Timnas Indonesia U-19 Bakal Sia-sia Tanpa Kompetisi

Editor Timnas U-19 dijadwalkan kembali ke Indonesia setelah dua bulan TC di Kroasia./pssi.org/via cnn indonesia.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Pengamat sepak bola nasional, M. Kusnaeni melihat keberadaan Timnas Indonesia U-19 harus selaras dengan bergulirnya kompetisi di tanah air. Kompetisi di tanah air yakni Liga 1 dan 2 jadi wadah untuk para pemain mematangkan kemampuan.

Kusnaeni mengatakan, setelah dua bulan digeber latihan keras di Kroasia, Timnas Indonesia U-19 telah mengalami peningkatan yang cukup bagus. Baik itu peningkatan dari segi fisik, stamina, mental, maupun taktik bermain.

Memasuki November 2020, waktu menuju Piala Dunia U-20 yang menjadi target utama persiapan Garuda Muda hanya kurang dari enam bulan. Di fase ini sewajarnya, Timnas Indonesia U-19 sedang masuk di periode pemantapan.

“Enam bulan terakhir masa persiapan biasanya masuk periode pematangan, fisik, taktik, strategi, formasi dan, lainnya. Kalau mereka (Timnas U-19) pulang ke Indonesia, tapi kompetisinya, liganya tidak jalan akan jadi kontradiktif.”

“Karena tujuan kepulangan mereka itu selain untuk menghilangkan kejenuhan juga supaya pemain bisa kembali ke klub dan tampil di kompetisi, Liga 1 dan Liga 2. Di kompetisi itu mereka akan kembali terasah kemampuannya, periode pematangan itu berjalan,” ucap Kusnaeni, Rabu (21/10), seperti dilansir CNNIndonesia.com.

Terlebih, rencananya setelah pulang ke Indonesia, Timnas U-19 akan kembali terbang ke Prancis untuk mengikuti Turnamen Toulon sembari mematangkan persiapan sebelum finalisasi dan tampil di Piala Asia U-20 pada 22 Februari mendatang di Uzbekistan.

Idealnya, lanjut Kusnaeni, lebih baik David Maulana dkk. tetap menjalani TC di luar negeri. Namun, butuh biaya yang sangat besar untuk bisa bertahan di luar negeri.

“Kalau pulang ke Indonesia, tapi tidak ada ruang buat pemain berkompetisi akan menjadi pekerjaan rumah tambahan buat pelatih,” kata Kusnaeni.

Baca Juga :  SKETSA | Will Smith

“Jika melanjutkan TC di Indonesia lalu uji coba dengan lawan yang levelnya di bawah mereka saat ini, fisik, stamina, feeling mereka akan berkurang karena kegiatannya tidak intensif,” ungkapnya.

Seperti diketahui sampai saat ini PSSI maupun operator kompetisi PT. Liga Indonesia Baru (LIB) masih belum mendapatkan izin keramaian dari kepolisian untuk kembali menggulirkan Liga 1 dan Liga 2 di tengah pandemi covid-19.

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan atau Iwan Bule juga sudah menyampaikan perihal urgensi digulirkannya kembali kompetisi dan kaitannya dengan persiapan Timnas Indonesia U-19 ke Piala Dunia U-20 kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat Rapat Kerja Terbatas (Ratas), Selasa (20/10/2020).

Meski begitu, belum ada keputusan bijak yang diambil Presiden Jokowi sampai saat ini.

Sebelumnya, PSSI berencana menggulirkan kembali Liga 1 pada 1 Oktober 2020 lalu. Karena tidak dapat izin dari kepolisian, PSSI berencana memulainya paling cepat pada 1 November atau sampai izin dikeluarkan.

Pihak kepolisian tidak mau mengeluarkan izin keramaian karena situasi dan kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia belum mereda. Ditambah lagi gelaran pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang baru akan berakhir Desember mendatang.

Di mata Kusnaeni, PSSI meminta ke Presiden merupakan hal lumrah. Karena itu dia menilai langkah PSSI itu sudah tepat.

“Kalau disampaikan ke Presiden, mungkin Presiden bisa menilai dari sisi yang lebih luas, tidak hanya teknis. Tapi sinkronasi memadukan ekonomi dan kesehatan lebih luas dan seimbang,” katanya.

“Pemerintah juga harus melihat sisi bahwa kita ini serius mau jadi tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun depan. Jadi ini juga bisa jadi pertimbangan dari sisi sepak bolanya,” jelas Kusnaeni.

Jika yang dikhawatirkan adalah terjadinya klaster Covid-19 dari kompetisi, pemerintah bersama dengan PSSI, sebut Kusnaeni, harus bisa memastikan kegiatan kompetisi mematuhi protokol kesehatan yang ketat.

Baca Juga :  KIPRAH: Pernikahan Lesti Kejora dan Rizky Billar Ditunda

“PSSI harus gigih menjelaskan berkali-kali kepada kepolisian, pengambil kebijakan seperti Satgas, Kemenpora, Menko PMK dan Preside soal ini,” tambahnya.

“PSSI butuh kerja politik untuk meyakinkan pengambil kebijakan bahwa kompetisi dibutuhkan bukan hanya untuk menghidupi pelakunya, tapi karena sesuatu yang lebih besar yaitu Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2021,” pungkas Kusnaeni. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

KPI ke Pemerintah: Warga Miskin Harus Punya TV Digital 2022

Rab Okt 21 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mendorong distribusi set top box (STB) bagi warga tak mampu atau miskin agar penerapan Analog Switch Off (ASO) atau migrasi dari TV analog ke TV digital bisa merata. Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Agung Suprio menyatakan, Komisi […]