VISI.NEWS|BANDUNG– Di balik angka pemasukan fantastis dari La Masia, Barcelona menyimpan kisah getir tentang krisis dan pengorbanan. Sejak 2024, klub Catalan itu meraup lebih dari €50 juta atau sekitar Rp850 miliar dari penjualan lulusan akademi, sebuah capaian yang menegaskan keberhasilan finansial sekaligus tragedi olahraga.
La Masia yang selama puluhan tahun menjadi simbol kesinambungan filosofi dan regenerasi kini berubah fungsi. Akademi legendaris itu dipaksa menjadi sumber dana darurat demi menjaga stabilitas neraca keuangan klub.
Presiden Barcelona, Joan Laporta, tidak menutupi realitas pahit tersebut.
“Kami berada dalam situasi yang menuntut keputusan sulit. Menjual pemain akademi bukan pilihan ideal, tapi ini tentang kelangsungan klub,” kata Laporta.
Keputusan paling emosional datang saat Barcelona melepas Dro Fernandez ke Paris Saint-Germain. Gelandang muda itu digadang-gadang sebagai aset jangka panjang, namun akhirnya dilepas dengan nilai sekitar €8,2 juta. Transfer tersebut mempertegas dilema klasik: menjaga masa depan olahraga atau menyelamatkan kondisi finansial saat ini.
Pelatih Barcelona, Hansi Flick, menyuarakan kekecewaan atas kondisi yang harus dihadapi tim teknis.
“Kami ingin membangun tim dengan pemain muda terbaik kami. Tapi kenyataannya, tidak semua keputusan bisa diambil dari sudut pandang sepak bola,” ujar Flick.
Dro menjadi simbol dari perubahan paksa tersebut. Ia kini tercatat sebagai pemain akademi termahal ketiga yang dilepas Barcelona sejak 2024, di bawah Mika Faye dan Chadi Riad. Setiap transfer memperkuat kas klub, namun juga mengikis kedalaman proyek jangka panjang.
Salah satu pemain muda yang masih bertahan mengakui situasi sulit yang dihadapi generasi La Masia saat ini.
“Bermain di tim utama adalah mimpi, tapi sekarang kami juga sadar situasinya tidak mudah. Banyak dari kami harus siap dengan segala kemungkinan,” ucap Fermin Lopez.
Secara total, dua musim terakhir menghasilkan sekitar €52,5 juta dari penjualan pemain akademi. Nama-nama seperti Marc Guiu, Alex Valle, Unai Hernandez, hingga Estanis Pedrola menjadi bagian dari strategi bertahan hidup klub. Bahkan klausul tambahan dan opsi pembelian kembali ikut dimaksimalkan demi menambal lubang finansial.
La Masia tetap menghasilkan emas, tetapi harga yang dibayar Barcelona sangat mahal. Di tengah gemerlap angka penjualan, tersimpan tragedi tentang mimpi-mimpi yang terpaksa dilepas sebelum benar-benar tumbuh di Camp Nou.@fajar












