VISI.NEWS | JAKARTA – Tiongkok kembali menegaskan posisinya sebagai negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia pada periode Januari–Agustus 2025, dengan nilai mencapai US$40,44 miliar atau sekitar 22,97 persen dari total ekspor nonmigas nasional. Angka tersebut menunjukkan besarnya peran Tiongkok dalam mendukung kinerja ekspor Indonesia di tengah dinamika perdagangan global.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor utama Indonesia ke Tiongkok didominasi oleh besi dan baja (HS 72) senilai US$11,77 miliar atau sekitar 29,09 persen dari total ekspor ke negara tersebut. Selain itu, bahan bakar mineral (HS 27) menyumbang US$5,91 miliar atau 14,61 persen, dan nikel serta barang daripadanya (HS 75) mencapai US$4,59 miliar atau 11,35 persen. Ketiga komoditas ini mencerminkan kuatnya posisi Indonesia sebagai pemasok bahan baku industri bagi sektor manufaktur di Tiongkok.
Sementara itu, Amerika Serikat menempati posisi kedua dengan nilai ekspor nonmigas sebesar US$20,60 miliar atau 11,70 persen dari total ekspor nasional. Komoditas utama yang dikirim ke Negeri Paman Sam antara lain mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) senilai US$3,79 miliar (18,37%), pakaian dan aksesorinya (rajutan) sebesar US$1,86 miliar (9,04%), serta alas kaki mencapai US$1,85 miliar (8,98%).
Adapun India berada di posisi ketiga dengan nilai ekspor nonmigas mencapai US$12,59 miliar atau sekitar 7,15 persen dari total ekspor. Komoditas utama yang dikirim ke India meliputi bahan bakar mineral (HS 27) sebesar US$3,69 miliar (29,33%), lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) senilai US$2,73 miliar (21,71%), serta besi dan baja (HS 72) sebesar US$1,08 miliar (8,59%).
Selain tiga negara tersebut, kawasan ASEAN juga menjadi salah satu pasar penting dengan kontribusi 19,42 persen terhadap total ekspor nonmigas Indonesia. Hal ini mencerminkan tingginya intensitas perdagangan intra kawasan yang terus meningkat berkat kerja sama ekonomi regional.
Kawasan Uni Eropa menyumbang 7,24 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia, dengan produk utama seperti minyak kelapa sawit, karet, dan produk tekstil. Sementara itu, negara-negara lain di luar kawasan utama tersebut secara keseluruhan berkontribusi 31,52 persen, menunjukkan bahwa pasar ekspor Indonesia cukup terdiversifikasi.
Kinerja ekspor nonmigas yang positif ini menjadi pendorong utama dalam menjaga surplus neraca perdagangan Indonesia. Pemerintah terus berupaya memperkuat daya saing ekspor melalui hilirisasi industri, peningkatan kualitas produk, serta perluasan pasar ke negara-negara nontradisional di Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Budi Santoso menyebutkan bahwa dominasi Tiongkok tidak terlepas dari hubungan dagang strategis dan permintaan tinggi terhadap komoditas industri Indonesia. “Indonesia diuntungkan oleh peningkatan kebutuhan Tiongkok terhadap bahan baku industri seperti nikel dan baja, seiring dengan pertumbuhan sektor energi baru dan kendaraan listrik di negara tersebut,” ujarnya.
Ke depan, pemerintah menargetkan peningkatan nilai tambah ekspor melalui diversifikasi produk manufaktur dan teknologi tinggi agar Indonesia tidak hanya bergantung pada ekspor bahan mentah. Dengan langkah ini, diharapkan kinerja ekspor nonmigas semakin kuat dan berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
@uli












