Search
Close this search box.

Trump: Perang Belum Usai, Ketegangan AS–Iran Memanas

Orang-orang berkumpul di lokasi serangan pesawat tak berawak yang menargetkan sebuah mobil di Corniche Beirut, menyusul eskalasi antara Hizbullah dan Israel di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Beirut, Lebanon, 12 Maret 2026./visi.news/source: Reuters.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Hampir dua pekan sejak pecahnya konflik yang dipicu oleh serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel, kedua pihak justru memberikan sinyal bahwa perang belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa negaranya tidak akan menghentikan operasi militer sebelum tujuan utama tercapai. Dalam sebuah pidato di hadapan pendukungnya pada sebuah acara kampanye di negara bagian Kentucky, Trump menyampaikan bahwa Amerika Serikat telah berada di jalur kemenangan, namun masih harus menuntaskan misi tersebut.

“Kita tidak ingin pergi terlalu cepat, bukan?” kata Trump pada Rabu waktu setempat.

“Kita harus menyelesaikan pekerjaan ini.”

Pernyataan tersebut disampaikan Trump di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang juga berdampak pada stabilitas pasar energi dunia. Konflik yang dimulai dengan serangan udara terhadap sejumlah target di wilayah Iran kini meluas hingga ke Lebanon dan perairan strategis di kawasan Teluk.

Situasi semakin memanas setelah Iran dilaporkan melakukan serangan terhadap sejumlah kapal tanker di perairan Irak serta kapal-kapal lain yang berada di dekat jalur pelayaran penting Selat Hormuz. Jalur laut ini dikenal sebagai salah satu rute utama distribusi minyak dunia, sehingga setiap gangguan di wilayah tersebut langsung memicu kekhawatiran global.

Pemerintah Iran memperingatkan bahwa konflik yang terus berlanjut dapat berdampak besar terhadap harga energi dunia. Teheran bahkan menyebut harga minyak berpotensi melonjak drastis hingga mencapai 200 dolar AS per barel jika situasi tidak segera mereda.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran vital yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan pasar global. Sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Timur Tengah melewati jalur tersebut, sehingga setiap ketegangan militer di kawasan itu berpotensi mengganggu pasokan energi internasional.

Baca Juga :  Jadwal Sholat DKI Jakarta 11 April 2026: Waktu Lengkap & Tips Ibadah

Konflik yang berlangsung hampir dua minggu ini telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Laporan awal menyebutkan sekitar 2.000 orang tewas akibat serangkaian serangan udara dan operasi militer yang terjadi di beberapa wilayah. Sebagian besar korban berasal dari Iran dan Lebanon, dua wilayah yang kini menjadi titik utama dampak perang tersebut.

Selain korban jiwa, dampak perang juga dirasakan oleh kelompok paling rentan, yaitu anak-anak. Lembaga kemanusiaan internasional UNICEF melaporkan bahwa ribuan anak turut menjadi korban konflik yang semakin meluas.

Menurut data lembaga tersebut, lebih dari 1.100 anak dilaporkan tewas atau mengalami luka-luka sejak konflik pecah hampir dua minggu lalu. Situasi ini memicu kekhawatiran komunitas internasional mengenai dampak kemanusiaan yang semakin besar jika perang terus berlanjut.

Konflik tersebut juga berdampak langsung pada sektor transportasi dan energi global. Sejumlah jalur pelayaran mulai mengalami gangguan akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan Teluk, sementara pasar energi dunia mengalami gejolak tajam akibat ketidakpastian pasokan minyak.

Para analis menilai ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memperpanjang ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah. Jika tidak ada upaya diplomasi yang serius dalam waktu dekat, konflik ini dapat berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas.

Di tengah situasi yang semakin kompleks, pernyataan keras dari kedua pihak menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih jauh dari kata dekat. Amerika Serikat menegaskan akan melanjutkan operasi militernya, sementara Iran memperingatkan dampak global yang bisa muncul dari konflik berkepanjangan tersebut.

Selama kedua pihak masih mempertahankan sikap masing-masing, dunia kini menghadapi ketidakpastian baru, baik dari sisi keamanan regional maupun stabilitas ekonomi global. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :