Search
Close this search box.

Ulos dan Arsik, Simbol Maaf untuk Jokowi

Rismon./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS | JAKARTA – Pertemuan antara Rismon Hasiholan Sianipar dan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, berlangsung hangat di kediaman pribadi Jokowi di kawasan Sumber, Solo, Jawa Tengah, Kamis (12/3/2026). Dalam pertemuan tersebut, Rismon membawa dua simbol khas budaya Batak: kain ulos dan hidangan tradisional ikan mas arsik.

Kedatangan Rismon tidak sekadar kunjungan biasa. Ia datang untuk menyampaikan permohonan maaf sekaligus penghormatan secara adat kepada Jokowi terkait polemik dugaan ijazah palsu yang sebelumnya sempat mencuat ke publik.

Usai pertemuan, Rismon menjelaskan bahwa pemberian ulos dan arsik memiliki makna mendalam dalam tradisi Batak.

“Tadi kita bawa na niarsik, juga tadi ada ulos,” ujar Rismon kepada awak media.

Ulos sendiri merupakan kain tenun tradisional masyarakat Batak yang kerap digunakan dalam berbagai upacara adat sebagai simbol penghormatan, doa, dan perdamaian. Sementara itu, na niarsik adalah masakan khas Batak Toba berupa ikan mas yang dimasak kering dengan bumbu rempah khas.

Menurut Rismon, kedua benda tersebut ia serahkan sebagai bentuk permintaan maaf sekaligus penghormatan adat kepada Jokowi.

“Istilahnya sebagai upah-upah, artinya kami menganggap Pak Jokowi orang terhormat, untuk perdamaian,” katanya.

Pertemuan itu juga menjadi bagian dari langkah Rismon setelah mengajukan permohonan restorative justice ke Polda Metro Jaya. Dalam kesempatan yang sama, ia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat luas serta kepada Jokowi secara pribadi.

“Tentu saya minta maaf kepada publik, apalagi kepada pihak terkait seperti Bapak Joko Widodo,” tutur Rismon.

Sebelumnya, Rismon sempat merilis analisis yang menyinggung dugaan manipulasi digital pada dokumen ijazah Jokowi. Namun setelah melakukan penelitian lanjutan, ia menyatakan tidak menemukan kejanggalan pada dokumen tersebut.

Baca Juga :  Jelang Laga Krusial, Hodak Ingatkan Ancaman Bali United

“Tidak ada manipulasi digital seperti yang saya simpulkan pada buku Jokowi’s White Paper. Artinya apa? Keasliannya terjaga,” kata Rismon.

Pertemuan yang diwarnai simbol adat ini pun menjadi penanda meredanya polemik yang sempat ramai diperbincangkan publik, sekaligus menunjukkan bagaimana nilai-nilai budaya digunakan sebagai jembatan untuk memulihkan hubungan. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :