TRAVEL UPDATE – Rammang-rammang, Wisata Andalan Maros

Silahkan bagikan

BAGI Anda yang sudah berkunjung ke Sulawesi Selatan, pasti Anda pernah mendengar Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, yaitu wilayah konservasi alam yang terletak di Kabupaten Maros. Jaraknya sekitar 50 kilometer dari Kota Makassar, atau bisa ditempuh selama satu jam dengan menggunakan kendaraan darat dari Ibukota Sulsel tersebut.

Tetapi jangan salah, waktu tempuh satu jam dari Makassar akan terbayar lunas begitu Anda sampai di wilayah Taman Nasional Bantimurung. Anda akan mendapati pemandangan yang hijau, udara yang segar, asri dan teduh karena kawasan ini dipayungi pohon-pohon besar nan rimbun. Cocok untuk melepas lelah dan penat.

Kawasan Wisata Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. /visi.news/mohammad hasyim

Kawasan Wisata Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Kawasan Taman Nasional Bantimurung terbagi ke dalam tiga objek wisata: Taman Kupu-kupu (Butterfly’s Kingdom), Kampung Berua Rammang-rammang (Desa Wisata yang terletak di puncak karst atau pegunungan batu gamping) dan Karst Forest (Hutan Batu Gamping). Tempat-tempatnya eksotis dan menawarkan pemandangan alam yang menakjubkan, terlebih pegunungan batu gamping (karst) yang menjulang tinggi yang konon terbentuk sejak jutaan tahun lalu.
Pertama, kita susur dulu Taman Kupu-kupu Bantimurung. Taman ini dihuni oleh ratusan species kupu-kupu dan bahkan memiliki ribuan corak dan motif. Tempatnya indah. Dipuncaki sebuah danau, yang setiap pagi ditempati oleh ribuan kupu-kupu, air dari danau itu kemudian mengalir menuju air terjun yang deras untuk kemudian membelah kawasan Bantimurung melalui aliran sungai.
Objek wisata ini sering digunakan untuk berenang karena airnya jernih. Di sepanjang aliran sungai didirikan bale-bale kecil untuk istirahat atau menyimpan tas selama berenang. Di atas aliran sungai juga dibangun jembatan dan spot-spot cantik yang instagramable.

Aliran Sungai yang membelah Kawasan Bantimurung. /visi.news/mohammad hasyim

Bupati Maros Andi Chaidir Syam mengakui bahwa kawasan Bantimurung merupakan tempat untuk melepas kesedihan atau membuang rasa murung. “Bantimurung itu sering diartikan dengan ‘membanting kemurungan’ karena di sini bukan tempat untuk murung tetapi tempat untuk bergembira,” ujar Bupati saat menerima Kunker Komisi VIII DPR RI di Pendopo Bantimurung, Kabupaten Maros, awal Oktober 2021.

Baca Juga :  Kang DS: Aplikasi Sidora Inisiasi Dispora untuk Memberikan Informasi kepada Masyarakat

Wartawan VISI.NEWS Mohammad Hasyim yang ikut dalam kunjungan kerja itu merasakan bahwa kawasan wisata di Bantimurung sangat cocok untuk tujuan berlibur. Udaranya masih bersih karena jauh dari polusi. Tempat-tempatnya juga menarik untuk disinggahi karena cukup asri.

Masuk dengan tarif seharga Rp. 30.000, pengunjung Taman Kupu-kupu Bantimurung akan disuguhi spot-spot cantik untuk berfoto. Ada juga monumen kupu-kupu yang besar, menandakan bahwa kawasan tersebut merupakan tempat berkembang-biaknya kupu-kupu dari berbagai species.

Monumen dan Ornamen Kupu-kupu di Bantimurung. /visi.news/mohammad hasyim

Di Kawasan itu juga banyak dijual cendera mata berbentuk kupu-kupu, mulai dari gantungan kunci hingga hiasan dinding berupa gabungan kupu-kupu dari berbagai species dan diawetkan dalam satu frame photo. Tentu saja itu untuk mereka yang menggandrungi bentuk dan warna indah kupu-kupu.

Ada juga kedai-kedai kecil untuk beristirahat sambil menyeruput kopi dan mencicipi makanan ringan. Untuk keperluan makan, ada juga food court yang menyajikan makanan-makanan berat seperti nasi dan lauk-pauknya. Jangan khawatir, harga-harga yang ditawarkan di kawasan wisata ini relatif tidak mahal alias standar saja.

Untuk kepentingan akomodasi, ada juga Hotel Bantimurung yang terdiri dari puluhan kamar standard. Tarifnya pun murmer alias murah meriah berkisar Rp 200-Rp 300 ribu. Cukup menarik untuk bermalam di sana karena pada pagi hari dapat menikmati udara segar sambal mengejar kupu-kupu yang berterbangan.

Hotel Bantimurung. /visi.news/mohammad hasyim

Jika Anda tidak menginap, atau berkunjung ke Bantimurung pulang-hari, jangan khawatir akan kehabisan waktu untuk sholat sebab di sana juga berdiri masjid yang cukup besar. Jemaahnya bisa menampung puluhan orang sehingga dapat menampung jemaah salat Jumat.

Ada juga Pendopo Baruga Utama, yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan kumpul-kumpul seperti pertemuan atau rapat. Pendopo ini terbuka alias tanpa pintu dan jendela supaya udara segar di kawasan itu masih bisa dihirup dan pemandangan dari dalam pendopo ke luar juga tak terhalang apapun.

Baca Juga :  Cuaca Bandung dan Sekitarnya Cerah Berawan, Suhu Nyaman
Pendopo Baruga Utama. /visi.news/mohammad hasyim

Berikutnya, kawasan wisata Rammang-rammang. Kawasan wisata ini berlokasi tidak jauh dari Bantimurung dan menawarkan objek wisata sungai serta gunung batu gamping (karst). Untuk mencapai ke Kampung Berua yang terletak di pegunungan karst di Kawasan Rammang-rammang, kita perlu menyusuri sungai sejauh sekitar 3 kilometer dan membutuhkan sewa perahu motor seharga Rp 200 ribu untuk 8 orang.

Aliran Sungai Rammang-rammang. /visi.news/mohammad hasyim

Menyusuri aliran sungai yang berkelak-kelok selama sekitar 15 menit, di tengah gunung-gunung karst yang menjulang tinggi, adalah pengalaman yang cukup mendebarkan. Apalagi di beberapa kelokan terdapat terowongan yang menembus batu karst. Mirip suasana di film-film perang.

Aliran sungai diapit pegunungan karst. /visi.news/mohammad hasyim

Di sepanjang sisi aliran sungai tumbuh pohon bakau, nipah dan sebagainya. Permukaan air sungai ini kabarnya mengikuti permukaan air laut, yang tidak jauh dari kawasan tersebut. Jika permukaan air laut naik, maka naik pula permukaan air sungai. Makanya disarankan berangkat pagi dan pulang sore saat air sungai sedang pasang—untuk menghindari perahu terantuk batu karst.

Terowongan Batu Karst. /visi.news/mohammad hasyim

Setelah menyusuri sungai dari Dermaga 1 menuju Dermaga 3 maka lokasi tujuan akan sampai. Di Dermaga 3 inilah Kampung Berua atau Desa Wisata yang terletak di pegunungan karst itu berada. Untuk mencapai Kampung Berua perlu berjalan kaki sekitar 1 kilometer dengan menyusuri jalanan kayu.

Kampung Berua. /visi.news/mohammad hasyim

Menurut Haji Kama, tour guide yang memandu perjalanan kami, di Kampung Berua hanya tinggal 18 keluarga. Mereka hidup dengan berternak dan bercocok tanam. Selama ini mereka terisolir karena untuk membeli kebutuhan pokok ke luar kampung mereka harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Mulai dari menyewa perahu atau juga ongkos angkutnya.

Baca Juga :  Ingin Terlibat Transformasi Sepak Bola Tanah Air, Legislator Apresiasi Langkah FIFA

Namun seiring berkembangnya pariwisata Kampung Berua di Kawasan Rammang-rammang, karena begitu menariknya pegunungan karst di kawasan itu, maka semakin banyak wisatawan yang datang. Hal ini tentunya berdampak pada kehidupan warga setempat menjadi semakin baik. Ada yang akhirnya membeli perahu untuk disewakan atau membuka warung serta keperluan wisatawan.

Haji Kama menuturkan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno juga pernah berkunjung ke kawasan ini dan memuji keindahan Rammang-rammang. Selain itu hadir pula Rombongan Komisi X DPR RI yang ingin mengenal lebih dekat kawasan wisata Kampung Berua Rammang-rammang.

Kawasan wisata terakhir yang perlu dikunjungi adalah hutan batu gamping atau karst forest. Kawasan ini tidak jauh dari Rammang-rammang, sekitar satu kilometer. Namun keindahan karst forest tidak kalah dibanding Rammang-ramang. Untuk masuk ke kawasan ini pun sangat murah yakni hanya Rp5.000 sebagai retribusi saja.

Karst Forest. /visi.news/mohammad hasyim

Hutan karst terletak di pesawahan. Agak janggal juga bebatuan gamping yang berdiri kokoh—konon terbentuk sejak jutaan tahun lalu—bisa berada di tengah persawahan. Kabarnya batu gamping ini awalnya berada di pinggir pantai, tetapi karena proses abrasi atau penurunan permukaan laut maka kini berada di tengah sawah. Jarak hutan karst ke pesisir pantai sekitar 1 kilometer.

Di hutan karst terdapat gua-gua kecil yang dialasi bambu sebagai jalan untuk melaluinya. Agak menyeramkan juga ketika berada di dalam gua karena cukup gelap dan pengunjung hutan karst tidak banyak. Terlebih ketika dijelaskan bahwa di atap gua terdapat gambar-gambar seperti peninggalan manusia purba, seperti gambar buaya dan ikan.

Pemandangan Karst Forest. /visi.news/mohammad hasyim/istimewa

Namun secara umum karst forest menawarkan spot-spot yang menakjubkan. Menarik untuk didokumentasikan dan layak disebarkan di media sosial karena pemandangannya yang indah dan sulit ditemukan. Menjadi kebanggaan tersendiri bisa berpose dengan latar belakang karst forest.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maros Ferdiansyah, objek-objek wisata di Kawasan Taman Nasional

Bantimurung Bulusaraung menyumbangkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang cukup besar terhadap APBD Kabupaten Maros.
“Sebenarnya kita ingin terus meningkatkan pendapatan dari sektor wisata ini agar dapat mendongkrak APBD Kabupaten Maros. Kita akan terus kembangkan, termasuk itu juga yang dipesankan oleh Mas Menteri (Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno),” kata Ferdiansyah sembari menyebut sektor wisata Bantimurung kini menyumbangkan Rp9 miliar terhadap APBD Kabupaten Maros.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Dalam Upaya Revitalisasi Perdagangan Global, Kementerian Perdagangan RI Luncurkan Digital Expo

Ming Okt 24 , 2021
Silahkan bagikan VISI.NEWS | JAKARTA — Trade Expo Indonesia (TEI) edisi ke-36 hadir di tahap selanjutnya dari pandemi yang telah melumpuhkan ekonomi di lebih dari satu cara. Perdagangan global yang telah menjadi korban utama, telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan dalam beberapa bulan terakhir, dan TEI berupaya memainkan peran dalam memajukan tanda-tanda […]