VISI.NEWS | BANDUNG – Olahraga hiking semakin diminati masyarakat karena menawarkan kombinasi aktivitas fisik dan pengalaman menikmati alam terbuka. Namun, para instruktur kegiatan luar ruang mengingatkan bahwa hiking bukan sekadar berjalan di pegunungan, melainkan aktivitas yang memerlukan persiapan, teknik, dan pengetahuan dasar agar tetap aman. Sejumlah panduan pun disampaikan agar pendaki pemula maupun berpengalaman dapat menikmati perjalanan tanpa risiko berlebih.
Langkah pertama yang disarankan adalah memilih jalur pendakian sesuai kemampuan. Para pemula diimbau tidak langsung mencoba gunung atau jalur ekstrem yang menanjak. Jalur pendek berdurasi satu hingga tiga jam dinilai cukup untuk adaptasi. Seiring meningkatnya kemampuan fisik, rute yang lebih menantang dapat dicoba secara bertahap.
Persiapan fisik juga memegang peran penting. Instruktur merekomendasikan latihan kaki dan kardio setidaknya satu hingga dua minggu sebelum pendakian. Aktivitas seperti jalan cepat, naik-turun tangga, squat, atau lunges dinilai efektif membangun kekuatan otot dan daya tahan. Latihan ini membantu pendaki tidak cepat kelelahan, terutama saat melintasi jalur menanjak.
Dari sisi perlengkapan, sepatu khusus hiking menjadi kebutuhan utama. Sepatu dengan sol yang memiliki daya cengkeram kuat, tahan air, dan mampu menopang pergelangan kaki disarankan untuk mencegah cedera. Sepatu olahraga biasa, menurut para ahli, lebih berisiko menyebabkan terpeleset dan rasa sakit pada kaki selama perjalanan.
Pendaki juga perlu memastikan kecukupan air minum. Dehidrasi merupakan salah satu penyebab kram dan hilangnya konsentrasi di jalur. Aturan umum menyebutkan satu liter air dibutuhkan setiap satu hingga dua jam perjalanan. Penggunaan botol yang mudah dijangkau atau hydration bag akan memudahkan pendaki mengelola asupan cairan.
Pakaian berlapis atau layering turut menjadi perhatian. Sistem ini terdiri atas lapisan dalam untuk menyerap keringat, lapisan tengah untuk menghangatkan, dan lapisan luar yang tahan angin atau air. Penggunaan kaos berbahan katun tidak dianjurkan karena mudah basah dan membuat tubuh cepat dingin. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko hipotermia, terutama di ketinggian.
Saat berjalan, pendaki dianjurkan menjaga ritme yang stabil. Banyak pendaki pemula cenderung terlalu cepat di awal sehingga cepat lelah. Langkah pendek dengan pola napas teratur dinilai lebih efektif. Untuk menjaga energi, camilan ringan seperti cokelat, kacang, atau energy bar dapat dikonsumsi secara berkala setiap 45 hingga 60 menit.
Salah satu perlengkapan tambahan yang banyak direkomendasikan adalah trekking pole. Tongkat ini dapat mengurangi beban lutut, membantu keseimbangan, serta mempermudah pendaki dalam medan naik maupun turun. Bagi mereka yang memiliki riwayat nyeri sendi, penggunaan trekking pole sangat dianjurkan.
Sebagai langkah keselamatan tambahan, pendaki diminta memeriksa kondisi cuaca sebelum berangkat. Aktivitas pendakian sebaiknya dihindari ketika terdapat potensi hujan badai, angin kencang, atau sambaran petir. Cuaca di gunung dapat berubah cepat, sehingga membawa jas hujan ringan menjadi keharusan. Setelah turun, pendaki disarankan melakukan peregangan untuk mencegah pegal berlebih pada otot.
Dengan persiapan yang tepat, hiking dapat menjadi olahraga yang menyenangkan dan menyehatkan tanpa menimbulkan risiko besar. Etika dasar seperti tidak membuang sampah, menghormati pendaki lain, dan menjaga kelestarian jalur juga menjadi bagian dari pengalaman hiking yang bertanggung jawab.
@uli