ULAH: Apoteker Timbun Obat Covid, PNS Puskesmas Palsukan PCR

Editor Pekerja menyortir paket obat Covid-19 di salah satu gerai ekspedisi di Jalan K.S Tubun, Petamburan, Jakarta, Senin (19/7/2021)./cnn indonesia/adi maulana/ist.
Silahkan bagikan

– Bahkan, untuk Actemra 80 mg/4 ml dijual dengan harga Rp 40 juta, padahal HET hanya Rp 1.162.200.

VISI.NEWS – Oknum apoteker dan perawat disebut terkait kasus penimbunan dan permainan harga obat terapi Covid-19. Sementara, oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) Puskesmas di Samarinda dibekuk terkait pemalsuan hasil tes swab dan surat vaksin.

Dalam kasus penimbunan obat, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan pihaknya turut menangkap 22 pelaku lain, selain oknum apoteker dan perawat.

“Modus perawat yang bermain dia mengambil sisa obat pasien Covid yang meninggal dunia. Jadi ada pasien Covid yang dirawat kemudian ada pasien yang meninggal dunia obatnya dikumpulkan,” kata Yusri di Polda Metro Jaya, Rabu (4/8/2021), dilansir CNN Indonesia.

Selain mengumpulkan obat sisa, para pelaku juga membeli obat dengan menggunakan resep palsu. Ini bisa dilakukan dengan bantuan dari oknum apoteker tersebut.

Setelah obat terkumpul, para pelaku lalu menjualnya dengan harga tinggi atau di atas harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

“Nanti kalau sudah terkumpul dia mainkan harganya karena kita tahu obat ini sangat diperlukan masyarakat,” ucap Yusri.

Dari tangan para pelaku, polisi berhasil menyita sebanyak 6.964 butir obat dan 27 botol vial obat terapi Covid-19 berbagai merek.

Antara lain, Avigan Favipiravir 200 mg, Actemra 80 mg, Fluvir Oseltamivir 75 mg, Azithromycin 500 mg, serta Ivermectin 12 mg.

Obat itu pun dijual dengan harga yang terbilang tinggi oleh pelaku. Untuk Avigan Favipiravir 200 mg dijual Rp 200 ribu, padahal HET-nya seharga Rp 22.500.

Lalu, Fluvir Oseltamivir 75 mg dijual Rp100 ribu dari HET Rp 26.000, Azithromycin 500 mg dijual Rp13.500 padahal HET Rp1.700, dan Ivermectin 12 mg tablet dijual Rp 75.000 dari HET Rp 7.500.

Baca Juga :  Ketika Desy Ratnasari Diperiksa di Pos Penyekatan, Apa yang Dia Lakukan?

Bahkan, untuk Actemra 80 mg/4 ml dijual dengan harga Rp 40 juta, padahal HET hanya Rp 1.162.200.

Dalam kesempatan yang sama, Diresnarkoba Polda Metro Jaya Kombes Mukti Juharsa menuturkan pihaknya akan berkoordinasi dengan kejaksaan, BPOM, dan Kementerian Kesehatan terkait barang bukti yang disita dari pelaku.

“Agar dapat dilakukan diskresi kepolisian untuk dapat tetap didistribusikan kepada masyarakat dengan harga di bawah HET,” ucap Mukti.

Puluhan pelaku, termasuk oknum apoteker dan perawat ini telah ditetapkan sebagai tersangka.

Mereka dijerat Pasal 196 dan atau Pasal 198 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Pasal 62 juncto Pasal 10 UU Nomor 8 Tahun 1999tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.

Sementara itu, seorang oknum PNS disebut menjadi bagian sindikat pemalsu hasil swab Polymerase Chain Reaction (PCR) dan surat vaksin Covid-19.

Dalam kasus ini, sembilan tersangka ditangkap dalam rentang waktu 29 Juli hingga 2 Agustus.

Wakapolresta Samarinda AKBP Eko Budiarto mengatakan penangkapan itu berdasarkan pengembangan dari laporan petugas Bandara APT Pranoto Samarinda, Kamis (29/7).

“Petugas bandara melakukan pengecekan kelengkapan surat pada tiap calon penumpang pesawat. Pada hari itu, ada satu penumpang yang terbukti membawa surat keterangan vaksin dan surat PCR palsu dengan kode batang yang tidak terdaftar,” katanya, Rabu (4/8/2021).

Dari hasil pemeriksaan penumpang tersebut, ada sembilan orang yang terjaring. Salah satunya berstatus PNS di sebuah puskesmas di Kota Samarinda.

Para pelaku yang diamankan yaitu, Hoiriyeh, M Holik, Hosein, Thoriq, Herdy Saputra, Yudi Adi Riawan, Hamran, Rulian Wardana, dan Sugeng Raharjo.

“Mereka merupakan sindikat pemalsu surat vaksin dan hasil PCR. SR yang merupakan PNS, sengaja mengambil kartu vaksin di meja petugas puskesmas dan menggandakan dalam jumlah banyak kemudian dijual melalui perantara,” jelasnya.

Baca Juga :  Buka Ijtima Ulama Ketujuh, Wapres Ajak MUI Sukseskan Agenda Nasional

Dari sembilan orang yang ditangkap, sebagian merupakan pelaku pemalsu hasil swab PCR dan sisanya adalah pemalsu kartu vaksin. Harga jual surat vaksin dan hasil PCR negatif dibandrol dari 800 ribu hingga 1,2 juta rupiah.

Pelaku dijerat Pasal 236 Ayat 1 dan 2 subsider Pasal 268 Ayat 1 dan 2 KUHP dengan ancaman ema tahun penjara. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kapolda Sumsel Diperiksa Tim Mabes Polri terkait Akidi Tio

Kam Agu 5 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Mabes Polri mengirimkan tim penyelidik internal untuk mendalami polemik dana sumbangan penanganan Covid-19 dari pengusaha Akidi Tio sebesar Rp 2 triliun yang hingga saat ini belum terlihat kejelasan penyerahannya. Kadiv Humas Polri, Inspektur Jenderal Argo Yuwono mengatakan pihaknya bakal memeriksa Kapolda Sumatra Selatan, Irjen Eko Indra Heri […]