Search
Close this search box.

Trump Ragukan Dukungan Internal Iran untuk Reza Pahlavi di Tengah Gelombang Protes

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan usai wawancara eksklusif dengan Reuters di Ruang Oval Gedung Putih, Washington, Rabu (14/1/2026), membahas situasi Iran, konflik Ukraina, dan dinamika politik global.source:reuters.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan sikap hati-hatinya terhadap tokoh oposisi Iran Reza Pahlavi, meski gelombang protes terus mengguncang pemerintahan ulama di Teheran. Dalam wawancara eksklusif bersama Reuters di Ruang Oval Gedung Putih, Trump mengaku belum yakin Pahlavi mampu menggalang dukungan nyata dari rakyat Iran jika terjadi perubahan kekuasaan.

Trump menilai sosok Pahlavi secara pribadi tidak bermasalah, namun mempertanyakan penerimaan publik Iran terhadap figur yang telah lama tinggal di luar negeri sejak kejatuhan monarki Iran pada 1979.

“Dia terlihat sangat baik, tapi saya tidak tahu bagaimana dia akan diterima di negaranya sendiri,” kata Trump.

“Saya tidak tahu apakah negaranya akan menerima kepemimpinannya, dan tentu saja jika itu terjadi, saya tidak keberatan.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan jarak politik yang dijaga Trump, meski sebelumnya ia beberapa kali mengancam akan turun tangan mendukung para demonstran Iran. Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat belum berada pada fase menentukan figur pemimpin Iran pasca-krisis.

“Kita sebenarnya belum sampai ke titik itu,” ujarnya.

Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Mohammad Reza Pahlavi, kini berusia 65 tahun dan bermukim di Amerika Serikat. Ia kerap muncul sebagai suara oposisi di tengah aksi protes terhadap pemerintahan ulama Iran, yang dilaporkan telah menewaskan ribuan orang akibat tindakan represif aparat. Namun, oposisi Iran masih terpecah ke dalam berbagai faksi ideologis dan dinilai tidak memiliki struktur organisasi yang solid di dalam negeri.

Meski demikian, Trump tidak menutup kemungkinan tumbangnya pemerintahan Teheran akibat tekanan politik dan sosial yang terus meningkat.

“Pemerintahan mana pun bisa gagal,” ujar Trump.

“Apakah itu jatuh atau tidak, ini akan menjadi periode waktu yang sangat menarik.”

Baca Juga :  Kursi Panas di City Ground: Nottingham Forest Kembali Ganti Pelatih di Tengah Ancaman Degradasi

Selain membahas Iran, Trump juga menyinggung konflik Ukraina yang hingga kini belum menemukan titik temu. Ia kembali menyalahkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy sebagai penghambat utama tercapainya kesepakatan damai dengan Rusia, meski mengklaim Presiden Rusia Vladimir Putin siap berunding.

“Putin siap membuat kesepakatan,” kata Trump.

“Masalahnya adalah Zelenskiy.”

Dalam isu domestik, Trump menanggapi santai kritik dari sejumlah senator Partai Republik terkait penyelidikan Departemen Kehakiman terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell. Menurut Trump, para legislator seharusnya mendukung penuh langkah pemerintah.

“Saya tidak peduli. Mereka seharusnya loyal,” tegasnya.

Trump juga menepis pernyataan CEO JPMorgan Jamie Dimon yang menilai campur tangan pemerintah terhadap The Fed berpotensi memicu inflasi.

“Saya tidak peduli apa yang dia katakan,” ujar Trump.

Menutup wawancara, Trump menegaskan optimismenya terhadap kondisi ekonomi Amerika Serikat. Ia mengatakan akan membawa pesan tersebut ke World Economic Forum di Davos, Swiss, pekan depan.

“Saya akan berbicara tentang betapa hebatnya ekonomi kita, seberapa kuat lapangan kerja kita, dan seberapa baik keadaan kita,” katanya.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut Trump dijadwalkan menggelar pertemuan bilateral dengan para pemimpin Swiss, Polandia, dan Mesir selama agenda Davos berlangsung. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :