Tumbangnya Lehman Brothers Jangan Menimpa Perusahaan Indonesia Akibat Pandemi

Editor Ekonom FEB UNS, Lukman Hakim, PhD./visi.news/tok suwarto.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Lukman Hakim, PhD, menyatakan, pemerintah perlu melakukan mitigasi terhadap sektor riil yang terdampak pandemi Covid-19, agar pengalaman tragis tumbangnya perusahaan raksasa Lehman Brothers di AS pada tahun 2008 tidak menimpa perusahaan di Indonesia.

“Di wilayah Surakarta atau Solo Raya saja, saat ini ada 2 perusahaan tekstil besar yang sedang goyang akibat pandemi Covid-19. Kalau kita menggunakan paradigma Indonesia Incorporated, di Surakarta bisa disebut Solo Raya incorporated dan itu adalah tekstil. Masalahnya, saat ini ada dua perusahaan tekstil besar yang terasa bergoyang,” ujarnya, dalam diskusi “Wedangan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNS” bertajuk “Pemulihan Ekonomi di Masa Pandemi”, yang digelar secara daring pada Jumat (18/6/2021) malam.

Mitigasi terhadap sektor riil disebut Lukman sebagai suatu langkah yang penting. Dalam konteks text book, yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan perekonomian nasional sekarang adalah menyiapkan upaya memitigasi mereka sektor riil tersebut.

Dosen FEB UNS itu, menegaskan, kita pasti tidak ingin dua perusahaan tekstil besar di Surakarta yang mempekerjakan ribuan orang, bernasib seperti Lehman Brothers.

Dia menjelaskan, pada 15 September 2008 Lehman Brothers yang merupakan bank investasi terbesar keempat di Amerika Serikat (AS) dinyatakan bangkrut sehingga menjadi pemicu krisis ekonomi dunia.

Kebangkrutan Lehman Brothers, katanya, akhirnya menjalar ke seluruh dunia, mulai dari Eropa, Jepang, Tiongkok, Korea, dan banyak negara yang mengalami dampak cukup parah, termasuk harga saham di pasar modal terjun bebas.

“Ini disebut sebagai ‘too big to fail’. Perusahaan yang sangat besar, kemungkinan bisa jatuh dan itu jadi berbahaya sekali. Kita melihat pengalaman tahun 2008 di AS. Mungkin karena negara yang sangat besar, dia sangat jumawa ketika membiarkan Lehman Brothers tumbang. Tidak pernah ada prediksi bahwa ketika ada lembaga keuangan besar yang tumbang dampaknya luar biasa. Andaikan waktu itu mau di-bailout mungkin selamat,” tutur pakar ekonomi UNS itu lagi.

Baca Juga :  Honai Pintar dari Prajurit Rusa Hitam untuk Warga Papua

Dalam diskusi yang diikuti Rektor UNS, Prof. Jamal Wiwoho, Ketua Dewan Komisioner OJK, Prof. Wimboh Santoso, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Doni Primanto Joewono, dan Ketua Umum Apindo, Dr. Hariyadi Sukamdani, Lukman PhD, mengingatkan, jika perusahaan yang termasuk klasifikasi ‘too big to fail’ tidak segera dimitigasi, dampaknya dikhawatirkan akan merembet dan pemulihannya butuh waktu lama.

“Yang sangat penting dan perlu digaris bawahi, adalah pentingnya disiapkan mitigasi yang ‘too big to fail’ untuk mengantisipasi situasi pandemi yang mungkin akan berlangsung lama. Orang memprediksi, pandemi akhir tahun ini mungkin mereda. Tetapi banyak juga yang prediksi jangan-jangan semakin parah. Di sektor keuangan yang sudah terlanjur bergerak, harus ada solusi yang sifatnya komprehensif,” tandasnya. @tok

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Polisi Berlakukan Penyekatan Kendaraan Menuju Garut

Ming Jun 20 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Kepolisian Resor Garut bersama petugas gabungan lainnya melakukan kembali operasi penyekatan arus kendaraan dari luar kota menuju Kabupaten Garut, Jawa Barat, untuk mengantisipasi penyebaran wabah Covid-19 yang saat ini terjadi peningkatan kasus. “Kami dari Satgas Covid-19 melaksanakan kegiatan penyekatan kendaraan masuk menuju Garut,” kata Kepala Kepolisian Resor […]