Search
Close this search box.

Tradisi & Kebaruan: West Java Contemporary Dance

West Java Contemporary Dance Festival bertema Ruh Silat, Ruh Zaman. /visi.news/ist

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Pencak silat Sunda merupakan salah satu warisan budaya takbenda yang mengandung kekayaan estetika, etika, dan logika. Ia tidak hanya berfungsi sebagai seni bela diri yang menonjolkan ketangkasan tubuh, tetapi juga sebagai ekspresi budaya yang sarat makna, memuat filosofi hidup, disiplin diri, hingga penghormatan terhadap alam dan sesama. Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan seni pertunjukan kontemporer, seni gerak tradisional ini menemukan kembali relevansinya melalui pendekatan baru yang lebih terbuka dan eksploratif.

Pada era ketika batas-batas artistik semakin cair, tari kontemporer hadir sebagai medium yang memungkinkan seniman menafsirkan ulang tubuh, ruang, dan makna. Keterbukaan ini memberi peluang bagi pencak silat untuk bertransformasi dalam lanskap kesenian masa kini tanpa kehilangan akar nilai yang menjadi ruhnya. Pertemuan antara tradisi dan inovasi inilah yang menjadi inti dari gelaran West Java Contemporary Dance Festival bertema Ruh Silat, Ruh Zaman.

Festival yang digelar di Taman Budaya Jawa Barat ini diprakarsai oleh UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, di bawah naungan DISPARBUD Jawa Barat. Program istimewa ini mempertemukan enam paguron pencak silat Sunda dengan koreografer tari kontemporer Jawa Barat. Seluruh paguron terlibat merupakan hasil kurasi Dr. Alfiyanto, S.Sn., M.Sn., selaku penggagas festival.

Enam paguron tersebut adalah:
1. Paguron Pasir Ipis (koreografer: Nur Fitriyani P)
2. Paguron Panglipur Pamager Sari (koreografer: Angga)
3. Paguron Sagara Budhi Kencana (koreografer: Wajiwa)
4. Paguron Pager Kencana (koreografer: Antari Dewi Ranjani)
5. Paguron Tirta Puja Siliwangi (koreografer: Syifa Nur A)
6. Persatuan Sanggar Seni Sabah, Malaysia (koreografer: Suhaimi Magi)

Dr. Alfiyanto, salah seorang maestro tari kontemporer Jawa Barat sekaligus menjadi kurator festival menjelaskan bahwa festival ini bukanlah sebuah kompetisi. Ia merupakan ruang presentasi karya hasil kurasi, yang dirancang sebagai titik temu antara tradisi pencak silat dan kebaruan dalam tari kontemporer. Menurutnya, festival ini diharapkan menjadi tawaran segar bagi ekosistem seni pertunjukan Jawa Barat, tidak hanya relevan dengan perkembangan artistik masa kini, tetapi juga menjadi ruang edukasi, dialog, serta silaturahmi bagi para pelaku seni.

Baca Juga :  Metropolitano Bergemuruh, Atletico Hancurkan Barcelona dan Satu Kaki di Final Copa del Rey

“Membaca Jejak Pencak Silat dalam Koreografi Kontemporer Jawa Barat” bukan hanya sebatas sebuah tema, tetapi juga sebuah upaya untuk menelusuri bagaimana warisan gerak tradisional dapat menemukan ruang baru dalam praktik seni pertunjukan masa kini. Dalam konteks tari kontemporer, pencak silat tidak lagi dipandang sekadar rangkaian jurus atau teknik bela diri, tetapi sebagai sumber estetika, etika, dan filosofi yang dapat memperkaya penciptaan artistik. Melalui pembacaan ulang terhadap struktur gerak, ritme tubuh, dinamika ruang, serta nilai-nilai yang terkandung di balik setiap pukulan dan elakan, para koreografer berusaha menjembatani tradisi dan kebaruan tanpa memutus akar kulturalnya.

Dr. Alfiyanto juga menjelaskan bahwa Proses kreatif ini kemudian memberi dampak penting bagi dunia pendidikan pencak silat, khususnya bagi para murid di paguron. Ketika pencak silat dihadirkan dalam karya kontemporer, para murid tidak hanya melihat tradisi mereka dihormati, tetapi juga memahami bahwa silat adalah warisan hidup yang dapat terus berkembang.

Mereka belajar bahwa setiap gerak memiliki sejarah, makna, dan konteks, serta dapat menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan karya baru. Lebih dari itu, murid-murid paguron mendapatkan nilai edukatif berupa wawasan bahwa seni bela diri bukan hanya tentang kekuatan fisik, melainkan tentang kepekaan estetis, kedisiplinan, kerja sama, dan kemampuan membaca zaman. Interaksi mereka dengan dunia tari kontemporer mengajarkan keterbukaan berpikir, apresiasi terhadap seni lain, dan kemampuan melihat tradisi sebagai sesuatu yang dinamis.

Dengan demikian, membaca jejak pencak silat dalam koreografi kontemporer bukan hanya membicarakan karya seni pertunjukan, tetapi juga membangun jembatan pengetahuan bagi generasi muda, bahwa identitas budaya dapat menjadi fondasi untuk berkarya, berinovasi, dan menghadapi perubahan zaman dengan percaya diri.

Baca Juga :  Israel Masuk Board of Peace, Pakar Ingatkan Risiko Diplomatik bagi Indonesia

Lebih jauh, festival ini mendorong peserta untuk tidak hanya membaca pencak silat secara formalistik, tetapi juga secara konseptual. Mereka diundang untuk menafsirkan ulang gerak, tubuh, ruang, narasi, hingga nilai filosofis yang terkandung dalam tradisi silat, sehingga melahirkan ekspresi artistik yang orisinal dan bermakna. Pendekatan ini membuka peluang kreatif untuk memadukan ruh silat dengan ruh zaman—memberi nyawa baru pada tradisi tanpa mengaburkan esensi yang menjadikannya khas.

Selain pertunjukan karya, festival ini juga dirangkai dengan sesi diskusi yang menghadirkan tiga narasumber: Hartati, S.Sn., M.Sn; serta Dr. Alfiyanto, dan Suhaimi Magi dari Malaysia. Dalam diskusi bertajuk “Membaca Jejak Pencak Silat dalam Koreografi Kontemporer Jawa Barat”, para pembicara membahas potensi tradisi silat sebagai sumber penciptaan yang terus relevan dalam perkembangan seni pertunjukan masa kini.

West Java Contemporary Dance Festival tahun ini menjadi bukti bahwa tradisi bukan sesuatu yang statis, melainkan ruang hidup yang dapat terus dikembangkan. Selama nilai dasarnya tetap dijaga, pencak silat akan selalu menemukan panggung baru di berbagai zaman.

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :