkan kepercayaan investor dan memacu gelombang baru pembelian Bitcoin.

Inflasi yang lebih rendah tidak hanya mendukung Bitcoin tetapi juga meningkatkan persepsi aset digital sebagai lindung nilai terhadap inflasi.

Potensi ETF Bitcoin dan Ethereum

Arus masuk dana ETF Bitcoin di AS diharapkan akan terus meningkat sepanjang bulan Juni.

Pekan lalu, ETF Bitcoin melaporkan arus masuk bersih yang luar biasa sebesar US$242 juta per hari, menunjukkan kebangkitan permintaan sisi beli. Mengingat tekanan jual harian dari para penambang sebesar US$32 juta per hari sejak Bitcoin halving, tekanan beli ETF ini hampir delapan kali lebih besar.

“Arus masuk besar ke ETF Bitcoin mencerminkan peningkatan kepercayaan investor dan menunjukkan bahwa pasar mungkin siap untuk reli lebih lanjut, terutama karena tekanan jual
dari penambang berkurang,” ungkap Fyqieh.

Hal ini menggarisbawahi dampak positif yang signifikan dari ETF terhadap pasar dan pengaruh halving yang relatif berkurang di masa mendatang. Hasilnya, harga Bitcoin berada pada posisi yang baik untuk melanjutkan reli hingga bulan Juni.

ETF Ethereum spot di AS memiliki kemungkinan untuk diluncurkan pada akhir Juni. K33 Research memperkirakan bahwa ETF ETH spot AS yang akan datang dapat memperoleh arus masuk US$4 miliar dalam lima bulan, yang mengarah pada apresiasi harga dan kenaikan ETH dibandingkan BTC.

Peluncuran ETF Ethereum yang sukses dapat menjadi preseden positif bagi ETF Bitcoin, yang
berpotensi meningkatkan kepercayaan investor dan meningkatkan permintaan di pasar kripto.

Hal ini selanjutnya memungkinkan Bitcoin untuk mencapai target penembusan segitiga simetris sebesar US$75.000 (Rp1,22 miliar) pada bulan Juni.

@uli

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

OPPO Siap Luncurkan Fitur AI Generatif untuk 50 Juta Pengguna di Musim Panas 2024

Kam Jun 6 , 2024
Silahkan bagikan Didorong oleh keyakinan bahwa ponsel cerdas adalah perangkat AI pribadi yang paling penting, OPPO menghadirkan AI generatif di seluruh lini produk ponsel pintar OPPO seiring dengan komitmennya untuk membuat ponsel AI dapat diakses oleh semua orang. Bersamaan dengan pengembangan kemampuan AI miliknya, OPPO akan berkolaborasi dengan Google, MediaTek, […]