UIN Bandung Gelar Workshop Pengembangan Kurikulum Prodi S3 Pendidikan Islam

Editor UIN Bandung menggelar workshop Pengembangan Kurikulum Prodi S3 Pendidikan Islam./visi.news/istimewa.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Program Studi Doktor Pendidikan Islam (S3) Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Workshop Pengembangan Kurikulum bertajuk “Pengembangan Kurikulum Pendidkan Islam S3 Mengacu KKNI Berbasis Wahyu Memandu Ilmu sebagai Upaya Peningkatan Mutu Doktor Pendidikan Islam” di Hotel Shakti, Rabu (7/10).

Prof. Dr. Djam’an Satori, M.A (Guru Besar UPI), Prof. Dr. Muhibbin Syah, M.Ed (Guru Besar UIN SGD, Ketua Prodi Pendidikan Islam S3), Dr. Bambang Samsul Arifin, M.Si (Sekretaris Prodi Pendidikan Islam S3) tampil menjadi narsumber Workshop yang dipandu oleh Dr. Mohammad Erihadiana, M.Pd. Dr. Asep Nursobah, M.Ag, Dr. Hj. Qiqi Yuliati Zakiah, M.Ag, dan dibuka secara langsung oleh Direktur Pascasarjana, Prof. Dr. H. Supiana, M.Ag.

Dalam sambutannya, Direktur Pascasarjana menjelaskan pengembangan kurikulum Prodi S3 Pendidikan Islam harus mengacu kepada KKNI yang didasarkan pada wahyu memandu ilmu dan berusaha untuk memadukan nilai-nilai moderasi beragama.

“Hasil yang diharapkan dari workshop ini dapat melahirkan produk terbaik dengan mengimplementasikan bentuk pengembangan formal kurikulum Pendidikan Islam yang sudah berkembang menjadi tiga konsentrasi. Untuk itu, pengembangan tidak hanya dilakukan pada Disertai, tetapi dalam proses perkuliah mampu memadukan nilai-nilai moderasi beragama, khususnya Islam dalam bidang pendidikan,” tegas Supiana dalam keterangan tertulis yang diterima VISI.NEWS, Kamis (8/10).

Kuncinya Toleransi, Moderasi

Sementara itu, Prof. Dr. Muhibbin Syah, M.Ed menjelaskan workshop diikuti oleh 38 peserta yang terdiri dari unsur Guru Besar, Dosen Homebase pada Prodi Pendidikan Islam S3, Dosen Pascasarjana, Dosen Program Sarjana, mahasiswa, alumni, dan pengguna lulusan.

Menurut Muhbbin, upaya melakukan inovasi kurikulum berbasis moderasi beragama itu caranya dengan pemikiran mengenai program inovasi kurikulum yang ada dengan memasukkan nilai-nilai moderasi beragama yang diharapkan bukan hanya membuat lulusan berilmu dan berketerampilan hebat, melainkan juga berpikir dan berperilaku moderat.

Baca Juga :  Ridwan Kamil: Monumen Gasibu akan Jadi Monumen Pahlawan Covid-19

Kuncinya terletak pada toleransi dan moderasi. Kata toleransi adalah nomina yang berasal dari kata Inggris tolerance yang berarti kelapangan dada atau kesabaran. Kata sifatnya adalah tolerant yang dalam bahasa Indonesia disebut toleran yang berarti menghargai perbedaan. Akar kata tolerance adalah verba to tolerate yang berarti antara lain bersabar menghadapi atau tahan terhadap.

“Orang yang berjiwa toleran adalah orang yang berjiwa legowo dalam arti tidak akan mudah tersinggung apalagi marah saat dikritik oleh orang yang memiliki pandangan, budaya, dan agama yang berbeda dengannya. Sebaliknya, ia akan menghargai perbedaan dan keanekaragaman budaya, mazhab, bahkan agama sebagai realitas yang ada di muka bumi,” jelasnya.

Sedangkan moderasi adalah nomina yang berasal dari kata Inggris moderation. Artinya, sikap yang tidak berlebihan. Kata ini juga dapat berarti sikap yang sedang atau sikap yang sederhana dan tidak ekstrem. Akar kata moderation adalah verba to moderate yang berarti membuat sesuatu tidak berlebihan atau lunak. Selain sebagai verba, (kata kerja), moderate juga merupakan kata benda (nomina) dan kata sifat (adjektiva).

“Orang yang moderat dalam beragama adalah orang yang memiliki ketaatan beragama dengan sikap dan perilaku keberagamaan yang sedang, tidak ekstrem, apalagi radikal,” paparnya.

Moderasi adalah wawasan yang berorientasi pada sikap dan perbuatan yang tidak berlebihan (pertengahan, sedang). Sikap dan perbuatan seperti ini dapat membuat orang menjadi moderat. Orang moderat adalah orang yang berperilaku secukupnya dalam arti tidak kurang dan tidak lebih sehingga kebutuhannya terpenuhi tanpa perlu memubazirkan sesuatu.

Selain itu, orang moderat juga cenderung bersikap dan berbuat adil tidak hanya terhadap diri dan keluarga (kelompoknya), tetapi juga terhadap orang (kelompok) lain meskipun mereka tidak disukai bahkan dibenci. @fen

Baca Juga :  KemenPPA Minta Kasus Pencabulan Balita oleh Kakek Tiri di Grobogan Dihukum Tegas

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Aksi Lanjutan Para Buruh, Polresta Bandung Fokuskan Pengamanan di Tiga Titik

Kam Okt 8 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Rencana aksi lanjutan yang akan digelar oleh para buruh pada hari ini, Kamis (8/10/2020),  berasal dari dua wilayah yakni Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang Jawa Barat. Sebagai langkah antisipasi jajaran Polresta Bandung akan melakukan pengamanan sama seperti. Hal tersebut ditegaskan Kapolresta Bandung Kombespol Hendra Kurniawan. Kata ia, […]